Awalnya, aku sama sekali tidak pernah membayangkan kalau suatu hari nanti aku akan menikah dengan temanku sendiri. Kalau diingat-ingat sekarang, rasanya lucu, bahkan sedikit menggelikan. Dari sekian banyak teman yang ada saat itu, siapa sangka justru dia yang akhirnya menjadi pasangan hidupku.
Kalau mengingat masa-masa pertemanan kami, rasanya memang tidak ada yang benar-benar menyangka kami bisa sedekat ini. Dari yang awalnya hanya teman, lalu menjadi pasangan, hingga akhirnya berdiri bersama di pelaminan.
Tapi semua itu bukan perjalanan yang singkat. Sebelum berpacaran, kami sudah berteman selama dua tahun. Waktu itu kami sudah cukup mengenal satu sama lain. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil, sifat yang kadang menyebalkan, sampai hal-hal yang mungkin akan terasa memalukan kalau baru diketahui saat sudah pacaran. Justru karena sudah berteman lebih dulu, semuanya terasa begitu biasa.
Lima tahun setelahnya kami menjalani hubungan sebagai pasangan. Lima tahun yang membuat kami semakin mengenal satu sama lain, bukan hanya dari sisi baiknya, tapi juga belajar menerima kekurangan, memahami cara berpikir, dan tumbuh bersama dalam setiap proses kehidupan.
Entah kenapa, sejak awal hubungan kami tidak pernah terlalu sibuk membahas tentang indahnya masa pacaran. Sebagian besar obrolan kami justru selalu tentang masa depan. Tentang kuliah, pekerjaan, mimpi-mimpi yang ingin kami capai, sampai kehidupan seperti apa yang ingin kami bangun nanti. Kami bahkan punya satu moto sederhana, Together Better, Be Forever.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tapi buat kami artinya besar. Itu seperti pengingat kalau selama kami berjalan bersama, kami ingin terus bertumbuh, saling mendukung, dan mengejar mimpi tanpa harus meninggalkan satu sama lain.
Sampai akhirnya, kami tiba di satu titik ketika hubungan ini tidak lagi hanya tentang menjalani hari demi hari bersama. Memutuskan menikah di usia 25 tahun tentu bukan keputusan yang mudah. Apalagi kami sama-sama bekerja di Jakarta. Di lingkungan kami, usia segitu masih dianggap terlalu muda untuk menikah. Banyak teman yang memilih fokus membangun karier, memperbaiki kondisi finansial, melanjutkan kuliah, atau menikmati hidup dulu sebelum akhirnya memutuskan berumah tangga.
Tapi entah kenapa, kami justru merasa sudah siap.
Mungkin karena kami sudah saling mengenal selama tujuh tahun. Waktu yang cukup untuk membuatku yakin bahwa menikah bukan berarti harus berhenti mengejar mimpi. Justru kami percaya, setelah menikah kami akan tetap menjadi dua orang yang saling mendukung untuk tumbuh, mengejar cita-cita, dan berjalan menuju tujuan yang sama.
Kalau bicara soal finansial, tentu di usia 25 tahun kami belum punya banyak hal. Kami hanyalah dua orang perintis, bukan pewaris. Tapi justru dari situlah semangat kami muncul.
Kami mulai menabung bersama untuk biaya pernikahan. Hampir 50 sampai 70 persen gaji kami sisihkan setiap bulan karena kami ingin mewujudkan pernikahan itu dengan usaha kami sendiri, tanpa terlalu membebani orang tua.
Sebenarnya, kami sempat ingin mengadakan resepsi yang sederhana. Konsep intimate wedding dengan jajanan favorit di setiap sudut ruangan rasanya sudah lebih dari cukup buat kami. Tapi karena keluarga kami sama-sama besar, dan kami juga ingin membahagiakan mereka, akhirnya kami memilih mengadakan resepsi yang tetap sesuai kemampuan, sederhana, tetapi tetap layak dan berkesan.
Pernikahan kami berlangsung di masa pandemi, dan kurasa itu akan selalu menjadi cerita yang tidak akan pernah kami lupakan.
Saat ijab kabul kami harus memakai masker. Banyak tamu juga mengenakan face shield. Belum lagi berbagai aturan yang harus dipenuhi, mulai dari mengurus izin keramaian, pembatasan jumlah tamu, sampai berbagai syarat lainnya.
Jujur, waktu itu aku sempat merasa cukup stres.
Baru saat itulah aku sadar kalau mempersiapkan pernikahan ternyata jauh lebih panjang daripada yang selama ini kubayangkan. Mengurus seserahan, mas kawin, pemeriksaan kesehatan, administrasi KUA, urusan pakaian keluarga, katering, susunan acara, sampai memastikan semua vendor bekerja sesuai rencana. Belum lagi berbagai pendapat dari keluarga yang kadang membuat pikiran terasa semakin penuh.
Tapi pada akhirnya aku memilih untuk tidak terlalu larut dalam semua itu. Aku hanya terus mengingat bahwa hari itu adalah hari yang sangat sakral. Hari yang akan kami kenang seumur hidup.
Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan baik. Tentu ada cerita, ada drama kecil, ada omongan orang yang tidak bisa dihindari. Tapi syukurnya, semua itu tidak mengurangi rasa bahagia kami.
Setelah menikah, kami kembali memulai semuanya dari nol.
Dan anehnya, aku justru sangat menikmati fase itu.
Mungkin karena hubungan kami tidak pernah berubah sepenuhnya menjadi hubungan suami istri yang kaku. Persahabatan kami tetap ada sampai sekarang.
Ada waktunya kami membahas rumah tangga dengan serius. Tentang pekerjaan, tabungan, target hidup, sampai rencana-rencana beberapa tahun ke depan. Tapi ada juga saat kami bercanda seperti dulu, saling meledek tanpa henti, bahkan lupa kalau sekarang kami sudah berstatus suami istri.
Kalau sedang berkumpul dengan teman-teman lama pun rasanya tidak banyak yang berubah. Kami tetap menjadi dua orang yang dulu saling berteman, hanya saja sekarang pulangnya ke rumah yang sama.
Kurasa, itulah yang membuat pernikahan kami terasa ringan. Tidak kehilangan rasa hormat sebagai pasangan, tapi juga tidak kehilangan kenyamanan sebagai seorang sahabat.
Semakin lama menjalani pernikahan, aku semakin sadar kalau menikah bukan hanya tentang mencintai pasangan.
Menikah berarti belajar menerima seluruh cerita yang ada dalam dirinya. Belajar memahami masa lalunya, keluarganya, cara ia dibesarkan, kebiasaan-kebiasaannya, cara berpikirnya, bahkan suasana hatinya yang kadang berubah tanpa alasan yang kita mengerti.
Tentu kami tidak selalu sejalan. Ada perbedaan pendapat, ada salah paham, ada juga pertengkaran-pertengkaran kecil. Tapi setiap kali itu terjadi, kami selalu kembali pada satu kebiasaan yang sejak dulu tidak pernah berubah.
Mengobrol.
Tentang apa saja.
Tentang hal-hal besar yang menyangkut masa depan, sampai cerita-cerita kecil yang mungkin terdengar sepele bagi orang lain.
Karena semakin lama aku menjalani pernikahan ini, semakin aku percaya bahwa yang membuat sebuah hubungan bertahan bukan hanya rasa cinta.
Tetapi obrolan yang tidak pernah putus, kemauan untuk saling mendengarkan, saling mengingatkan, saling menguatkan, dan keyakinan bahwa kami sedang berjalan menuju tujuan yang sama.
Mungkin itulah yang paling aku syukuri.
Aku tidak hanya menikahi seseorang yang kucintai, tetapi juga sahabat terbaik yang sudah mengenalku jauh sebelum kata "sayang" hadir di antara kami.
Dan pada akhirnya aku mengerti, kenapa lagu Teman Tapi Menikah selalu terasa begitu dekat dengan cerita kami.
Sadarku akan hadirmuMengubah jalan hidupkuKau s'lalu ada untukku menjadi teman baikkuSemua mungkin pernah merasaApa yang aku rasaSayang dengan teman yang s'lama ini ada.
Karena mungkin, tidak semua orang diberi kesempatan untuk jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri.
Sedangkan aku, menjadi salah satu orang yang beruntung bisa mengalaminya.
Berawal dari dua orang teman yang saling mengenal, saling bertumbuh, lalu saling memilih untuk menjalani hidup bersama.
Teman, lalu menjadi pasangan. Dan akhirnya, benar-benar menjadi Teman Tapi Menikah.


0 comments:
Posting Komentar