Megumi: Dunia yang Hanya Berputar Tentangnya
Kali ini aku ingin memulai cerita dengan mengenalkan seseorang yang sampai sekarang masih sering menjadi topik obrolan setiap kali kami berkumpul. Bukan karena kami ingin terus mengungkit masa lalu, tetapi karena ada begitu banyak kejadian, pelajaran, dan dinamika yang pernah mewarnai persahabatan kami bersamanya.
Sebut saja namanya Megumi—tentu bukan nama sebenarnya.
Megumi adalah salah satu teman yang sempat menjadi bagian dari geng kami di pertengahan masa SMA. Kesan pertamaku tentangnya sebenarnya cukup baik. Ia ramah, mudah bergaul, dan di beberapa kesempatan justru terlihat sebagai orang yang paling perhatian. Namun, semakin lama kami mengenalnya, ada beberapa sikap yang perlahan membuat sebagian dari kami merasa kurang nyaman. Saat itu kami masih remaja. Mungkin cara kami memandang sesuatu juga belum sebijak sekarang.
Saat itu Megumi sangat dekat dengan salah satu sahabat kami, Tara. Di antara kami berenam Tara memang menjadi orang yang paling akrab dengannya. Mereka sering memakai jaket yang sama, menggunakan aksesori serupa, bahkan sesekali menata rambut dengan gaya yang mirip. Melihat kedekatan mereka awalnya bukanlah masalah. Kami justru ikut senang karena Tara menemukan teman yang begitu dekat dengannya.
Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu dari kami mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda. Kedekatan Megumi denganya terkadang terasa begitu eksklusif, seolah tanpa sadar ia ingin selalu menjadi orang yang paling dekat dengannya. Mungkin itu hanya perasaan kami saat itu, tetapi suasana yang biasanya terasa ringan perlahan berubah.
Kalau dipikir sekarang memang terdengar lucu. Masa iya, dalam sebuah persahabatan bisa muncul rasa cemburu? Tapi mungkin bukan cemburu dalam arti sebenarnya. Lebih tepatnya, kami takut kehilangan ruang nyaman yang selama ini kami miliki bersama.
Kalau boleh jujur, mungkin akulah yang paling cepat menyadari perubahan itu. Entah kenapa, sejak awal selalu ada perasaan yang sulit dijelaskan setiap kali bersama Megumi. Bukan karena satu kejadian besar, melainkan kumpulan hal-hal kecil yang lama-kelamaan membuatku merasa kurang nyaman.
Misalnya, ada beberapa kali kami merasa Megumi berusaha mendekati cowok yang diam-diam sedang disukai salah satu dari kami. Padahal saat itu ia sendiri pernah menjalin hubungan dengan beberapa teman di circle pertamanan kami. Mungkin baginya itu bukan sesuatu yang berarti, tetapi dari sudut pandang kami saat itu, sikap tersebut cukup membuat kami bertanya-tanya.
Aku juga masih ingat ketika Tara mulai berpacaran dengan Pras. Sebagai pasangan baru, tentu mereka ingin menikmati waktu berdua. Namun, pernah ada momen ketika Megumi ingin ikut pulang bersama mereka, bahkan berharap bisa berjalan bertiga. Sekarang jika mengingatnya rasanya lucu, tetapi saat itu kami benar-benar dibuat bingung dengan situasi tersebut.
Bukan hanya soal itu.
Ada kalanya Megumi juga terlihat sangat bersemangat ketika menjadi pusat perhatian. Sekarang aku sadar, mungkin setiap orang memang memiliki cara yang berbeda untuk merasa diterima. Hanya saja, waktu itu kami sering kali merasa suasana berubah setiap kali perhatian mulai terpusat kepadanya. Perasaan itulah yang perlahan membuat sebagian dari kami mulai menjaga jarak.
Aku sendiri mungkin termasuk orang yang paling sulit menyembunyikan perasaan. Kalau ada sesuatu yang mengganjal, biasanya akan terlihat dari sikapku. Karena itu, beberapa teman juga sudah lebih dulu menyadari kalau aku memang kurang cocok dengan Megumi.
Bukan berarti aku membencinya.
Aku hanya merasa kami memiliki cara yang berbeda dalam memandang sebuah pertemanan.
Perasaan itu semakin terasa ketika kami mengikuti organisasi bersama. Hampir semua teman dekat kami bergabung di sana, termasuk Megumi. Suatu hari kami berencana membersihkan ruangan bersama-sama. Anehnya, sebelum kegiatan dimulai, beberapa dari kami sempat berharap Megumi tidak datang.
Kalau dipikir sekarang, mungkin terdengar jahat.
Padahal bukan karena kami tidak ingin melibatkannya. Kami hanya merasa setiap kali Megumi ikut, suasana yang biasanya santai berubah menjadi sedikit canggung. Ia sering kali terlalu bersemangat mengatur ini dan itu, sementara kami lebih menikmati bekerja sambil bercanda. Akibatnya, semangat kami justru perlahan menghilang.
Yang paling membuatku tidak enak adalah Tara.
Karena Tara datang bersama Megumi hari itu, tanpa sadar kami pun menjadi sedikit lebih dingin. Bukan kepada Tara, melainkan kepada situasi yang saat itu sedang kami rasakan. Sampai sekarang, kalau mengingat momen itu, aku masih merasa bersalah. Tara sama sekali tidak berada di posisi yang mudah. Di satu sisi ia adalah sahabat kami, tetapi di sisi lain ia juga sangat dekat dengan Megumi.
Mungkin saat itu, dialah orang yang paling bingung di antara kami semua.
Akhirnya kami memutuskan untuk berbicara dari hati ke hati.
Pernah suatu hari, kami melakukan deep talk yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas. Aku, bersama dua sahabat lainnya, menjadi orang yang paling vokal menyampaikan isi hati kami.
Aku bahkan menangis.
Bukan karena membenci Megumi. Justru sebaliknya. Aku menangis karena takut kehilangan persahabatan yang selama ini kami bangun. Aku merasa kami sudah tidak bisa menjadi diri sendiri ketika Megumi ada di tengah-tengah kami.
Sementara itu, Tara masih belum bisa memahami apa yang kami rasakan. Wajar saja. Selama ini Megumi memperlakukan Tara dengan sangat baik, sehingga apa yang kami alami tentu berbeda dengan apa yang Tara rasakan.
Dan mungkin memang saat itu belum waktunya Tara mengerti.
Kami pun memilih menjalani semuanya seperti biasa, sambil berharap waktu akan membantu kami menemukan jawabannya.Meski begitu, tetap saja ada beberapa kejadian yang membuat perasaan kami kembali terusik.
Salah satunya adalah saat aku sempat berselisih paham dengan Megumi. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin penyebabnya bukan sesuatu yang besar. Kami sama-sama masih remaja, sama-sama memiliki ego yang cukup tinggi. Aku sendiri sadar, sejak dulu aku termasuk orang yang cukup ekstrover. Aku senang bercanda, mudah bergaul, dan sering kali menjadi orang yang mencairkan suasana ketika kami sedang berkumpul.
Sementara Megumi memiliki caranya sendiri untuk hadir di tengah pertemanan.
Entah hanya perasaanku atau memang kenyataannya seperti itu, tetapi setiap kali suasana sedang ramai dan penuh tawa, aku sering merasa ia ingin mengambil alih perhatian. Bukan sekali dua kali aku merasakan hal itu. Lama-kelamaan, aku justru menjadi tidak sebebas biasanya ketika ia ada bersama kami.
Padahal di dalam persahabatan kami semua punya tempat masing-masing.
Ada yang selalu menjadi andalan saat kegiatan Pramuka, ada yang membawa warna berbeda lewat kecintaannya pada anime dan budaya Jepang, ada yang paling diandalkan dalam tugas dan selalu berprestasi, ada yang menjadi tempat bercerita ketika kami punya masalah, dan ada pula yang selalu berhasil membuat kami tertawa lewat celetukannya. Kami tidak pernah merasa perlu untuk menjadi yang paling hebat, karena justru perbedaan kecil itulah yang membuat kami saling melengkapi dan merasa cocok satu sama lain.
Sampai hari ini aku masih percaya, mungkin memang semesta punya caranya sendiri untuk memperlihatkan sesuatu yang selama ini tidak kami sadari.
Suatu hari, Tara membaca selembar kertas yang berisi pendapat teman-teman tentang kepribadian masing-masing. Kertas itu dibuat sebagai bagian dari salah satu kegiatan sekolah. Awalnya tidak ada yang terasa istimewa, sampai Tara menyadari bahwa salah satu tulisan di sana sangat ia kenali.
Itu tulisan tangan Megumi.
Dengan rasa penasaran, Tara membacanya perlahan.
Di sana tertulis bahwa menurut Megumi, Tara adalah orang yang selalu ingin menjadi nomor satu dalam segala hal. Ia merasa dirinya hanya menjadi bayang-bayang Tara dan sering kali kalah bersinar ketika berada di dekatnya.
Saat Tara menceritakan isi kertas itu kepada kami, suasana mendadak hening.
Bukan karena kami merasa Megumi salah.
Bukan juga karena Tara benar.
Tetapi karena untuk pertama kalinya kami menyadari bahwa selama ini kami memandang hubungan itu dengan cara yang sangat berbeda.
Bagi Tara, Megumi adalah sahabat yang selalu ingin ia rangkul.
Namun, dari tulisan itu kami menangkap bahwa di hati Megumi mungkin tersimpan perasaan lain yang selama ini tidak pernah ia ungkapkan. Bisa jadi ia merasa dibanding-bandingkan. Bisa jadi ia merasa harus bersaing. Atau mungkin ia hanya sedang berusaha mencari pengakuan dengan caranya sendiri.
Kami tidak pernah benar-benar tahu.
Yang kami tahu, sejak hari itu semuanya berubah.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada saling menyalahkan.
Tidak ada perpisahan yang dramatis.
Kami hanya perlahan berjalan ke arah yang berbeda.
Megumi mulai memiliki lingkaran pertemanannya sendiri, sementara kami kembali menjalani hari-hari bersama.
Anehnya, setelah itu suasana yang dulu sempat terasa canggung perlahan kembali hangat. Kami bisa bercanda tanpa ada rasa sungkan. Kami bisa menjadi diri sendiri tanpa merasa harus menjaga sesuatu.
Mungkin terdengar egois jika aku mengatakannya.
Tetapi sampai hari ini aku sering bertanya-tanya, bagaimana jadinya kalau Megumi tetap menjadi bagian dari geng kami?
Apakah persahabatan kami akan tetap bertahan selama ini?
Sampai saat ini aku bersyukur karena ketidakhadiran Megumi bersama kami membuat persahabatan kami tetap utuh terbukti sudah ima belas tahun berlalu, kami masih berdiri di tempat yang sama—saling mendukung, saling menguatkan, dan tetap menjadi tempat berbagi cerita dalam setiap fase kehidupan. Mungkin kami tidak lagi selalu bersama seperti dulu di ruang kelas itu, tetapi ikatan yang terbentuk sejak masa putih abu-abu masih tetap ada, menemani setiap suka dan duka yang kami lewati.





