Dibalik Meja Redaksi Pers Mahasiswa
Bagaimana rasanya mendapatkan ilmu dari dua jurusan yang berbeda dalam satu masa perkuliahan? Itulah pengalaman yang aku rasakan selama menjalani kuliah S1 Teknik Informatika. Ketika sebagian besar teman-temanku fokus mendalami dunia teknologi, aku justru menemukan “jurusan kedua” melalui LPM Suaka. Di tempat inilah aku belajar sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya: dunia jurnalistik.
Entah kenapa, sejak awal ada sesuatu yang membuatku tertarik dengan Suaka. Saat pertama kali mencari informasi tentang kampus, justru portal berita Suaka Online yang berhasil mencuri perhatianku. Sebuah media yang dikelola oleh mahasiswa, tetapi terlihat begitu serius dan penuh semangat dalam menghadirkan tulisan-tulisan jurnalistik.
Saat itu aku langsung berpikir, “Aku harus bisa menjadi bagian dari tempat ini.”
Ternyata keinginanku tidak langsung terwujud dengan mudah. Untuk bergabung dengan Suaka, aku harus melewati proses seleksi bersama banyak mahasiswa lain yang juga memiliki harapan yang sama. Tantangannya semakin besar karena aku harus mempelajari dunia yang benar-benar berbeda dari bidang yang selama ini kupilih.
Aku masih ingat, aku harus menjalani masa magang selama satu semester bersama puluhan mahasiswa lainnya. Kami semua sama-sama berusaha membuktikan diri agar bisa diterima menjadi anggota Suaka. Selama masa magang itu, kami diberikan berbagai tugas, mulai dari mencari berita untuk portal Suaka Online hingga membuat tabloid khusus anak magang.
Salah satu tantangan terbesar yang aku rasakan saat itu adalah ketika harus menulis artikel feature. Aku mendapatkan bagian di rubrik Laporan Khusus yang membahas polemik mengenai kehadiran dosen dan uang makan mahasiswa.
Bersama tim, aku mulai belajar melakukan liputan dari awal. Kami mendatangi berbagai narasumber, mewawancarai dosen, mencari informasi dari pihak kampus, hingga mencoba menemukan sudut pandang terbaik agar isu tersebut bisa disampaikan dengan baik kepada pembaca.
Jujur, saat itu aku masih sangat awam dengan dunia penulisan panjang. Aku belum benar-benar memahami bagaimana cara menemukan keresahan yang bisa dikembangkan menjadi sebuah tulisan. Rasanya banyak sekali hal yang harus dipikirkan, sampai beberapa kali aku merasa kepalaku penuh dan ingin menyerah.
Apalagi dalam liputan tersebut aku dipercaya menjadi penulis utama. Teman-teman lain lebih banyak bertugas mencari data dan melakukan wawancara, sedangkan aku harus mengolah semua informasi itu menjadi sebuah tulisan yang utuh.
Aku masih ingat bagaimana salah satu senior memberikan kritik yang cukup keras terhadap tulisanku. Beliau mengatakan bahwa tulisanku masih belum cukup baik, bahkan sempat berkata, “Tulisanmu masih seperti anak SD.”
Saat itu rasanya tentu sakit mendengar kalimat tersebut. Namun, justru dari kritik yang tajam itulah aku mulai belajar lebih serius. Aku mulai memahami bagaimana membedah sebuah tulisan, menemukan ide utama, membangun alur cerita, menentukan pesan yang ingin disampaikan, dan memastikan setiap kalimat tetap berdasarkan fakta serta hasil riset.
Aku juga masih ingat bagaimana kami para anak magang sering begadang hingga tengah malam demi menyelesaikan tabloid pertama kami. Di tengah rasa lelah, ada rasa bangga karena kami sedang membuat sesuatu yang benar-benar berasal dari kerja keras bersama.
Dari sana aku mulai sadar, jika nanti berhasil menjadi bagian dari Suaka, perjalanan ini pasti akan jauh lebih menantang.
Setelah tabloid magang selesai, tibalah saat yang paling menentukan. Dari puluhan mahasiswa yang mengikuti proses magang, hanya sekitar 20 orang yang akhirnya dinyatakan lolos menjadi anggota Suaka. Aku menjadi salah satu dari mereka.
Tentu saja rasanya sangat senang. Ada rasa bangga karena perjuangan selama satu semester akhirnya membuahkan hasil. Namun, kebahagiaan itu ternyata hanya menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang.
Setelah resmi menjadi anggota, aku baru menyadari bahwa tanggung jawab di Suaka jauh lebih besar dibandingkan saat masih menjadi anak magang. Bahkan ketika libur kuliah, aku tetap sering menghabiskan waktu di kampus untuk mengikuti berbagai kegiatan dan menyelesaikan program kerja yang seolah tidak pernah ada habisnya.
Selama menjadi staf redaksi, aku mendapatkan banyak kesempatan untuk menulis berbagai jenis artikel, baik untuk Suaka Online maupun tabloid kampus. Salah satu hal yang paling membuatku bangga adalah ketika aku berhasil mengusulkan sebuah rubrik baru bernama TeknoFresh.
Sebelumnya, rubrik teknologi belum pernah hadir di tabloid Suaka. Aku merasa sayang jika ilmu yang kupelajari di Teknik Informatika hanya berhenti di ruang kelas. Aku ingin membawa dunia teknologi lebih dekat kepada mahasiswa melalui tulisan yang lebih ringan dan mudah dipahami.
Melalui rubrik ini, aku bisa menggabungkan dua hal yang awalnya terasa berbeda: teknologi dan jurnalistik.
Salah satu artikel yang pernah kutulis membahas tentang angkot feeder. Saat itu, ada seorang kakak tingkat yang berhasil membuat aplikasi Android untuk mengenali rute angkot menggunakan teknologi pengenalan objek berdasarkan warna kendaraan.
Cara kerjanya cukup menarik. Pengguna hanya perlu mengarahkan kamera ke angkot, kemudian aplikasi akan mengenali warna kendaraan tersebut dan memberikan informasi mengenai rute yang dilalui. Bagi mahasiswa Informatika, teknologi seperti ini tentu sangat menarik untuk dibahas, apalagi pada masa itu penggunaan teknologi pengenalan objek masih menjadi sesuatu yang cukup baru dan menarik perhatian.
Selain itu, aku juga pernah menulis tentang aplikasi Penjadwalan Solat yang dikembangkan oleh mahasiswa Informatika, serta berbagai perkembangan teknologi lainnya. Melalui TeknoFresh, aku merasa menemukan ruang untuk memperkenalkan dunia teknologi kepada pembaca dengan cara yang lebih sederhana.
Aku belajar bahwa tulisan teknologi tidak harus selalu penuh dengan istilah rumit. Justru tantangannya adalah bagaimana menjelaskan sesuatu yang kompleks menjadi cerita yang mudah dipahami oleh banyak orang.
Selain mengurus rubrik teknologi, aku juga pernah mengisi rubrik Kampusiana. Rubrik ini berisi kisah-kisah menarik tentang mahasiswa maupun civitas akademika yang memiliki prestasi atau cerita inspiratif.
Salah satu liputan yang paling kuingat adalah ketika aku berkesempatan meliput atlet bulu tangkis kampus. Dari pengalaman itu aku semakin memahami bahwa menjadi jurnalis bukan hanya tentang menulis sebuah artikel.
Ada banyak proses di balik sebuah tulisan. Mulai dari mencari ide, menghubungi narasumber, membangun komunikasi, menggali informasi lebih dalam, hingga menemukan sisi menarik dari seseorang yang mungkin sebelumnya tidak banyak diketahui orang lain.
Dari setiap liputan, aku belajar bahwa setiap orang sebenarnya memiliki cerita. Tugas seorang penulis adalah menemukan cerita tersebut dan menyampaikannya dengan cara yang bisa menyentuh pembaca.
Selama satu periode menjadi staf redaksi, kemampuan menulisku berkembang sangat jauh. Aku mulai lebih percaya diri dalam menyusun artikel, memilih sudut pandang, hingga mengolah informasi menjadi tulisan yang lebih menarik.
Menjelang akhir kepengurusan, kami memiliki program menerbitkan majalah tahunan. Saat itu aku kembali mendapatkan kesempatan untuk mengisi rubrik teknologi.
Aku memilih mengangkat komunitas robotika di fakultasku yang saat itu sedang cukup populer. Untuk membuat tulisan tersebut, aku harus mengenal komunitas itu lebih dekat dan melakukan wawancara dengan salah satu dosen yang sampai sekarang masih sangat kukagumi, yaitu Pak Mada Sanjaya.
Saat itu beliau menjadi salah satu sosok yang banyak mengembangkan dunia robotika di kampus. Beliau tidak hanya membimbing mahasiswa dalam penelitian dan tugas akhir, tetapi juga aktif mengenalkan robotika kepada berbagai sekolah.
Menariknya, menulis artikel untuk majalah memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan artikel biasa yang lebih singkat, tulisan majalah membutuhkan pembahasan yang lebih panjang dan mendalam.
Untungnya, topik yang kuangkat masih berada dalam bidang yang cukup kupahami. Hal itu membuatku lebih mudah menjelaskan berbagai konsep teknologi kepada pembaca dengan bahasa yang lebih sederhana.
Liputan tentang komunitas robotika itu menjadi salah satu tulisan yang paling berkesan bagiku. Dari sana aku semakin menyadari bahwa pengalaman di Suaka tidak hanya mengajarkanku cara menulis, tetapi juga cara memahami sebuah bidang lebih dalam sebelum membagikannya kepada orang lain.
Satu tahun penuh berada di Suaka benar-benar menjadi perjalanan belajar yang luar biasa bagiku. Kadang aku berpikir, jika semua ilmu yang kudapatkan di sana dihitung sebagai mata kuliah, mungkin sudah setara dengan beberapa SKS jurnalistik.
Di Suaka aku belajar banyak hal yang sebelumnya sama sekali tidak pernah kupelajari di bangku kuliah Teknik Informatika. Aku belajar memahami berbagai jenis tulisan, mulai dari straight news, feature, hingga in-depth reporting. Aku juga belajar bagaimana menulis dengan gaya yang lebih ringan melalui rubrik TeknoFresh agar informasi teknologi bisa lebih mudah diterima oleh mahasiswa.
Namun ternyata, pengalaman di Suaka tidak hanya mengajarkanku tentang dunia kepenulisan.
Aku juga belajar tentang bagaimana sebuah media bisa bertahan dan berkembang. Sebagai organisasi mahasiswa yang mengelola tabloid, majalah, dan portal berita sendiri, kami harus memikirkan banyak hal, termasuk mencari sponsor dan pengiklan.
Kami belajar bagaimana menawarkan media kepada calon pengiklan, memperkenalkan produk yang kami buat, memasarkan tabloid, hingga menjual majalah kepada pembaca. Dari sana aku mulai memahami bahwa di balik sebuah karya jurnalistik, ada banyak proses lain yang harus dipikirkan agar karya tersebut bisa terus berjalan.
Hampir setiap hari selalu ada kegiatan. Mulai dari rapat evaluasi, menyusun agenda organisasi, membahas ide liputan, hingga merancang program kerja berikutnya.
Kadang rasanya melelahkan. Ada saat ketika tugas kuliah, tanggung jawab organisasi, dan berbagai pekerjaan redaksi datang bersamaan. Namun, di balik semua kesibukan itu, ada satu hal yang membuat perjalanan ini terasa menyenangkan: kebersamaan.
Di Suaka aku bertemu dengan banyak orang dari berbagai jurusan dan latar belakang. Aku belajar memahami karakter yang berbeda-beda, belajar bekerja sama dengan orang yang memiliki cara berpikir yang tidak selalu sama denganku, hingga akhirnya kami merasa seperti sebuah keluarga karena sama-sama berjuang membangun sesuatu yang kami cintai.
Masa satu tahun pertama di Suaka menjadi salah satu periode yang paling banyak memberikan warna dalam perjalanan kuliahku. Meskipun begitu, aku tetap berusaha menjaga tanggung jawab sebagai mahasiswa Teknik Informatika dan tetap mempertahankan prestasi akademikku.
Dari pengalaman itu aku belajar bahwa kesibukan bukan berarti menjadi penghalang untuk berprestasi. Justru ketika kita mampu mengatur waktu dengan baik, kita bisa menemukan kemampuan diri yang sebelumnya mungkin tidak pernah kita sadari.
Tentu saja tidak selalu mudah. Ada banyak hari ketika tubuh terasa lelah, pikiran penuh, dan rasanya ingin berhenti sejenak. Namun, setiap tanggung jawab yang dijalani selalu memberikan pelajaran baru.
Anehnya, di tengah semua kesibukan dan rasa lelah itu, aku justru merasa benar-benar menikmati masa tersebut. Aku merasa sedang bertumbuh, mencoba hal baru, dan mengenal sisi lain dari diriku yang sebelumnya tidak pernah aku tahu.
Hingga hari ini, aku tidak pernah menyesal pernah menjadi bagian dari Suaka.
Bagiku, Suaka bukan hanya sebuah organisasi kampus. Suaka adalah tempat di mana aku menemukan pengalaman baru, bertemu orang-orang hebat, belajar keluar dari zona nyaman, dan mendapatkan ilmu yang mungkin tidak akan pernah aku dapatkan jika hanya fokus pada jurusan kuliahku.
Perjalanan itu mungkin hanya berlangsung satu tahun, tetapi pelajaran yang diberikan akan selalu melekat. Karena pada akhirnya, Suaka bukan hanya mengajarkanku cara menulis sebuah berita, tetapi juga mengajarkanku cara melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas.
Dan sampai kapan pun, menjadi bagian dari Suaka akan selalu menjadi salah satu cerita paling berharga dalam perjalanan hidupku.





