Tentang Sepuluh Anak, Sebuah Kota, dan Keberanian yang Lahir dari Rasa Penasaran
Tanggal 4 April 2014 kala itu menjadi hari yang bersejarah bagi kami, sepuluh orang anak sekolah yang baru saja dinyatakan lulus. Di sudut kecil perpustakaan sekolah kami duduk bersama dan mulai menggagas sesuatu. Saat itu media sosial belum seramai sekarang, dan artikel di web masih menjadi sumber informasi yang cukup digemari. Dari obrolan yang awalnya hanya iseng, muncul keinginan yang perlahan terasa serius: kami ingin berkarya.
Kami ingin membuat media. Tapi tentang apa?
Setelah berpikir cukup lama, kami sepakat menulis hal-hal yang paling dekat dengan kami dan masyarakat sekitar. Kota ini. Sukabumi.
Nama pun menjadi bahan diskusi yang cukup panjang, sampai akhirnya lahirlah AwasDisini!, singkatan dari Aktivitas Warga Asli Sukabumi. Namanya sederhana, tapi menyimpan semangat yang besar.
Dengan bara semangat anak muda, kami mulai berdiskusi lebih serius. Apa saja yang bisa ditulis, siapa yang ingin diliput, dan ke mana kami harus pergi. Agenda disusun, kamera saku disiapkan, lalu kami mulai menelusuri kota. Bertemu banyak narasumber, meliput peristiwa yang sedang hangat, dan belajar langsung dari lapangan tentang apa itu jurnalistik, meski saat itu kami belum pernah menyebut diri sebagai jurnalis.
Konten pertama kami adalah Museum Pegadaian. Karena lokasinya dekat dengan sekolah, kami datang berbondong-bondong, berfoto, dan mewawancarai pegawai di sana. Semua kami susun rapi di website dengan logo merah menyala, warna yang waktu itu kami anggap paling mewakili semangat muda.
Ide terus bermunculan. Hingga akhirnya, satu tulisan membuat nama kami mulai dikenal, “Kemping di Bukit Sabak.”
Tempat itu begitu indah. Hutan pinus yang rimbun, lahan luas untuk mendirikan tenda, city light Sukabumi di kejauhan, dan Gunung Pangrango yang terlihat jelas saat cuaca cerah. Awalnya, tempat ini bukan lokasi kemping resmi, hanya sering didatangi anak-anak pecinta alam. Namun setelah ramai dibicarakan, warga mulai mengelola dan berjualan karena semakin banyak orang yang datang.
Bagi kami, cerita paling berkesan bukan hanya soal keindahannya. Kami, sekumpulan bocah tanggung, merasa resah melihat aktivitas penambangan pasir yang merusak alam. Diam-diam kami mendatangi lokasi tersebut, mencoba mencari tahu siapa pengelolanya dan mengapa pengerukan terus dilakukan, padahal sebelumnya sempat terjadi longsor. Yang kami dapat justru tatapan sinis, suasana yang tidak bersahabat, dan pengalaman dikejar anjing hitam. Kalau diingat sekarang, rasanya lucu. Tapi dulu, entah dari mana keberanian itu datang.
Hari demi hari kami lalui dengan kebiasaan yang hampir sama. Berkumpul, lalu bertanya, “Hari ini liputan ke mana?”
Basecamp kami biasanya di rumah Kuntet atau rumah Umi. Setelah makan, bercanda, dan tertawa bersama, kami berangkat ke berbagai tempat ikonik. Kantor pemerintahan, Sukabumi Expo, perpustakaan, stadion bola, stasiun yang saat itu sudah tidak beroperasi, vihara, hingga tempat pengasingan Bung Hatta yang sengaja kami kemas dengan sedikit nuansa mistis agar terasa lebih menarik.
Semua liputan benar-benar hasil turun ke lapangan. Foto dari kamera pocket seadanya, wawancara langsung dengan warga, tanpa clickbait. Murni dari rasa penasaran dan keinginan untuk bercerita.
Petualangan paling nekat kami adalah perjalanan ke Geopark Ciletuh. Setelah bertemu Kang Dedi Suhendra, kuncen Sukabumi, kami semakin yakin bahwa tempat ini suatu hari akan dikenal luas. Saat itu kondisi jalan masih rusak, penginapan hampir tidak ada, dan warung pun sangat jarang. Tapi justru disitulah tantangannya.
Kami mengumpulkan uang jajan, menyiapkan tenda, kompor, bahan masak, dan cemilan. Dengan satu mobil Avanza sewaan, sepuluh anak dan satu Ayah Ateu berangkat bersama. Mobil yang seharusnya hanya muat delapan orang dipaksa menampung sebelas. Maklum, kami masih anak sekolah dengan segala keterbatasan.
Perjalanan selama empat hingga lima jam terasa panjang, tapi semuanya terbayar saat tiba. Pantai Palampang membentang seperti setengah mangkuk raksasa. Air terjun alami mengelilingi kawasan ini, sekitar lima hingga tujuh curug dengan pesonanya masing-masing. Warganya sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan. Meski masih wilayah Sukabumi, jaraknya dari kota terasa sangat jauh.
Kami tidur berdesakan di satu tenda besar, memasak pagi hari dengan kompor kecil, dan menikmati semuanya dengan rasa syukur. Ada satu warung yang malam hari tutup, tapi pemiliknya mengizinkan kami menggunakan toilet dan air. Kebaikan kecil yang selalu kami ingat. Kejadian “teri di kamar mandi” pun masih menjadi bahan tertawaan kami hingga hari ini, tentu hanya cerita internal anak-anak AwasDisini.
Dua hari satu malam kami isi dengan menikmati pantai, trekking ke curug, lalu pulang sambil singgah ke Vihara Loji yang estetik. Konten terkumpul, kenangan pun tercipta.
Beberapa tahun kemudian, Geopark Ciletuh benar-benar viral. Bukan semata karena tulisan kami, tetapi karena pengembangan besar dari sektor pariwisata. Jalan diperbaiki, fasilitas ditambah, dan penginapan bermunculan. Kami merasa bahagia karena pernah menjadi bagian kecil dari cerita awalnya.
Kami, para Ranger AwasDisini, selalu penasaran dengan hal-hal baru. Di ruang publik seperti Lapang Merdeka, kami menemukan banyak komunitas luar biasa. Mulai dari komunitas motor gaya F3S, boxing, BMX, skateboard, hoki, hingga bismania. Setiap komunitas selalu memiliki sosok yang rela berkorban, entah sebagai pelatih atau pendiri, yang mendedikasikan hidupnya. Prestasi mereka banyak, tapi bagi kami yang paling berharga adalah cerita dan pertemanan yang terjalin.
Kami juga bertemu banyak sosok inspiratif. Kang Dedi Suhendra sebagai admin Sukabumi Facebook yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat dan menjadi sumber informasi serta solidaritas warga Sukabumi. Kami juga pernah mewawancarai Wakil Wali Kota Sukabumi terkait dukungannya terhadap berbagai kegiatan komunitas. Tak hanya itu, kami mendengar kisah para penggiat media yang telah lebih dulu eksis, seperti Kang Gery Sugiran, serta Mukti, seorang pemuda yang menekuni dunia digital marketing dan SEO.
Kami juga pernah menyentuh isu sensitif. Salah satunya kasus EMON yang sempat menggemparkan Indonesia. Kami mendatangi lokasi kejadian, sebuah tempat pemandian ilegal dengan gubuk kosong di sebelahnya. Wawancara dengan warga sekitar membuka cerita tentang sumber air panas yang biasa digunakan masyarakat. Tak ada yang menyangka kejadian seburuk itu bisa terjadi di tempat yang terlihat biasa saja.
Liputan lain membawa kami ke Capitol, bioskop legendaris sejak masa penjajahan. Rasa penasaran membawa kami berkeliling dan menemukan sisi lain yang jarang diketahui. Kami juga pernah meliput demo pedagang kaki lima, mencoba mengumpulkan aspirasi mereka, meski kami memahami bahwa penertiban dilakukan demi fungsi ruang publik.
Seiring waktu, kecintaan kami pada dunia media semakin besar. Kami bermimpi menjadikan AwasDisini sebagai media yang informatif dan suatu hari bisa menopang kehidupan kami. Namun realita berjalan berbeda. Hidup membawa kami ke arah masing-masing. Ada yang bekerja, ada yang kuliah, dan tenggelam dalam kesibukan. Konten pun perlahan berkurang.
Meski begitu, semangat itu tidak pernah benar-benar padam. Beberapa dari kami masih berusaha menghidupkan kembali AwasDisini, meski setelah lebih dari dua belas tahun berlalu, media ini belum kembali seperti dulu.
Di benak kami, membangun AwasDisini bersama para Ranger bukan sekadar soal karya. Di dalamnya ada kehangatan, persaudaraan, dan kasih yang tumbuh secara alami. Walau media ini belum kembali eksis, pertemanan kami tetap hidup. Dan semua petualangan yang pernah kami lalui akan selalu menjadi cerita indah, bukti bahwa kami pernah berjuang bersama membangun sesuatu yang, setidaknya bagi kami, terasa abadi.







