Bertumbuh Bersama Orang yang Tepat
Setelah kupikir-pikir lagi, masa awal remaja ternyata menjadi salah satu fase yang paling menantang, bukan hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi para orang tua. Di usia sekitar dua belas hingga lima belas tahun, seorang anak sedang berada di titik paling penasaran dalam hidupnya. Kami mulai ingin mencoba banyak hal, mencari pengalaman baru, mengenal berbagai macam orang, dan perlahan membentuk jati diri. Semua itu bisa membawa ke arah yang baik, tetapi bisa juga menyeret ke arah yang salah.
Kalau ada satu hal yang paling kusadari sekarang, itu adalah betapa besarnya pengaruh lingkungan. Di usia yang masih labil, sekuat apa pun didikan orang tua dan sebaik apa pun nilai yang ditanamkan sejak kecil, semuanya bisa goyah jika berada di lingkungan yang keliru. Sebaliknya, lingkungan yang baik mampu menjaga seseorang tetap berada di jalan yang benar.
Kisah masa remajaku dimulai ketika aku diterima di salah satu SMP favorit di kota kami. Masuk ke sekolah itu bukan perkara mudah karena peminatnya sangat banyak, dan sebagian besar siswanya berasal dari keluarga yang cukup berada. Bagiku, tantangan pertama bukanlah pelajarannya, melainkan memulai semuanya dari nol.
Tidak ada satu pun teman SD yang bersekolah bersamaku. Hampir semua memilih sekolah yang lebih dekat dengan rumah mereka. Hari pertama terasa canggung. Rasanya seperti benar-benar menjadi orang baru di tempat yang asing. Untungnya, di hari kedua ada satu orang yang lebih dulu mengajakku mengobrol. Dari pertemanan sederhana itulah, perlahan terbentuk lingkaran sahabat yang kemudian mengisi hampir seluruh cerita masa remajaku.
Semasa SD, aku termasuk anak yang cukup percaya diri. Nilai pelajaranku baik, punya banyak teman, dan sering dipercaya mewakili sekolah. Aku pernah menjadi dokter kecil, mengikuti lomba antar sekolah, lomba senam, hingga tampil menari dalam berbagai acara. Karena itu, ketika masuk SMP aku membayangkan akan menjalani kehidupan yang kurang lebih sama: berprestasi di akademik, aktif di organisasi, dan sibuk dengan berbagai kegiatan sekolah.
Namun ternyata hidup berjalan dengan cara yang berbeda.
Di awal masuk SMP, semangat belajarku masih sangat tinggi. Semester pertama bahkan aku berhasil meraih peringkat dua di kelas. Aku juga mengikuti seleksi OSIS bersama teman-temanku. Lucunya, hanya aku yang diterima. Karena teman-temanku tidak lolos, aku justru memilih mundur. Saat itu aku juga sempat ditunjuk mengikuti Paskibra, tetapi lagi-lagi aku lebih memilih bergabung dengan PMR karena hampir semua sahabatku ada di sana.
Kalau dipikir sekarang, banyak sekali keputusan yang kuambil hanya karena teman. Waktu itu rasanya memang sulit untuk berani berbeda atau memulai pertemanan baru. Saat SD, kami selalu berada di kelas yang sama sehingga teman datang dengan sendirinya. Berbeda ketika SMP, kami harus belajar bergaul dengan siswa dari berbagai kelas. Itu ternyata menjadi tantangan tersendiri.
Akhirnya, aku tidak memiliki banyak kegiatan organisasi. Anehnya, justru sekarang aku bersyukur dengan jalan yang kupilih.
Walaupun tidak sibuk mengikuti berbagai aktivitas sekolah, aku memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: sahabat-sahabat terbaik.
Kami bukan kelompok yang populer. Tidak ada yang menjadi bintang kelas, tidak ada atlet sekolah, dan tidak ada pula yang memiliki segudang prestasi. Kami hanyalah sekelompok anak biasa yang selalu menemukan alasan untuk tertawa bersama.
Hampir setiap hari kami berkumpul di lorong kelas, mengobrol tentang hal-hal yang sebenarnya tidak penting, tetapi selalu berhasil membuat kami tertawa sampai lupa waktu. Setelah pulang sekolah, kami sering bergiliran main ke rumah satu sama lain. Hari-hari sederhana itu justru menjadi kenangan yang paling melekat hingga sekarang.
Di masa itu juga, aku mulai berubah.
Anak yang dulu sangat suka belajar perlahan berubah menjadi anak yang lebih malas membuka buku. Jujur, kalau mengingatnya sekarang ada sedikit penyesalan. Namun memang begitulah yang terjadi.
Aku benar-benar tenggelam dalam hobi-hobi baru. Aku mulai sangat menyukai anime, membaca komik, lalu jatuh cinta pada drama Taiwan, Korea, hingga Jepang. Hampir semua waktu luangku habis untuk itu. Aku rajin mengoleksi majalah Animoster, membeli majalah artis, menggunting poster, mencetak foto-foto idola, lalu memenuhi dinding kamar dengan semuanya.
Lucunya, teman-temanku tidak pernah menganggap hobiku aneh. Walaupun mereka tidak semuanya menyukai hal yang sama, kami tetap akrab.
Aku masih ingat bagaimana dulu kami sering menelepon menggunakan telepon rumah selama berjam-jam hanya untuk mengobrol hal-hal receh. Kami juga sering tiba-tiba memasak bersama di rumah teman. Karena banyak kegiatan sekolah yang selesai sekitar pukul sepuluh pagi, kami hampir selalu mampir dulu sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Pernah membuat nasi liwet bersama, pernah mencoba membuat cokelat Valentine yang akhirnya gagal total, atau sekadar makan pempek dan kwetiau langganan. Semua terasa menyenangkan meski sebenarnya sangat sederhana.
Walaupun tidak banyak mengikuti organisasi, kami juga sempat aktif di remaja masjid. Salah satu pengalaman yang paling kuingat adalah ketika ikut menyiapkan acara Maulid Nabi di sekolah. Mungkin hanya sekali, tetapi cukup meninggalkan kesan.
Di sisi lain, aku mulai menemukan ketertarikan baru pada komputer. Aku bukan lagi anak yang fokus mengejar nilai. Sebaliknya, aku lebih senang belajar hal-hal teknis. Sedikit demi sedikit aku belajar mengoperasikan komputer, mendesain sederhana di CorelDRAW, mencetak dokumen, membakar CD, sampai melakukan berbagai hal yang kalau dipikir sekarang, kemampuanku saat itu sudah seperti penjaga warnet atau pegawai fotokopi. Memang tidak terlalu ahli, tetapi aku menikmati proses mempelajarinya.
Kalau soal pergaulan, kelompok kami bisa dibilang cukup "culun". Hampir tidak ada yang dekat dengan laki-laki. Salah satu sahabat kami dibesarkan dalam keluarga yang sangat religius, dan kebiasaannya sedikit banyak ikut memengaruhi kami semua. Kami sering diajak mengikuti pengajian, bahkan pernah ikut berkeliling mengampanyekan penolakan terhadap perayaan Valentine. Aku ikut saja, lebih karena penasaran dan ingin menemani teman-teman.
Kalau kenakalan remaja kami? Paling banter hanya mengerjai teman menggunakan layanan telepon gratis dengan berpura-pura menjadi orang yang berbeda. Rasanya lucu kalau diingat sekarang, karena sebenarnya kami masih seperti anak-anak.
Di antara kami, masing-masing punya karakter yang begitu khas.
Lai adalah sosok yang paling religius dan sering mengajak kami ikut kegiatan keagamaan. Ri menjadi yang paling dewasa dan kalem, selalu tahu bagaimana membawa diri. San adalah teman yang paling sering menemaniku pulang sekolah. Bersamanya selalu ada saja kejadian kocak yang sampai sekarang masih sering kami ingat. Okt merupakan si tomboy yang paling jujur mengungkapkan pendapatnya dan sangat menyukai sepak bola. Sementara Kir adalah teman sesama pencinta budaya Jepang yang cerewet, mudah bergaul, dan bisa akrab dengan siapa saja.
Melihat ke belakang, aku semakin yakin bahwa memilih lingkungan pertemanan adalah salah satu keputusan terpenting di masa remaja.
Saat itu kami mungkin terlihat biasa saja. Tidak populer, tidak gaul, bahkan mungkin dianggap kurang menarik dibanding kelompok lain. Namun justru karena itulah kami terhindar dari banyak hal yang sekarang terasa cukup mengkhawatirkan. Di sekolah, sudah ada teman-teman yang mulai pacaran, mencoba berbagai hal yang seharusnya belum mereka lakukan, bahkan ada yang sampai terjerumus ke pergaulan yang tidak sehat. Kami memang sering mendengar cerita mereka, tetapi hanya sebatas menjadi tempat curhat.
Kalau dipikir sekarang, rasanya cukup menyeramkan juga.
Aku bersyukur menjadi anak yang mungkin sedikit culun, tetapi memiliki teman-teman yang sefrekuensi dan saling menjaga. Ternyata tidak menjadi anak paling populer bukanlah sebuah kerugian. Justru itu membuat kami bertumbuh dengan lebih tenang.
Di luar sekolah, sebagian besar waktuku kuhabiskan di rumah. Bermain bersama teman-teman komplek, menonton drama, membaca komik, atau menikmati hobi-hobiku yang sederhana.
Dari semua itu, ada satu hal yang baru kusadari ketika sudah dewasa.
Dulu aktivitasku memang hanya sekolah lalu pulang. Orang tuaku belum memiliki pemahaman bahwa anak juga perlu mengikuti kursus atau kegiatan di luar sekolah untuk mengembangkan diri. Karena itu, ruang eksplorasiku memang lebih banyak terjadi secara alami melalui teman dan hobi.
Namun yang menarik, semua berubah ketika kami memasuki SMA.
Teman-teman yang dulu sama-sama biasa saja justru mulai menemukan tempatnya masing-masing. Ada yang menjadi ketua ekstrakurikuler, ada yang aktif di organisasi, ada yang terkenal karena kemampuan menarinya, dan banyak lagi yang akhirnya bersinar dengan caranya sendiri. Sebaliknya, ada juga teman yang sangat aktif saat SMP justru memilih menjalani masa SMA dengan lebih tenang.
Dari situlah aku belajar bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk bertumbuh. Tidak harus bersinar lebih dulu, tidak harus menjadi yang paling menonjol sejak awal. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat terlihat hebat, melainkan tentang menemukan waktu yang tepat untuk berkembang menjadi versi terbaik dari diri sendiri.







.png)

.png)