Menemukan Kenyamanan di Hunian Vertikal
Kalau beberapa tahun lalu ada yang bertanya seperti apa rumah impianku, mungkin jawabanku sama seperti kebanyakan orang: rumah tapak. Rasanya wajar saja, karena sejak kecil kita tumbuh dengan anggapan bahwa memiliki rumah yang berdiri di atas tanah adalah sebuah pencapaian. Semakin luas halamannya, semakin terasa berhasil. Aku pun pernah memiliki cara pandang yang sama.
Namun semenjak menjalani kehidupan di hunian vertikal, pikiranku perlahan berubah. Aku mulai memahami mengapa banyak kota besar di negara-negara Asia yang padat penduduknya sudah lama beralih ke konsep hunian vertikal. Awalnya aku mengira itu semata-mata karena keterbatasan lahan. Ternyata setelah dijalani, alasannya jauh lebih kompleks dari itu.
Dulu aku juga sempat tergoda untuk mengikuti pilihan yang diambil banyak orang. Membeli rumah tapak di pinggiran kota, meskipun harus rela menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan setiap hari. Berangkat sebelum matahari terbit, pulang ketika langit sudah gelap, berganti-ganti transportasi umum, sambil tetap membayar cicilan yang jumlahnya tidak sedikit. Karena banyak orang melakukannya, aku menganggap itulah konsekuensi yang memang harus diterima jika ingin memiliki rumah.
Sampai akhirnya aku merasakan sendiri bagaimana rasanya tinggal di lokasi yang lebih strategis. Di situlah aku baru sadar bahwa tempat tinggal ternyata bukan hanya soal aset atau kepemilikan. Tempat tinggal adalah bagian dari kualitas hidup. Semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari, semakin banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang bisa dihemat. Waktu yang biasanya habis di jalan bisa berubah menjadi waktu untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar menikmati sore tanpa dikejar perjalanan pulang yang panjang.
Karena itulah, hari ini aku justru merasa bahwa hunian vertikal adalah salah satu solusi terbaik bagi masyarakat urban, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya.
Pandangan itu semakin kuat setelah aku menonton salah satu video dari kanal YouTube Fariz Gamal. Cara beliau menjelaskan membuatku merasa, "Oh... ternyata ini alasan di balik banyaknya negara maju di Asia yang memilih membangun kota secara vertikal."
Intinya bukan karena apartemen terlihat modern atau mengikuti tren, melainkan karena lahan di kota besar memang semakin terbatas. Dengan luas tanah yang sama, hunian vertikal mampu menampung jauh lebih banyak keluarga dibandingkan rumah tapak. Artinya, lebih banyak orang bisa tinggal dekat dengan pusat pekerjaan, transportasi umum, sekolah, rumah sakit, hingga berbagai fasilitas publik. Pada akhirnya, kota menjadi lebih efisien dan masyarakat pun memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Hal lain yang paling kurasakan setelah tinggal di hunian vertikal adalah kemudahan dalam menjalani rutinitas sehari-hari. Hampir semua kebutuhan ada di satu kawasan. Minimarket, laundry, berbagai tenant makanan, salon, apotek, ATM, bahkan kebutuhan kecil yang mendadak sekalipun bisa dijangkau hanya dengan turun beberapa lantai. Rasanya sederhana, tetapi ternyata sangat memudahkan. Tidak perlu lagi keluar kompleks hanya untuk membeli kebutuhan harian atau mencari makan ketika sedang lelah sepulang bekerja.
Aku juga menyukai suasana yang terasa lebih privat. Mungkin terdengar sedikit berbeda, tetapi di hunian vertikal setiap orang memiliki ruangnya masing-masing. Kita bertemu di lift, lobi, atau area fasilitas, tetapi tidak ada tuntutan untuk saling mengenal terlalu dalam. Ada yang akhirnya akrab dengan tetangganya, ada juga yang memilih menjalani kehidupan masing-masing. Bagiku, keduanya sama-sama baik. Justru privasi setiap orang terasa lebih dihargai.
Dari sisi keamanan, aku juga merasa jauh lebih tenang. Petugas keamanan berjaga selama 24 jam, akses keluar masuk lebih terkontrol, dan selalu ada tim manajemen yang siap membantu ketika penghuni mengalami kendala. Bahkan urusan menerima paket, memesan makanan, hingga kebutuhan sehari-hari sudah memiliki sistem yang rapi. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi ketika dijalani setiap hari, kenyamanannya benar-benar terasa.
Sebelum akhirnya memilih tinggal di hunian vertikal, kami juga sempat mempertimbangkan untuk menyewa rumah kontrakan. Namun ternyata menemukan lingkungan yang benar-benar nyaman bukan perkara mudah. Ada yang aksesnya jauh dari stasiun atau halte, ada yang lingkungannya rawan banjir, ada pula yang sebenarnya nyaman tetapi harga sewanya cukup tinggi. Belum lagi soal keamanan lingkungan yang tentu menjadi pertimbangan penting, apalagi sekarang kami sudah memiliki anak.
Bukan berarti rumah tapak tidak memiliki kelebihan. Aku justru sangat memahami mengapa banyak orang tetap menginginkannya. Memiliki halaman sendiri, ruang yang lebih luas, dan kebebasan untuk merenovasi rumah memang menjadi daya tarik tersendiri. Kekhawatiran terhadap tinggal di bangunan bertingkat ketika terjadi gempa atau keadaan darurat juga sangat bisa dipahami.
Pada akhirnya, setiap pilihan tempat tinggal pasti memiliki kelebihan dan tantangannya masing-masing. Tidak ada yang benar atau salah. Semua kembali pada kebutuhan, kondisi finansial, dan gaya hidup setiap keluarga. Untuk kami, setidaknya di fase kehidupan saat ini, hunian vertikal memberikan lebih banyak kemudahan daripada yang pernah kami bayangkan.
Lucunya, dulu aku mengira rumah impian hanya bisa diwujudkan dalam bentuk rumah tapak. Sekarang aku justru belajar bahwa rumah yang baik bukan selalu yang paling luas atau berdiri di atas tanah sendiri, melainkan rumah yang mampu membuat penghuninya hidup lebih nyaman, lebih tenang, dan memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati hal-hal yang benar-benar penting.





