Menjadi Perempuan Tidak Harus Kehilangan Diri Sendiri
Menjadi perempuan memang sering terasa serba salah.
Sejak kecil, kita dituntut untuk bisa melakukan banyak hal. Harus sigap membantu pekerjaan rumah, harus bisa mengurus diri sendiri dengan cepat, harus multitalenta agar katanya kelak mendapatkan jodoh terbaik. Di sisi lain, perempuan juga tetap dituntut berprestasi secara akademik agar nantinya memiliki pekerjaan yang layak dan masa depan yang baik.
Namun setelah semua itu berhasil diraih menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan impian, menikah dengan pria yang baik, lalu dikaruniai buah hati yang begitu didambakan ternyata hadir dilema baru dalam hati seorang perempuan.
Di hati seorang ibu, ada keinginan besar untuk selalu bersama anak setiap waktu. Tetapi di sisi lain, masih ada mimpi, karier, dan diri sendiri yang juga ingin tetap dijalani. Dan ternyata menjadi working mom bukanlah perkara yang sederhana.
Bulan April ini, hati aku benar-benar dibuat menangis oleh dua kejadian yang menimpa para perempuan hebat. Berita tentang daycare di Jogja yang membuat hati para ibu tersayat karena anak-anak diperlakukan tidak manusiawi, lalu tragedi kecelakaan KRL yang menimpa gerbong wanita hingga memakan korban jiwa. Dua kejadian itu terasa seperti satu benang merah tentang perjuangan seorang ibu bekerja.
Di media sosial, begitu banyak komentar yang sebenarnya terdengar sederhana, tetapi diam-diam menyakitkan bagi ibu pekerja.
“Untung ya aku nggak nitip anak di daycare.”
“Untung ya suami aku bisa provide semua kebutuhan.”
“Untung ya aku bisa full di rumah sama anak.”
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin tidak bermaksud jahat, tetapi bagi sebagian ibu pekerja, itu bisa terasa seperti penghakiman. Dulu aku juga pernah merasa sedih ketika ada tetangga yang menyebut anakku sebagai “anak nenek” karena sehari-hari lebih banyak bersama neneknya. Mungkin bagi mereka itu hanya basa-basi biasa, tetapi bagi seorang ibu, kalimat itu bisa sangat melukai.
Padahal, memilih untuk bekerja adalah pilihan hidup setiap perempuan, dan setiap pilihan punya perjuangannya masing-masing. Bukankah seharusnya kita saling menghargai?
Alasan terkuat aku tetap bekerja adalah karena aku benar-benar merasa memiliki ruang untuk terus berkembang dan mengerjakan hal-hal yang aku sukai.
Jadi bila nanti Hannah bertanya,
“Mami, kenapa dulu nggak nemenin Hannah setiap hari?”
Nak, maafkan mami yang masih punya ego untuk tetap berkarier. Mungkin ketika kamu dewasa nanti, kamu akan mengerti pilihan mami.
Yang pertama, mami ingin memiliki kebebasan finansial agar bisa ikut menyokong ekonomi keluarga. Sebenarnya penghasilan Papa sudah alhamdulillah mencukupi, tetapi mami ingin memberikan yang terbaik untuk pendidikan Hannah nanti.
Yang kedua, mami sangat senang bekerja dan bertemu banyak orang di kantor. Di sana mami merasa hidup, berkembang, dan bahagia dengan setiap tantangan pekerjaan yang berhasil mami selesaikan.
Dan yang ketiga, mami ingin mewujudkan mimpi-mimpi mami sejak kecil. Ada banyak hal yang ingin mami capai. Mami juga ingin Hannah tumbuh dengan memahami bahwa seorang perempuan boleh punya mimpi, boleh berpendidikan tinggi, dan boleh memiliki value dalam dirinya. Karena meskipun nantinya kita tetap menjadi ibu yang mengurus rumah tangga, memasak, mencuci, dan melakukan pekerjaan domestik lainnya, perempuan tetap perlu memiliki ilmu, wawasan, dan kemampuan untuk bertumbuh.
Jadi Hannah, maafkan mami ya bila mami belum bisa menemanimu 24 jam setiap hari. Tetapi percayalah, di sela waktu libur, di setiap waktu kosong, bahkan di tengah pekerjaan sekalipun, hati dan pikiran mami selalu pulang ke kamu. Semua yang mami lakukan juga untuk masa depan dan pertumbuhanmu.
Dalam Islam sendiri, perempuan diperbolehkan bekerja selama tetap menjaga kehormatan diri, amanah terhadap keluarga, dan mendapat ridha dari suami. Rasulullah ﷺ juga memiliki istri, Khadijah binti Khuwailid, yang dikenal sebagai perempuan mulia sekaligus seorang pedagang sukses.
Allah SWT berfirman:
“Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan.”
(QS. An-Nisa: 32)
Dan dalam hadis disebutkan:
“Sebaik-baik perempuan adalah yang apabila engkau memandangnya ia menyenangkanmu, apabila engkau memerintahkannya ia menaatimu, dan apabila engkau tidak ada ia menjaga dirinya dan hartamu.”
(HR. An-Nasa’i)
Artinya, Islam tidak melarang perempuan bekerja. Selama tetap menjaga tanggung jawab, komunikasi dengan pasangan, dan dilakukan dengan niat yang baik, perempuan juga berhak bertumbuh dan berkarya.
Karena pada akhirnya, setiap ibu sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Tidak ada ibu yang lebih hebat hanya karena memilih di rumah ataupun bekerja. Semua sama-sama sedang mencintai anaknya dengan versi terbaik yang mereka mampu.

.png)

.png)



