Menyembuhkan Luka yang Tak Terlihat
"Mental health harus dijaga." Kalimat itu sering sekali digaungkan oleh generasi sekarang. Dulu aku menganggap sakit hanyalah sesuatu yang bisa dilihat oleh mata: demam, luka, atau tulang yang patah. Baru beberapa tahun terakhir aku memahami bahwa ada luka lain yang jauh lebih sunyi. Luka yang tidak berdarah, tetapi mampu menguras tenaga setiap hari. Luka itu bernama kecemasan. Di tulisan ini aku ingin bercerita tentang perjalanan menghadapi ketakutan saat berkendara.
Mungkin bagi sebagian orang, ketakutanku terdengar sepele. Di Jakarta, motor adalah kendaraan yang nyaris menjadi penyelamat. Ia mampu menerobos kemacetan, menghemat waktu, dan menjadi pilihan utama banyak orang. Namun, justru di atas motor itulah kecemasanku selalu muncul.
Sudah bertahun-tahun aku tinggal di ibu kota, tetapi rasa takut itu tidak pernah benar-benar hilang. Aku bahkan tidak bisa mengendarai motor sendiri, sehingga setiap bepergian aku mengandalkan ojek online. Anehnya, duduk sebagai penumpang pun sudah cukup membuat tubuhku bereaksi.
Setiap perjalanan terasa seperti mode siaga.
Otot-ototku menegang. Napasku menjadi lebih pendek. Mataku bergerak ke segala arah, mengawasi setiap kendaraan yang mendekat. Aku selalu membayangkan kemungkinan terburuk: bagaimana jika motor di samping tiba-tiba memotong jalan, bagaimana jika ada truk yang terlalu dekat, bagaimana jika kami tersenggol kendaraan lain?
Bagian yang paling membuatku cemas adalah ketika lampu lalu lintas berubah hijau. Semua kendaraan mulai melaju bersamaan dengan kecepatan yang meningkat. Di saat seperti itu aku sering kali refleks menutup mata, bukan karena mengantuk, tetapi karena takut melihat kendaraan-kendaraan yang terasa begitu dekat.
Setiap perjalanan menghabiskan energi yang luar biasa. Ketika akhirnya tiba di tujuan, yang kurasakan bukan hanya lega, tetapi juga kelelahan. Bahkan sebelum perjalanan dimulai, membayangkan harus naik motor saja sudah cukup membuatku menghela napas panjang.
Sampai akhirnya aku memutuskan meminta bantuan kepada seorang psikolog.
Keputusan itu menjadi salah satu langkah terbaik yang pernah kuambil.
Di ruang konseling, aku merasa didengar tanpa dihakimi. Ternyata banyak hal yang selama ini kurasakan memiliki penjelasan psikologis. Psikologku menjelaskan bahwa kecemasanku diperkuat oleh pola pikir yang disebut catastrophic thinking, yaitu kecenderungan membayangkan skenario terburuk meskipun kemungkinan terjadinya sangat kecil.
Karena itu, psikolog memintaku mulai menulis dua kolom sederhana. Kolom pertama berisi pikiran negatif yang muncul selama berkendara. Kolom kedua berisi fakta yang benar-benar terjadi. Latihan sederhana ini ternyata membantu otakku belajar membedakan antara kemungkinan dan kenyataan. Sedikit demi sedikit aku menyadari bahwa tidak semua pikiran adalah fakta.
Selain mengubah cara berpikir, psikolog juga mengajariku cara menenangkan tubuh. Ketika rasa takut mulai muncul, aku diminta menarik napas perlahan melalui hidung, menahannya beberapa detik, lalu mengembuskannya secara perlahan. Napas yang tenang mengirimkan sinyal kepada sistem saraf bahwa tubuh berada dalam kondisi aman.
Selain itu, aku diajarkan menggunakan teknik grounding dengan melibatkan seluruh pancaindra. Alih-alih terus menatap kendaraan di sekitar, aku mulai mengalihkan perhatian pada hal-hal lain: memperhatikan pepohonan yang berjejer di pinggir jalan, warna langit, bentuk bangunan, atau orang-orang yang sedang berjalan kaki.
Aku juga mulai merasakan tekstur jaket yang kupakai, mengusap kedua tangan perlahan, atau menggenggam tas yang kubawa. Kadang aku mengulum permen agar indra pengecap ikut bekerja. Semua itu terdengar sederhana, tetapi ternyata cukup membantu. Ketika pancaindra sibuk menerima informasi dari lingkungan sekitar, otak tidak lagi sepenuhnya tenggelam dalam skenario-skenario menakutkan yang diciptakannya sendiri.
Sebelum bepergian pun aku belajar berbicara kepada diriku sendiri.
"Ini hanya perjalanan biasa."
"Aku sedang menuju tempat tujuan dengan aman."
"Tidak semua perjalanan berakhir buruk."
Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, tetapi perlahan menjadi pengingat bahwa rasa takut tidak selalu menggambarkan kenyataan.
Jika mengingat kembali, mungkin memang ada alasan mengapa kecemasan ini muncul.
Aku pernah beberapa kali menyaksikan kecelakaan motor secara langsung. Gambaran itu entah mengapa melekat begitu kuat di ingatan. Aku juga pernah mengalami kecelakaan kecil saat belajar mengendarai motor. Pengalaman-pengalaman tersebut mungkin tidak terasa besar saat itu, tetapi rupanya meninggalkan jejak yang masih tersimpan di dalam pikiranku.
Menariknya, saat kuliah aku sempat merasa baik-baik saja. Aku tidak terlalu takut ketika dibonceng motor. Namun setelah kembali tinggal di Jakarta, melihat lalu lintas yang jauh lebih padat dan semrawut, rasa cemas itu muncul kembali.
Dalam bukunya The Body Keeps the Score, Bessel van der Kolk menjelaskan bahwa pengalaman traumatis sering kali tidak benar-benar hilang. Tubuh dapat menyimpan jejak pengalaman tersebut, lalu memunculkan respons yang sama ketika seseorang berada pada situasi yang dianggap mirip dengan pengalaman sebelumnya. Tubuh bereaksi lebih dulu, bahkan sebelum pikiran sempat menyadari bahwa sebenarnya situasi saat ini tidak selalu berbahaya.
Dari semua proses ini aku belajar satu hal.
Trauma dan kecemasan bukanlah sesuatu yang bisa diukur dari besar atau kecilnya penyebab. Apa yang tampak biasa bagi orang lain belum tentu terasa biasa bagi orang yang mengalaminya.
Sering kali kita mendengar kalimat seperti, "Ah, masa begitu saja takut?" atau "Kan cuma naik motor." Padahal, bagi seseorang yang hidup dengan kecemasan, bertahan selama perjalanan saja sudah membutuhkan tenaga yang sangat besar.
Semakin aku menerima bahwa rasa takut itu memang ada, tanpa terus menyalahkan diri sendiri, justru semakin besar kesempatan bagiku untuk perlahan berubah.
Hari ini aku memang belum sepenuhnya bebas dari kecemasan.
Masih ada hari-hari ketika tubuhku menegang saat motor mulai melaju. Masih ada saat-saat ketika napasku terasa lebih cepat dari biasanya.
Namun kini aku memiliki bekal.
Aku tahu bagaimana mengenali pikiranku.
Aku tahu bagaimana menenangkan tubuhku.
Aku tahu bahwa rasa takut tidak selalu berarti bahaya benar-benar ada.
Dan yang paling penting, aku belajar bahwa meminta bantuan kepada profesional bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menyembuhkan diri.
Mungkin prosesnya tidak singkat.
Mungkin rasa takut itu masih akan datang sesekali.
Tetapi setidaknya sekarang aku tidak lagi berjalan sendirian menghadapi kecemasan itu.
Karena terkadang, proses sembuh bukan tentang menghilangkan rasa takut sepenuhnya, melainkan belajar hidup berdampingan dengannya hingga suatu hari kita menyadari bahwa ketakutan itu tidak lagi mengendalikan arah hidup kita.





