Garis Waktu
Setiap orang memiliki garis waktunya sendiri. Begitu pula dengan kami bertiga yang pernah sama-sama berjuang, jatuh bangun, hingga akhirnya menemukan arti dari sebuah pencapaian. Menapakkan kaki di Ibu Kota demi mencari kesempatan karier yang lebih baik adalah perjalanan yang kami lalui bersama. Awalnya tentu tidak mudah. Kami harus belajar beradaptasi dengan dunia kerja yang benar-benar baru, lingkungan yang asing, dan ritme hidup yang jauh berbeda dari yang pernah kami kenal.
Semua perjuangan itu berawal dari satu keyakinan sederhana: kami ingin mendapatkan pekerjaan yang kami impikan. Entah mengapa, kami dipertemukan di tempat yang sama. Rasanya bukan sekadar kebetulan. Di kota kelahiran kami, kesempatan kerja memang tidak sebanyak di Jakarta, bahkan tak jarang lowongan yang ada terasa sulit dijangkau tanpa "orang dalam". Tahun 2019 menjadi titik awal perjalanan kami. Aku, Taro, dan Amel memulai babak baru kehidupan bersama.
Sampai sekarang aku masih ingat, kami sering duduk bersama sepulang kerja, saling bercerita tentang sulitnya beradaptasi dengan pekerjaan dan rekan kerja. Bagiku, itulah bagian yang paling menantang. Kami belum benar-benar mengerti bagaimana membawa diri di lingkungan profesional, terlebih budaya kerja di Ibu Kota sangat berbeda dengan yang selama ini kami kenal.
Taro pernah bercerita betapa sulitnya membangun lingkaran pertemanan di kantor. Semua orang seolah sudah memiliki kelompoknya masing-masing. Bahkan, makan siang sendirian sambil diperhatikan orang lain bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Ditambah lagi tuntutan pekerjaan yang mengharuskannya beradaptasi dengan cepat membuat tekanan terasa begitu besar. Kemampuan dipaksa berkembang, sementara mental perlahan diuji setiap hari. Namun, masa-masa itu tidak berlangsung selamanya. Sedikit demi sedikit Taro mulai menemukan teman-temannya, membangun circle baru, dan semakin mampu mengatasi pekerjaannya meski harus berangkat pagi dan pulang larut malam.
Perjuangan Amel pun tidak kalah berat. Demi bisa bekerja di Ibu Kota, ia sempat tinggal di rumah ayahnya di Cikarang, lalu setiap hari harus menempuh perjalanan menuju Jakarta Barat. Dulu aku sering berpikir, "Apa tidak capek?" Sekarang aku benar-benar mengerti bahwa begitulah perjuangan banyak orang yang merantau ke Jakarta. Untungnya, tidak lama kemudian Amel akhirnya tinggal bersama kami di Jakarta sehingga perjalanan hariannya menjadi jauh lebih ringan.
Namun ternyata, di dunia kerja bukan hanya rasa lelah secara fisik yang harus dihadapi. Ada kalanya yang jauh lebih menguras tenaga adalah rasa lelah karena lingkungan kerja. Amel pernah memiliki rekan kerja yang sangat tidak suportif. Entah karena merasa tersaingi oleh orang baru atau alasan lainnya, ia sering menyalahkan pekerjaan orang lain, menyembunyikan dokumen, hingga menciptakan suasana kerja yang tidak nyaman. Dulu aku sangat kesal mendengar cerita itu. Namun, semakin dewasa aku sadar bahwa orang-orang seperti itu memang ada di banyak tempat.
Kalau berbicara tentang perjalananku sendiri, aku justru dipertemukan dengan lingkungan kerja yang sangat baik hingga membuatku betah. Meski begitu, aku tetap harus berjuang keras agar bisa memenuhi standar yang ditetapkan. Pernah ada masa ketika aku merasa diragukan oleh atasan. Saat itu aku bertanya-tanya, apakah aku akan mampu bertahan? Ternyata waktu menjawab semuanya. Aku tetap bertahan, berkembang, dan hari ini aku hanya ingin mengatakan kepada diriku sendiri, "Terima kasih."
Tak terasa, tujuh tahun telah berlalu sejak kami memulai perjalanan ini. Begitu banyak hal yang telah terjadi dalam hidup kami. Dan ternyata benar, setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Perjuangan yang dulu terasa begitu berat perlahan menjelma menjadi buah manis yang layak disyukuri. Semua proses itu akhirnya membawa kami pada tempat yang memang telah dipersiapkan untuk kami.
Hatiku selalu terasa hangat setiap kali melihat Taro membagikan kebahagiaannya bersama rekan-rekan kerja di media sosial. Menjadi karyawan tetap di perusahaan multinasional adalah impian banyak orang. Namun, tidak semua orang tahu bagaimana proses panjang yang harus dilalui untuk sampai di titik itu.
Selama dua tahun tinggal bersama Taro, aku menyaksikan sendiri bagaimana ia berjuang setiap hari. Dari bangun tidur hingga kembali tidur, hidupnya hampir selalu diisi dengan pekerjaan. Tidak lagi sekadar delapan jam kerja, tetapi sering kali mencapai dua belas jam dalam sehari. Terlebih saat pandemi, ketika sistem work from home membuat batas antara waktu bekerja dan waktu beristirahat menjadi semakin samar. Rasanya baru saja membuka mata, pekerjaan sudah menunggu. Bahkan ketika malam hampir berganti hari, ia masih sibuk menyelesaikan tugasnya.
Namun justru konsistensi itulah yang akhirnya membuat Taro dipercaya menjadi seorang Senior Finance. Rasanya bangga sekali melihat semua perjuangan yang pernah ia jalani kini benar-benar membuahkan hasil. Semua kegelisahan yang dulu sering kami bicarakan bersama "Bagaimana kalau tidak betah?" atau "Apa harus cari tempat lain?" ternyata kini terjawab. Tempat yang dulu hanya persinggahan perlahan berubah menjadi rumah bagi perjalanan kariernya.
Berbeda dengan Taro yang memilih bertahan, perjalanan Amel justru membawanya ke arah yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setelah beberapa bulan bekerja bersama kami, Amel memutuskan untuk berhenti dan menyelesaikan skripsinya. Menurutku, itu adalah keputusan terbaik. Apa yang sudah dimulai memang harus diselesaikan.
Selama hampir satu tahun Amel berjuang menyelesaikan tugas akhirnya hingga akhirnya lulus. Sayangnya, karena pandemi, ia harus menjalani wisuda seorang diri tanpa pendamping dan kami hanya bisa menyaksikannya dari layar ponsel sambil tertawa bersama.
Sepulangnya dari masa kuliah, kesempatan baru mulai berdatangan. Awalnya Amel bekerja di bidang kreatif sebagai admin. Namun perlahan ia mulai tertarik mendalami dunia tersebut. Bahkan, pernah ada masa ketika ia merasa tidak percaya diri hingga kami berkali-kali menjadi tempatnya bercerita tentang karier.
Ternyata dunia kreatif memang menjadi tempat yang paling tepat untuknya. Sedikit demi sedikit ia menguasai banyak hal, mulai dari fotografi, desain grafis, hingga pengelolaan media sosial. Kini Amel semakin bersinar. Ia bekerja di sebuah agensi dengan pengalaman menangani berbagai proyek besar, mulai dari event berskala nasional hingga proses produksi konten. Bahkan ketika kami berkumpul pun, laptopnya hampir selalu terbuka karena masih harus mengedit pekerjaan. Melihat semangatnya membuatku yakin bahwa ia benar-benar telah menemukan passion yang selama ini ia cari.
Perjalananku sendiri sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Taro. Kami sama-sama memilih bertahan di tempat kerja yang sama selama bertahun-tahun. Siapa sangka, perjalanan panjang di dunia teknologi informasi akhirnya membawaku ke posisi yang dulu hanya bisa kuimpikan.
Aku masih sering mengingat doa-doa yang pernah kupanjatkan setiap kali menghadapi masalah pada aplikasi atau server yang membuatku cemas berlebihan. Namun ternyata, semuanya bisa dilalui. Kepercayaan, kemauan untuk terus belajar, dan dukungan rekan kerja menjadi alasan mengapa aku mampu bertahan. Mungkin karena aku termasuk orang yang mudah beradaptasi, hal itu menjadi nilai tambah yang membantuku melewati setiap tantangan.
Kadang aku bertanya-tanya, bagaimana mungkin kami bisa sampai di titik ini? Bagaimana kami mampu bertahan menghadapi dinamika pekerjaan yang begitu rumit dan beradaptasi dengan begitu banyak perubahan?
Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin jawabannya sudah dimulai sejak masa SMA.
Jujur saja, kami bertiga bukanlah anak-anak yang selalu menjadi juara kelas. Nilai kami biasa saja. Namun, kami memilih aktif dalam berbagai organisasi, terutama OSIS. Dari sanalah kami belajar tentang tanggung jawab, disiplin, kepemimpinan, dan yang terpenting, bagaimana bekerja bersama dalam sebuah tim.
Bahkan setelah lulus sekolah pun, kami sudah mulai mengenal dunia kerja dari bawah. Taro dan aku mengawali perjalanan dengan bekerja sebagai pramuniaga di toko pakaian di sebuah mal, melayani pelanggan setiap hari sebelum akhirnya melanjutkan kuliah. Sementara Amel pernah bekerja di sebuah pabrik. Dari pekerjaan-pekerjaan sederhana itulah kami belajar menghadapi berbagai macam karakter manusia, memahami arti tanggung jawab, dan menyadari bahwa tidak ada pekerjaan yang sia-sia selama dijalani dengan sungguh-sungguh.
Ternyata memang benar, terkadang kita harus berada di zona yang paling tidak nyaman agar bisa bertumbuh menjadi versi diri yang lebih baik.
Hari ini aku selalu bersyukur atas semua pencapaian yang dimiliki teman-temanku. Karena aku tahu, tidak ada satu pun keberhasilan yang datang begitu saja. Aku menjadi saksi bagaimana mereka berjuang, bertahan, menangis, bangkit, lalu terus melangkah.
Kini aku semakin percaya bahwa mimpi memang harus dibeli dengan kerja keras. Dan setiap orang, pada akhirnya, akan sampai pada garis waktunya masing-masing.








.png)
