Ada masa dalam hidup ketika cita-cita terasa sederhana—cukup ingin menjadi seseorang yang dekat dengan kata. Saat duduk di bangku sekolah, saya bermimpi bisa menjadi redaktur: menyunting tulisan, menata kalimat, dan memberi makna pada setiap huruf yang tersusun. Waktu itu, saya tak tahu bagaimana jalan akan membawanya. Tapi rupanya, Allah memang Maha Mengatur setiap langkah.
Dan pada akhirnya, LPM Suaka menjadi rumah yang membuka jalan itu.Tahun 2016, saya menerima amanah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya: menjadi Redaktur Fresh. Sebuah posisi yang pada awalnya terasa terlalu besar untuk saya genggam, tapi juga begitu menggugah untuk dijalani. Ada rasa bangga, gugup, sekaligus tanggung jawab yang menuntut kedewasaan.
Selama setengah periode mengemban amanah ini, saya belajar bahwa menjadi redaktur bukan hanya tentang memperbaiki tulisan, tapi juga tentang menyunting diri sendiri.
Ada hari-hari penuh tawa dan semangat, saat kami bersama tim menyiapkan rubrik, menata layout, hingga larut malam di ruang redaksi. Ada juga hari-hari penuh tekanan, ketika deadline terasa seperti dinding yang semakin mendekat dan kesalahan kecil bisa menjadi pelajaran besar.
Saya masih ingat bagaimana di awal, tulisan-tulisan yang saya edit kerap menuai kritik. Typo di sana-sini, struktur kalimat yang belum rapi, dan ketidaktelitian yang tak selalu bisa saya elak. Tapi justru dari situlah saya belajar: untuk lebih teliti, lebih sabar, dan lebih rendah hati.
Bahwa setiap kritik bukanlah luka, melainkan cara semesta mengajarkan perbaikan.
Selain dunia online di Suakaonline.com, tabloid Fresh menjadi ruang pembelajaran lain yang tak kalah menantang. Proses penggarapannya melelahkan, namun juga penuh makna. Saya masih sering bertanya dan berdiskusi dengan redaktur sebelumnya, belajar dari pengalaman mereka, mencoba menghidupkan rubrik agar lebih bernyawa.
Lalu datanglah satu momen yang tak akan saya lupakan—peluncuran website Fresh.suakaonline.com.
Bersama tim, kami berlari di antara waktu dan tugas kuliah, menyusun konten dari edisi-edisi lama, menghidupkan kembali tulisan-tulisan yang nyaris terlupa. Saat akhirnya laman itu terbit, rasa lelah terbayar lunas. Ada kebanggaan yang tak bisa dijelaskan—melihat Fresh tumbuh, punya wajah baru, dan bisa menyapa pembaca dengan lebih luas.
Saya tahu, perjalanan saya belum sempurna. Ada kalanya saya belum bisa maksimal, terpecah antara tugas kampus di Saintek dan tanggung jawab sebagai redaktur. Fokus yang terbagi membuat langkah terasa terseret. Tapi saya selalu berpegang pada satu keyakinan:
“Setiap keputusan adalah tanggung jawab.”
Dan tanggung jawab itu mengajarkan saya arti komitmen, juga arti cinta pada sesuatu yang dikerjakan dengan hati.
Terima kasih untuk semua pengurus yang tak pernah lelah memberi semangat dan arahan. Kalian bukan hanya rekan, tapi keluarga—orang-orang hebat yang dikirim Tuhan untuk menjaga bara semangat di Suaka tetap menyala.
Kini, ketika saya menoleh ke belakang, saya sadar: menjadi redaktur bukan sekadar menulis dan menyunting. Ia adalah perjalanan menjadi manusia yang lebih sabar, lebih peka, dan lebih mengenal dirinya sendiri.
Karena di balik setiap kalimat yang rapi, ada proses panjang tentang keberanian, ketulusan, dan cinta pada dunia kata.



0 komentar:
Posting Komentar