Jakarta, kota yang tak pernah benar-benar padam. Dari pagi hingga pagi kembali, kehidupan bergerak tanpa jeda. Jalanan nyaris tak pernah sepi, kendaraan saling berkejaran, dan kantor-kantor dipenuhi suara kesibukan, tekanan, serta tenggat waktu. Di kota ini, orang-orang dari berbagai penjuru Indonesia datang membawa mimpi yang serupa, mencari penghidupan dan berharap pada masa depan yang lebih baik.
Jakarta menjadi rumah bagi berbagai lapisan kehidupan. Dari mereka yang hidup dalam kesederhanaan hingga yang berada di puncak kemapanan, semuanya berjalan berdampingan dalam kesenjangan sosial yang begitu terasa. Aku pun salah satunya, seorang perantau yang datang setelah lulus kuliah dengan membawa harapan dan keberanian untuk membangun karier. Bertahun-tahun menjalani hidup di Jakarta perlahan mengubah cara pandangku. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, cukup untuk membuatku belajar bertahan, menyesuaikan diri, dan memahami hidup dengan cara yang berbeda.
Hal paling awal dan paling kuat yang diajarkan Jakarta kepadaku adalah tentang waktu. Di sini, waktu bukan sekadar jarum jam yang bergerak, melainkan sesuatu yang harus dikejar dan dijaga. Pergi ke kantor bukan hanya soal berangkat dan sampai, tetapi tentang berpacu dengan ritme kota. Aku harus menghitung segalanya, jam berangkat, rute yang dipilih, kemungkinan macet, hingga antrian transportasi umum. Berlari mengejar bus atau kereta, berdiri berdesakan di dalam gerbong, bersenggolan tanpa sempat meminta maaf, bahkan menghadapi drama kecil di jam sibuk, semuanya menjadi bagian dari keseharian. Jakarta mengajarkanku bahwa sedikit lengah saja bisa membuat kita tertinggal.
Awalnya, ritme itu terasa melelahkan dan mengejutkan. Aku tumbuh di daerah tempat hidup masih memberi ruang untuk bergerak lebih pelan. Namun Jakarta berbeda. Di kota ini, menunda bukanlah pilihan. Aku yang dulu sering santai saat bersiap berangkat, perlahan belajar disiplin. Estimasi waktu menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan. Segala sesuatu harus diperhitungkan sejak awal, karena satu kesalahan kecil bisa berujung pada keterlambatan panjang.
Perlahan, Jakarta juga mengubah caraku bersikap. Di daerah, menjaga perasaan dan bersikap santun adalah hal yang utama. Namun di Jakarta, ada aturan tak tertulis yang berbeda. Kota ini menuntut kita untuk lebih tegas, bahkan terkadang sedikit egois, demi kenyamanan dan keamanan diri sendiri. Bukan karena ingin menang sendiri, tetapi karena setiap orang tengah berjuang dengan caranya masing-masing.
Aku pernah merasa heran melihat temanku yang dengan berani menegur pelayan atau memanggil manajer ketika pesanannya keliru. Dulu, hal itu terasa berlebihan bagiku. Namun setelah menjalani hidup di Jakarta, aku mulai memahami bahwa ketegasan bukanlah bentuk ketidaksopanan. Mengoreksi kesalahan, meski terasa tidak nyaman, bisa menjadi cara untuk saling belajar. Kini, aku pun lebih berani menyuarakan hakku. Di kota ini, banyak hal memang harus diperjuangkan, dan rasa tidak enakan sering kali harus disisihkan.
Bekerja di Jakarta juga mempertemukanku dengan banyak orang hebat. Lingkar pertemanan di sini begitu beragam, tidak hanya mereka yang seasal atau seagama. Aku berteman dengan orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia. Obrolan tentang perbedaan budaya, kebiasaan, dan cara pandang hidup membuat wawasan semakin luas. Aku belajar bahwa setiap orang dibentuk oleh latar belakangnya, dan perbedaan bukanlah jarak, melainkan ruang untuk saling memahami.
Jakarta menawarkan segalanya, yang baik maupun yang buruk. Tinggal bagaimana kita memilih dan memfilter lingkungan pertemanan. Aku sendiri tidak memiliki banyak teman dekat di luar kantor dan sahabat lama di kampung, karena pergaulan di Jakarta terasa unik dan dinamis, bergerak cepat seperti kotanya sendiri.
Di kota ini, aktivitas seolah tak pernah habis. Berolahraga di GBK, nongkrong di kafe-kafe yang selalu ramai, melihat orang membawa anjing ke mal dengan stroller, hingga menjalani hari sebagai pekerja korporat dengan jam kerja lebih dari delapan jam. Bahkan saat cuti atau izin, pekerjaan sering kali tetap mengikuti, seolah tak pernah benar-benar memberi jarak.
Namun di balik segala peluang, Jakarta juga menyimpan kenyataan yang tak selalu mudah. Biaya hidup yang tinggi, inflasi, dan kesenjangan sosial terasa begitu dekat. Melihat permukiman padat dengan rumah-rumah petak kerap membuatku terdiam dan bersyukur. Ada kalanya aku bertanya pada diri sendiri, mengapa harus Jakarta? Bukankah kehidupan di kampung terasa lebih tenang dan nyaman? Aku tak pernah benar-benar menemukan jawabannya. Yang kutahu, Jakarta membuka lebih banyak jalan untuk mencari nafkah, sesuatu yang tidak selalu mudah ditemukan di banyak daerah.
Pada akhirnya, hidup di Jakarta mengajarkanku tentang banyak hal. Tentang waktu yang tak bisa ditawar, tentang keberanian bersuara, tentang perbedaan, dan tentang bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota. Jakarta bukanlah kota yang selalu ramah, juga bukan tempat yang cocok untuk semua orang. Namun bagi mereka yang siap secara mental, ekonomi, dan batin, Jakarta bisa menjadi ruang belajar yang jujur.
Dan mungkin, di situlah inti perjalananku di kota ini. Bukan semata tentang seberapa jauh mimpi bisa digapai, tetapi tentang bagaimana aku tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sadar, dan lebih menghargai setiap langkah dalam perjalanan hidup.


0 komentar:
Posting Komentar