Pagi itu, aku menatap layar komputer yang memancarkan cahaya kebiruan—seolah memanggilku untuk terus fokus. Di sebelah kanan, secangkir kopi mulai kehilangan hangatnya; di kiri, semangkuk mie instan yang belum habis menjadi teman setia. Jam digital berdetak tanpa henti, mengingatkanku bahwa dunia kerja memiliki ritme yang tak jauh berbeda dari organisasi dulu: senioritas yang terasa, tenggat waktu yang menekan, dan konflik antar pribadi yang terkadang tak bisa dihindari.
Kini aku bekerja di salah satu Kementerian, meniti karier sebagai analis sistem. Setiap hari bergulat dengan logika dan struktur, tapi jauh di dalam hati aku tahu—aku sudah terbiasa hidup dalam tekanan, terbiasa berpikir dalam keterbatasan, dan terbiasa bekerja dalam tim yang penuh warna. Karena dulu, aku pernah berada di ruang yang tak kalah menantang: dunia organisasi yang mengajarkanku arti kesabaran, kreativitas, dan rasa memiliki.
Sebelum semua itu, jauh sebelum mengenal dunia kerja, aku belajar banyak tentang kehidupan dari ruang-ruang kecil organisasi sekolah. Di sekolah menengah, aku menjadi bagian dari Confidence, majalah sekolah yang menjadi rumah pertamaku dalam dunia tulis-menulis. Kami hanya tiga belas orang, membagi peran seolah redaksi kecil profesional: ada sekretaris, bendahara, humas, reporter, dan editor. Kami rela lembur demi satu edisi majalah, mencetak sembilan ratus eksemplar setiap bulan.
Di ruang sempit penuh tumpukan kertas, kami menulis rubrik demi rubrik—Tokoh, Profil Siswa, Artikel Umum, Nuansa Islami, Humor, Cerpen, Puisi, hingga My Lyric. Aku masih ingat malam-malam ketika kami tertawa di sela kelelahan, pulang larut karena deadline, dan hari Jumat ketika kami nekat keluar sekolah tanpa alas kaki hanya untuk mencari makanan. Seblak di perumahan dekat sekolah habis, jadi kami terus berjalan ke gang kecil di Perum Cipoho Indah, dan menemukan warung sederhana di antara sawah. Mereka menjual makaroni dan minuman dingin—kami makan sambil tertawa, lelah tapi bahagia. Momen kecil itu masih membekas hingga kini, sederhana tapi hangat.
Dari Confidence aku belajar banyak hal: bekerja dalam tim, menghargai waktu, dan menikmati proses menciptakan sesuatu dari nol. Setiap edisi yang terbit adalah bentuk kecil dari kerja keras dan cinta terhadap tulisan. Di sanalah aku pertama kali merasakan makna idealisme—betapa indahnya melihat kata berubah menjadi karya yang bisa dinikmati banyak orang.
Selain menulis, aku juga mengenal dunia lain yang tak kalah memesona: seni peran. Bersama teman-teman, aku bergabung dengan Teater Keudu. Awalnya aku hanya ingin mencoba hal baru, tapi di sana aku justru menemukan cara untuk mengekspresikan diri. Kami menulis naskah, menyiapkan musik, menata busana dan panggung.
Kami tampil di berbagai kesempatan—dari pentas di sekolah, menghibur anak panti, acara perpisahan, hingga Festival Drama Bahasa Sunda di Gedung Rumentang Siang, Bandung. Dengan persiapan matang dan latihan panjang, kami berhasil meraih tiga nominasi: Aktor Terbaik, Suara Terbaik, dan Penampilan Terfavorit. Namun lebih dari piala, yang berharga adalah perjalanannya: keringat, kerja sama, dan tawa di balik layar.
Di Teater Keedu, aku belajar bahwa setiap peran penting, bahkan yang tak tampak di panggung. Aku belajar tentang kejujuran dalam ekspresi, kerja kolektif, dan betapa indahnya melihat orang-orang berbuat sesuatu hanya untuk menyenangkan orang lain. Teater membuatku berani menatap dunia dengan lebih terbuka, menghargai keindahan proses, dan menyadari bahwa ekspresi juga bisa menjadi bentuk doa.
Sebelum semua pengalaman itu, aku lebih dulu ditempa oleh dunia kepemimpinan melalui OSIS. Dua tahun aku mengabdi di sana, hingga dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi V (Humas). Tugasnya tak ringan: mengurus undangan, berkoordinasi dengan guru, memastikan acara berjalan lancar. Aku masih ingat masa-masa menjadi panitia perpisahan sekolah—berlari ke sana kemari, kepala pusing karena revisi rundown, tapi semuanya terbayar ketika tepuk tangan penonton menggema di akhir acara.
Bersama teman-teman OSIS, aku melewati masa ospek, PJMTP, kemping anak baru, hingga event besar sekolah yang penuh tanggung jawab. Dari sana aku belajar tentang komunikasi, rasa hormat, dan arti komitmen. Di usia belasan, kami sudah belajar menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri—dan itu menjadi fondasi yang kuat ketika dewasa.
Aku masih ingat masa-masa itu, ketika kami baru lulus dari sekolah menengah dan melahirkan Awasdisini—sebuah media kecil yang lahir dari keresahan dan rasa ingin tahu. Awasdisini menjadi wadah bagi kami untuk bercerita tentang Sukabumi, tentang hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian. Bersama DRC – Danger Ranger Crew, kami menjelajahi kota, mewawancarai banyak orang, menulis liputan, dan mencoba mengembangkan media yang kami banggakan.
Semangat kami sederhana: ingin membuat sesuatu yang berarti, sekecil apa pun. Kami mengelola situs dengan peralatan seadanya, menulis dari warung kopi, memotret dengan kamera pinjaman, dan berdiskusi hingga larut malam. Tapi di balik kesederhanaan itu, kami menemukan sesuatu yang besar—rasa percaya bahwa suara kecil pun bisa mengguncang, asal jujur dan tulus. Awasdisini menjadi bukti bahwa kebenaran tidak selalu butuh modal besar; kadang cukup dengan pena, keberanian, dan keyakinan untuk menyampaikan cerita.
Di kampus, aku kemudian menemukan rumah baru: Suaka, lembaga pers mahasiswa di UIN Bandung. Awalnya, semua berawal dari hal sederhana—cinta menulis. Aku hanya ingin menulis dan menuangkan isi kepala ke dalam kata-kata. Tapi dari Suaka aku belajar bahwa menulis bukan sekadar merangkai kalimat; ia adalah seni menyampaikan suara banyak orang. Menulis bisa menjadi jembatan antara keresahan dan perubahan.
Kami menyebut diri kami Ranger—bukan karena gagah, tapi karena kami selalu siap menjelajahi medan baru. Aku masih ingat masa wawancara, pelatihan dasar, dan tiga bulan magang yang penuh harap. Setiap tahap terasa seperti inisiasi menuju dunia baru: dunia jurnalistik mahasiswa yang keras, menantang, namun mendewasakan. Begitu resmi menjadi Ranger, kesibukan menjadi bagian dari hidup sehari-hari.
Setiap malam Senin kami rapat redaksi, berdiskusi tentang rubrik yang akan dibahas. Ide-ide mengalir di antara gelas kopi, tumpukan kertas, dan cahaya layar laptop. Deadline tabloid datang setiap bulan; kami riset, wawancara, menulis, mengedit, hingga menemani proses layout dan cetak. Rasanya luar biasa melihat hasil kerja keras kami akhirnya terbaca banyak orang.
Menjelang akhir tahun, kami menerbitkan majalah tahunan. Prosesnya panjang—riset, wawancara, hingga menulis isu sensitif yang kadang mengguncang suasana kampus. Menulis untuk majalah selalu berbeda: harus lebih dalam, lebih tajam, lebih jujur.
Puncaknya adalah 29 Tahun Suaka, acara besar yang kami rancang selama tiga bulan. Aku sempat gagal di bidang dana usaha—mencari sponsor memang bukan hal mudah—tapi kemudian dipercaya menjadi panitia publikasi dan multimedia. Aku belajar membuat video, mengedit poster, dan mengenal dunia kreatif lebih dalam. Hari itu, ketika panggung utama berdiri megah dan ribuan mata menatap, aku tahu lelah itu terbayar. Semua perjuangan, tawa, dan tekanan terasa bermakna.
Empat tahun di Suaka membuatku paham bahwa kerja keras, konflik, dan idealisme adalah bagian dari proses pendewasaan. Mungkin karena itu, ketika dunia kerja kini menuntut profesionalitas, aku tidak kaget. Aku sudah lebih dulu ditempa oleh dunia organisasi—tempat di mana idealisme dan realitas bertemu.
Semua pengalaman itu—OSIS, Confidence, Teater Keedu, Awasdisini, hingga Suaka—membentukku menjadi pribadi yang tak mudah menyerah. Dunia organisasi mengajarkan banyak hal yang tak pernah kudapat di ruang kelas: tentang mendengar, berempati, dan menghargai perbedaan.
Dan kini, ketika aku duduk di kantor, di antara baris-baris kode dan tumpukan pekerjaan, aku masih sering menoleh ke masa lalu. Ke ruang redaksi yang sempit, ke panggung teater yang penuh tawa, ke halaman sekolah yang riuh dengan suara anak-anak baru, hingga ke malam rapat Suaka yang tak pernah sepi dari kopi dan diskusi panjang.
Karena ketika hati senang, malam lembur dan kaki pegal pun terasa ringan.Semoga mimpi yang dulu kami rajut, sekecil apa pun, tetap hidup di dalam kenangan—menjadi energi untuk langkah-langkah yang masih akan kita ambil.


0 komentar:
Posting Komentar