image1 image2 image3

HELLO WORLD I'IAM ULFAH CHOIRUN NISSA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|I'M PROFESSIONAL WEB DEVELOPER

Setiap Perjuangan Punya Ceritanya Sendiri

Setiap langkah dalam hidup selalu meninggalkan jejaknya—ada yang samar, ada yang begitu dalam hingga menuntun arah langkah berikutnya. Kadang aku menoleh ke belakang, bukan untuk menyesali apa yang pernah terjadi, melainkan untuk memahami sejauh mana aku telah berjalan, dan betapa banyak hal yang telah membentukku menjadi seperti hari ini.

Awal tahun 2017 menjadi titik tolak dari sebuah tekad sederhana yang diikrarkan dalam hati: belajar bahasa pemrograman. Saat itu aku belum tahu seberapa panjang jalan yang harus kulalui, tapi aku percaya bahwa setiap baris kode yang kutulis kelak akan menuntunku pada mimpi yang lebih besar.

Namun jauh sebelum itu, kisah ini sudah dimulai—di awal masa kuliah, ketika segalanya terasa asing dan menakutkan. Semester pertama seolah membuka gerbang menuju dunia baru: Fisika, Kimia, Kalkulus, hingga pelajaran agama seperti Bahasa Arab, Al-Qur’an, dan Tafsir.

Aku bukan anak SMA IPA. Aku datang dari dunia SMK, lebih akrab dengan pelajaran sosial dan kejuruan, bukan dengan angka atau rumus ilmiah yang berderet rumit. Setiap simbol terasa seperti bahasa asing, setiap soal seperti tembok tinggi yang tak mudah ditaklukkan. Kadang aku merasa kecil dan tertinggal, tapi di balik rasa takut itu, ada keinginan kuat untuk bertahan.

Malam-malam panjang kulalui sendirian—belajar dengan penuh keraguan, mengikuti les tambahan, berdiskusi dengan teman-teman, dan berusaha menaklukkan rasa minder yang selalu datang tiba-tiba. Nilai Kalkulus yang hanya C sempat membuatku kecewa, tapi kemudian aku menyadari bahwa itu bukan kegagalan, melainkan bukti nyata dari perjuangan, dari doa orang tua, dan dari dukungan teman-teman yang tak pernah berhenti menyemangati. Dari sana aku belajar, bahwa proses seringkali jauh lebih berharga daripada hasil semata.

Sesekali pikiranku melayang ke masa lalu—tentang cinta yang sempat tumbuh di sela-sela lelah, tentang hati yang pernah belajar bertahan meski rapuh. Aku belajar bahwa masa lalu bukan beban, tapi guru yang mengajarkan cara mencintai, memaafkan, dan melangkah lagi ke depan. Ada hal-hal yang memang tak bisa dipaksakan untuk tetap sama, dan terkadang, melepaskan justru menjadi bentuk cinta yang paling tulus.

Doa menjadi tempatku pulang. Aku belajar bahwa ketenangan bukan datang dari banyaknya jawaban, tapi dari keyakinan bahwa setiap hal yang belum terjadi hanya sedang menunggu waktu terbaiknya.

Hingga suatu hari, datanglah sosok yang menginspirasi perjalanan akademikku—seorang dosen Informatika yang kami panggil Juragan. Ia bukan sekadar pengajar, melainkan penyalur semangat. “Ngoding itu wajib,” katanya suatu sore dengan nada tegas namun penuh makna. Kalimat itu menancap dalam, menyalakan api kecil di hatiku. Meski aku merasa lemah dalam logika dan hitungan, aku terus mencoba, karena aku tahu: tekad mampu menembus batas yang tak bisa dijangkau oleh bakat semata.

Belajar bahasa pemrograman ternyata tidak semudah menulis bait indah di selembar kertas. Di balik layar monitor yang bercahaya, ada dunia penuh logika dan fungsi rumit yang harus kupahami. Kadang aku kewalahan, terutama ketika logikaku tertinggal jauh dari teman-teman yang lebih cepat menangkap konsep algoritma. Tapi aku belajar untuk bersabar. Aku bukan seseorang dengan IQ tinggi, namun aku punya kesungguhan yang tak pernah ingin menyerah.

Hari-hariku di kampus dipenuhi perjuangan kecil yang terus berulang—memahami satu fungsi, memperbaiki satu error, hingga akhirnya berhasil menulis program sederhana tanpa kesalahan. Setiap keberhasilan kecil menjadi suluh yang menerangi langkahku, menuntunku untuk terus berjalan, meski pelan.

Aku selalu teringat kata-kata Steve Jobs: “Stay hungry, stay foolish.”
Kalimat itu seperti tamparan lembut, mengingatkanku untuk tidak pernah berhenti merasa bodoh, agar aku tak berhenti belajar. Sebab keangkuhan kecil saja bisa menghentikan langkah, padahal di luar sana ada begitu banyak orang yang berjuang keras untuk mencapai tempat yang sama.

Namun perjalanan itu tak kulalui sendirian. Ada ruang kecil bernama Annba Ruang—tempat kami bertumbuh bersama, tertawa, belajar, bahkan menangis.
Ada yang jago matematika dan fisika, si “juru kunci” saat kami tersesat dalam rumus dan angka.
Ada yang datang dari pesantren, yang dengan lembut mengingatkan kami agar tak lupa arah dan makna hidup.
Ada pula yang begitu mahir dalam pemrograman, dengan sabar mengajari kami memahami logika di balik layar komputer.
Dan aku—gadis biasa dari sekolah menengah kejuruan—belajar banyak dari mereka tentang kerja sama, kesabaran, dan keberanian menghadapi tantangan.

Waktu berjalan, dan kerja keras itu berbuah hasil. Aku masih ingat rasa haru luar biasa saat melihat nilai sempurna 4.00 terpampang di layar sistem akademik, bukan sekali tapi dua kali. Ketika akhirnya IPK 3.7 menghiasi akhir studiku, aku menatap monitor dengan mata berkaca-kaca. Angka itu bukan sekadar nilai—ia adalah simbol dari perjalanan panjang, doa, pengorbanan, dan bukti bahwa tiada perjuangan yang sia-sia.

Lalu datanglah semester tujuh, masa yang penuh ujian dan tekanan.
Tugas menumpuk tanpa ampun—mata kuliah pilihan, laporan kerja praktik, hafalan tahfiz, ujian proposal, UTS, UAS, hingga tugas akhir yang menunggu di ujung jalan. Hari-hari terasa padat, waktu seolah berlari meninggalkan tenaga dan pikiran yang kian menipis. Tapi di tengah semua itu, aku belajar bahwa perjuangan sejati tidak selalu berteriak lantang. Kadang ia hanya berupa langkah kecil yang tetap berjalan meski pelan, namun tak pernah berhenti.

Pengalaman magang menjadi titik balik lain. Bersama teman-teman, kami berusaha memperbaiki sistem yang sempat terbengkalai, menghadapi masalah internal, dan belajar berkolaborasi dalam tekanan. Dari situ aku paham, bahwa kesuksesan tidak lahir dari kehebatan individu, melainkan dari cinta, kerja sama, dan kesabaran yang tumbuh bersama.

Namun tak semua berjalan sesuai harapan. Aku masih ingat jelas betapa kecewanya aku ketika proyek kerja praktik yang kami rancang dengan sepenuh hati, ternyata telah lebih dulu diselesaikan oleh pihak lain. Dunia seolah runtuh seketika. Ada rasa marah, kecewa, dan kehilangan arah. Tapi perlahan aku belajar untuk pasrah. Tidak semua hasil harus terlihat di mata manusia, karena kadang Allah hanya ingin mengajarkan tentang sabar dan percaya pada waktu-Nya.

Ramadhan tiba seperti jeda yang menenangkan di tengah hiruk pikuk dunia kampus. Menghafal Al-Qur’an, bangun untuk tahajud, shalat dhuha, berbagi dalam senyap—semua itu menjadi ruang bagi hatiku untuk bernapas. Aku merasa lebih damai, lebih ringan, dan lebih sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang dunia, tapi juga tentang keseimbangan antara usaha dan doa.

Hingga akhirnya, semester sembilan datang membawa perpisahan dan penantian. Fokusku tak lagi sekadar pada nilai atau ijazah, melainkan pada bagaimana perjalanan ini mengubahku. Aku ingin bukan hanya sekadar lulus, tapi juga menjadi seseorang yang berguna. Aku sadar, gelar hanyalah simbol; yang abadi adalah karakter dan makna dari setiap langkah yang telah ditempuh.

Kini, ketika aku menatap ke depan, menutup bab panjang perjalanan ini, aku menghela napas panjang dan tersenyum. Semua lelah, tangis, dan tawa yang pernah kulalui ternyata adalah bagian dari keindahan yang membentukku. Aku menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih kuat, dan lebih percaya diri menatap masa depan.

Setiap kenangan—di ruang kelas, di layar monitor yang menyala hingga larut malam, di tumpukan buku, di doa orang tua, dan di hati teman-teman yang menemaniku—semuanya menjadi bagian dari diriku yang tumbuh. Dan aku tahu, setiap perjuangan yang pernah kulakukan, sekecil apa pun itu, tidak pernah sia-sia.

Sebab pada akhirnya, aku belajar satu hal yang paling berharga:
segala sesuatu yang diperjuangkan dengan niat baik, kerja keras, dan doa yang tulus akan menemukan waktunya untuk terbayar. Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan dengan cara yang kita bayangkan, tapi selalu di waktu yang paling tepat.

Karena dalam setiap perjuangan, ada janji Tuhan yang diam-diam bekerja—
bahwa setiap usaha yang lahir dari kesungguhan, pada akhirnya akan menemukan balasnya.
Dan aku percaya, setiap tetes air mata, setiap tawa, setiap kegagalan, dan setiap keberhasilan dalam perjalanan ini adalah bentuk lain dari cinta—
cinta pada ilmu, pada diri sendiri, dan pada kehidupan yang terus mengajarkan makna perjuangan.


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar