Tahun 2015, aku pernah menerima hadiah ulang tahun sederhana dari teman kampusku. Bukan hadiah mahal, bukan pula sesuatu yang mewah, hanya sebuah amplop berisi “tiket” menuju negara impianku: Jepang. Tentu saja itu bukan tiket sungguhan. Di usia belasan saat itu, kami hanya punya angan-angan yang terasa begitu jauh untuk diwujudkan. Di dalam amplop itu bukan hanya ada desain tiket menuju negeri sakura, tetapi juga sepucuk pesan yang sangat menyentuh. Dulu aku mengira ia memang sosok yang kreatif seperti diriku, yang suka menulis panjang, membuat desain iseng di komputer, dan merangkai kata-kata untuk orang lain. Namun ternyata aku salah. Ia membuat hadiah itu dengan sungguh-sungguh, padahal sebenarnya ia bukan tipe orang yang pandai merangkai kata atau membuat hal-hal kreatif.
Mungkin dari situlah aku mulai benar-benar mengenali dirinya.
Dan ya, enam tahun kemudian aku menikah dengannya. Dengan laki-laki yang dulu bukan hanya memberiku “tiket” menuju negara impian, tetapi juga tiket kehidupan untuk berjalan bersamaku. Memang tiket sungguhan menuju Jepang itu masih coming soon, tetapi perlahan, insyaAllah, mimpi itu akan menjadi nyata. Bismillah.
Sejak awal bersama, kami sudah memiliki visi dan harapan tentang masa depan: menjadi sarjana, mengejar karier, menikah, membangun keluarga, hingga memiliki buah hati. Namun entah kenapa, mimpi pergi ke Jepang selalu terasa belum waktunya. Kami ingin semuanya terasa spesial. Kami masih bingung ingin pergi sendiri atau bersama travel agent, belum tahu harus menyiapkan biaya berapa, ingin pergi ke kota mana, musim apa, dan itinerary seperti apa. Kami selalu membayangkan semuanya harus sempurna ketika akhirnya sampai di sana.
Sampai akhirnya, setelah lima tahun pernikahan dan berbagai perjalanan yang kami lewati bersama ke berbagai daerah di Indonesia hingga beberapa negara tetangga, kami mulai sadar bahwa mimpi tidak harus selalu menunggu sempurna untuk diwujudkan.
Cahaya itu perlahan mulai terlihat.
Kami mulai belajar memilih rute yang sesuai dengan kemampuan dan budget yang dimiliki. Karena ternyata tidak semua hal bisa dicapai sekaligus dengan cara yang ideal, tetapi bukan berarti tidak bisa diwujudkan sama sekali.
Sekarang aku mulai merenungkan kembali, kenapa dulu aku begitu ingin pergi ke Jepang?
Mungkin karena aku menyukai budayanya. Karena tanpa sadar, banyak hal dari sana yang membentuk diriku hari ini. Dulu aku hanyalah anak dari kota kecil yang bahkan bingung bagaimana caranya bisa mencapai negara itu. Saat SMP hingga SMK, Jepang terasa seperti dunia yang sangat jauh. Aku pernah berpikir ingin sekolah, bekerja, bahkan tinggal di sana, apalagi banyak orang di sekitarku yang pergi ke sana untuk bekerja.
Namun memasuki masa kuliah, aku mulai sadar bahwa mimpi-mimpi itu membutuhkan usaha dan biaya. Dari situlah aku belajar menabung, walaupun sebagai anak kuliah kebutuhan juga tidak sedikit. Lalu setelah bekerja, prioritas hidup mulai berubah.
Aku dan dia memutuskan untuk memperjuangkan hubungan kami menuju pernikahan terlebih dahulu. Kami mulai benar-benar menabung untuk masa depan bersama, hingga akhirnya kami menikah di tahun 2021, di tengah masa pandemi.
Pandemi membuat mimpi itu kembali tertunda. Banyak batasan perjalanan dan akses ke luar negeri. Memasuki tahun 2023, kesibukan pekerjaan juga semakin padat. Kemudian di awal tahun 2024, Alhamdulillah aku dipercaya untuk hamil. Di titik itu kami sadar bahwa fokus utama kami saat itu adalah mempersiapkan kehadiran buah hati menjadi tahun kami benar-benar membenahi kehidupan. Ada banyak kebutuhan tak terduga, biaya pendidikan, dan berbagai prioritas baru yang harus didahulukan.
Hingga akhirnya di tahun 2026 ini, Allah mulai membuka jalan. Kami diberikan rezeki dan kesempatan untuk kembali merencanakan perjalanan berdua ke luar negeri. Aku sadar, terkadang bukan karena Allah tidak mengabulkan keinginan kita, tetapi karena Allah sedang menyiapkan waktu terbaiknya. Ada banyak hal yang dulu terasa mustahil, ternyata perlahan bisa tercapai ketika diri kita juga ikut bertumbuh.
Mungkin inilah arti sebenarnya dari “melompat lebih tinggi.”
Bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tetapi tentang bagaimana kita terus berjalan, bertahan, dan percaya bahwa setiap mimpi akan menemukan waktunya sendiri. Ternyata mimpi tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu waktu terbaik untuk kembali dipeluk. Sekarang kami mulai menghidupkan lagi mimpi-mimpi lama itu. Bukan lagi sebagai angan anak remaja, tapi sebagai dua orang dewasa yang sudah sama-sama melewati banyak hal bersama.
Aku percaya kadang Allah belum mengabulkan sesuatu bukan karena kita tidak pantas mendapatkannya, tapi karena Allah sedang mempersiapkan versi terbaik dari diri kita saat mimpi itu akhirnya datang. Karena ternyata melompat lebih tinggi bukan soal siapa yang paling cepat sampai. Tapi tentang siapa yang tetap berjalan meski hidup berkali-kali mengubah arah.
Dan sejauh apa pun mimpi itu terlihat hari ini, jangan buru-buru menyerah. Bisa jadi yang sedang kita tunggu bukan tentang waktunya mimpi datang, tapi tentang diri kita yang sedang dipersiapkan untuk menerimanya. Sebab beberapa mimpi memang tidak datang tepat waktu menurut kita, tapi selalu datang di waktu terbaik menurut Allah.


0 komentar:
Posting Komentar