“Ayo maju mobilku melaju cepat
Dengan membawa impianku
Semangatlah tuk melaju lebih cepat
Esok hari cerah menanti.”
Lagu itu dulu sering terdengar di pagi akhir pekan, keluar dari televisi tabung yang layarnya sedikit berbayang. Let’s & Go hadir bersama deru mobil-mobil kecil yang melesat di lintasan, membawa imajinasi kami ikut berlari. Bagi anak-anak generasi milenial, kartun ini bukan sekadar tentang Tamiya dan balapan, melainkan tentang mimpi-mimpi kecil yang ingin sampai lebih dulu. Tentang keyakinan polos bahwa dengan semangat, apa pun bisa melaju lebih cepat.
Begitu matahari naik dan acara televisi selesai, dunia kami pun berpindah ke luar rumah. Siang hari adalah waktunya bermain. Tidak ada janji lewat telepon, apalagi pesan singkat. Kami tidak saling mengabari, tetapi entah bagaimana, semua anak seolah memiliki kesepakatan tak tertulis bahwa inilah waktunya berkumpul. Satu per satu keluar rumah, lalu bertemu begitu saja di lapangan, di gang, atau di tanah kosong yang sejak lama menjadi arena bermain.
Permainan yang paling sering kami mainkan tentu saja petak umpet. Bukan sekadar bersembunyi, permainan ini tentang strategi dan keberanian. Ada petak umpet orang, ada juga petak umpet sandal atau barang. Saat hompimpa, semua berusaha keras agar tidak jadi penjaga. Menjadi penjaga berarti kalah duluan, dan jujur saja, itu menakutkan.
Soal tempat bersembunyi, anak-anak zaman itu luar biasa kreatif. Ada yang meringkuk di balik tembok, rebah di rumput tinggi, sampai yang paling nekat bersembunyi di gorong-gorong. Pokoknya tempat yang sulit dijangkau. Pada petak umpet barang, selain pintar menyembunyikan, kami juga harus punya satu kemampuan penting: berlari. Untuk menang, kami harus menyentuh tembok markas tanpa tertangkap penjaga, sekaligus menyelamatkan teman-teman yang sudah ketahuan. Permainan ini biasanya hanya dimainkan siang atau sore hari. Kalau sudah malam, suasananya berubah. Katanya horor, takut disembunyikan setan. Sekarang baru terasa, itu hanyalah cara orang tua agar kami pulang dan tidak bermain terlalu larut.
Permainan lain yang tak kalah seru adalah lompat tali. Talinya dirangkai dari karet gelang yang disambung panjang. Tingkatannya terasa khas, mulai dari mata kaki, naik ke lutut, pinggang, pusar, dada, kepala, hingga fase yang disebut merdeka. Mengingatnya sekarang, rasanya aneh membayangkan tubuh kami dulu terasa begitu ringan, bisa melompat tinggi tanpa banyak berpikir. Permainan ini identik dengan anak perempuan, sementara anak laki-laki sering gengsi ikut bermain, meski tak jarang diam-diam memperhatikan.
Lalu ada gobak sodor atau galasin, permainan yang benar-benar menguji kekompakan, kecepatan, dan kemampuan membaca situasi. Dua tim saling berhadapan. Satu tim menjaga garis, satu tim berusaha menembus hingga garis terakhir. Semakin banyak pemain, semakin panjang jalurnya. Satu kesalahan kecil bisa membuat seluruh tim gagal dan harus berganti peran. Namun jika semua berhasil menembus hingga akhir, rasanya seperti menang besar, penuh sorak dan tawa.
Bentengan pun tak kalah menegangkan. Dua tim, dua benteng yang ditandai dengan batu atau benda tertentu. Misinya menangkap lawan hingga mereka kehabisan orang yang bisa menjaga benteng. Di sini strategi benar-benar diuji. Siapa yang bertahan, siapa yang menyerang, siapa yang mengalihkan perhatian. Adrenalin selalu naik, terutama saat mencoba menyelamatkan teman yang tertangkap.
Ada juga permainan sederhana yang selalu memancing tawa, yaitu tepok nyamuk. Tidak ada tim, hanya dua penjaga yang berusaha menepuk pemain lain. Jika tertangkap, pemain harus berpelukan sebagai tanda tidak bisa diambil lagi. Penjaga lalu mencari orang lain. Semakin ramai yang bermain, semakin kacau dan semakin seru.
Permainan yang menguras tenaga juga banyak. Kasti dan sepak bola hampir selalu jadi pilihan. Ada pula satu permainan tradisional yang kini jarang dikenal, menggunakan satu tongkat panjang dan tiga kayu kecil. Kayu kecil diletakkan di atas dua penyangga, lalu dipukul dengan tongkat. Jika kayu itu terlihat dan tertangkap lawan, pemain dinyatakan kalah. Permainan ini menuntut ketepatan, kekuatan, dan keberanian.
Di antara semua permainan itu, ada istilah-istilah khas yang kini jarang terdengar. Anak bawang untuk anak kecil yang ikut bermain tetapi tidak dihitung menang atau kalah. Ada juga kere bung-bung, sebutan bagi anak yang terus-terusan menjadi penjaga. Kami bermain tanpa memandang usia. Anak besar, kecil, laki-laki, perempuan, semua bercampur. Kadang kami juga memasak bersama di saung sawah, membuat nasi liwet dengan peralatan seadanya, lalu makan ramai-ramai ditemani angin sore yang sejuk.
Permainan individu pun punya tempat tersendiri. Ada sondah, dengan kotak-kotak bernomor yang digambar di tanah. Kami melompat dengan satu kaki, lalu melempar batu sebagai penanda. Jika lemparannya tepat, kotak itu menjadi wilayah kami dan tidak boleh diinjak pemain lain. Kalau yang bermain banyak, melewati kotak-kotak itu jadi tantangan tersendiri. Belum lagi bekel, congklak, monopoli, main gambar, hingga permainan kartu seperti gapleh, cangkulan, atau cari babi.
Permainan kartu sering dimainkan saat bulan Ramadan karena tidak terlalu menguras tenaga. Di bulan itu, hari-hari anak kecil diisi dengan banyak kegiatan lain. Mengisi buku harian Ramadan, ngabuburit bersama teman, menghabiskan waktu dengan menonton televisi atau tidur siang, karena malamnya sudah pasti ada agenda tarawih dan bangun sahur.
Selain Ramadan, bulan yang paling ditunggu-tunggu adalah Agustus. Kampung terasa semakin hidup. Turnamen bola dan voli antar RT atau RW menjadi hiburan rakyat. Setiap sore lapangan dipenuhi penonton yang mendukung tim jagoannya. Ada sorak-sorai, kebersamaan, dan momen makan bersama yang terasa hangat. Lapangan bukan sekadar tempat bertanding, tetapi juga ruang berkumpul dan saling menguatkan.
Bagi anak-anak, Agustusan adalah agenda besar, rasanya seperti sebuah perayaan penting. Ada persiapan yang membutuhkan usaha dan kesabaran. Sejak aku masih TK hingga lulus SD, hampir setiap tahun kami selalu terlibat dalam pentas rakyat. Lagu-lagu yang dibawakan mengikuti tren saat itu. Ada lagu dari Barat, Jepang, atau Korea, tetapi yang paling melekat justru lagu-lagu India. Dengan irama khasnya, kami menari berlenggak-lenggok memakai kostum sederhana yang menyerupai pakaian tradisional India.
Setiap sore, latihan menari menjadi agenda rutin. Kadang dilakukan di rumah teman, kadang di rumah pengajar tari. Mereka mengajar dengan tulus, semata-mata karena hobi dan kecintaan pada seni, bukan demi imbalan apa pun. Dari sanalah aku belajar tentang disiplin, kebersamaan, dan kegembiraan yang lahir dari proses, bukan hanya dari hasil.
Sebagai seseorang yang lahir di generasi milenial akhir, aku benar-benar merasakan betapa cepatnya perubahan zaman. Sekitar sepuluh tahun hidupku dijalani tanpa ponsel dan komputer. Hari-hari diisi dengan bermain bersama teman, menonton televisi, mendengarkan radio, dan memutar kaset. Kesederhanaan itu justru meninggalkan kesan yang begitu dalam.
Memasuki masa remaja, dunia mulai berubah. Televisi, ponsel, dan warnet semakin marak. Banyak anak mulai melirik permainan baru di dunia maya. Media sosial seperti Friendster dan Facebook muncul, disusul game online seperti Lost Saga dan permainan tembak-tembakan PointBlank yang membuat anak-anak betah berlama-lama di rumah. Ponsel pun semakin canggih. Komunikasi terasa lebih mudah, seolah mendekatkan yang jauh, namun perlahan menjauhkan yang dekat. Jujur saja, aku pun ikut menikmati dunia baru itu.
Sesekali aku melihat kembali lapangan tempat kami dulu bermain. Masih ada beberapa anak di sana, tetapi tak lagi seramai dulu. Tidak lagi dipenuhi anak-anak dari berbagai usia, dari yang sudah besar hingga balita, yang tumpah ruah bermain bersama. Mungkin karena zaman memang telah berganti. Permainan yang dulu menuntut kebersamaan kini bisa digantikan oleh permainan di layar ponsel, yang tetap menghubungkan banyak orang, meski dengan cara yang berbeda.
Aku merasa beruntung lahir di masa peralihan. Masa di mana aku masih sempat merasakan indahnya persahabatan yang nyata, hangatnya suasana kampung yang penuh kekeluargaan, serta permainan sederhana yang kini semakin sulit dijumpai, tetapi kenangannya akan selalu tinggal.


0 komentar:
Posting Komentar