Bernyanyi, menari, berdialog, hingga mencoba berbagai ekspresi menjadi hal-hal baru yang kupelajari di dunia teater. Walau hanya tiga tahun, kenangan yang tersimpan terasa begitu dalam. Aku selalu teringat momen latihan bersama demi menampilkan pertunjukan terbaik yang mampu mengundang gelak tawa dan tepuk tangan penonton.
Ada banyak hal yang masih kuingat, termasuk berbagai kegilaan yang sekarang terasa lucu sekaligus sedikit memalukan jika dikenang kembali. Saat pertama kali masuk teater, kami harus menjalani masa ospek dengan mengamen di alun-alun kota tanpa alas kaki. Kami berjalan berkeliling sambil bernyanyi dan meminta uang layaknya pengamen jalanan. Katanya, itu dilakukan untuk melatih rasa percaya diri.
Aku juga masih ingat pertama kali tampil di sekolah. Aku sudah lupa acaranya apa, tetapi saat itu aku mendapat peran sebagai seorang nenek-nenek. Entah mengapa aku begitu total dalam memerankannya. Aku berjalan membungkuk dengan langkah sedikit bergoyang, dan tanpa disangka tingkah itu membuat penonton tertawa.
Memasuki tahun kedua, kami mulai menjadi pengurus yang benar-benar serius mengembangkan Teater Kedeu. Kami membimbing adik-adik baru, membuat kaos latihan dengan desain yang menurut kami sangat keren pada masanya, dan mulai mempersiapkan berbagai pertunjukan dengan lebih matang.
Salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika kami mengikuti lomba teater tingkat Jawa Barat. Saat itu kami memilih naskah berjudul “Baruang”, sebuah cerita berbahasa Sunda tentang seorang wanita hamil yang hidupnya ditolong oleh seorang sopir truk yang ternyata merupakan pengantar narkoba.
Rasanya masih sangat jelas diingat. Andai komputer lamaku masih ada, karena semua file videonya tersimpan di sana. Aku masih ingat teman-teman yang berperan sebagai mafia dengan wajah sangar tetapi tetap terlihat lucu. Dalam pertunjukan itu aku memang tidak memiliki peran utama, hanya menjadi penari latar yang masuk ke set panggung untuk membangun suasana. Pertunjukan juga diiringi musik-musik yang membuat suasana semakin dramatis hingga akhirnya kami berhasil membawa pulang tiga piala.
Di teater kami tidak hanya belajar menjadi penampil. Saat perlombaan itu aku juga ditunjuk menjadi ketua kru yang mengurus perlengkapan dan keuangan. Kami pernah menggalang dana untuk keberangkatan lomba ke Bandung dengan berkeliling ke setiap kelas sambil latihan dan memperlihatkan penampilan kami. Alhamdulillah, walaupun banyak drama, pihak sekolah tetap memberikan dukungan penuh. Bersama guru-guru, kami berangkat ke Bandung dan menginap beberapa hari di Gedung Kesenian Rumentang Siang.
Menjelang kelas 12, saat kami menjadi angkatan paling senior, kami kembali
menampilkan sebuah pentas drama untuk acara perpisahan sekolah. Aku membuat naskah berjudul “Iteung in Wonderland”, tentang seorang gadis desa yang tiba-tiba terjatuh ke dalam sumur dan masuk ke dunia kerajaan. Cerita fantasi itu terasa sangat cocok dengan kostum yang kami gunakan saat itu.
Dalam pertunjukan tersebut aku berperan sebagai tokoh jahat yang ingin menghancurkan kerajaan bersama dua pria jahat lainnya. Pertunjukannya terasa sangat meriah karena ada humor, adegan aksi, hingga bagian tragis yang membuat cerita terasa hidup. Namun bagian yang paling berkesan adalah di akhir pertunjukan. Ketika semua orang mengira pentas sudah selesai, kami tiba-tiba menyebar ke tengah penonton dan melakukan Harlem Shake bersama. Jika saat itu TikTok sudah ada, mungkin video kami akan viral.
Masih banyak kegiatan lain yang kami lakukan. Mulai dari tampil di acara orientasi siswa baru, pentas di panti asuhan, hingga berbagai kegilaan lain saat membimbing adik-adik baru. Dari sana kami menjadi sangat dekat meskipun berasal dari jurusan yang berbeda-beda.
Namun seperti organisasi pada umumnya, tentu ada konflik di dalamnya. Ada konflik dengan alumni, konflik dengan pelatih, hingga konflik internal di antara kami sendiri. Aku juga pernah merasa kecewa ketika menjelang pentas terakhir angkatan kami, aku dan beberapa teman tidak diberi informasi atau tidak diajak terlibat dalam sebuah proyek pertunjukan bertema zombie. Rasanya memang sedikit menyakitkan, tetapi mungkin saat itu masa kepengurusan kami memang sudah berada di penghujung.
Di balik semua itu, aku sangat bersyukur pernah menjadi bagian dari teater ini. Di sana aku belajar lebih berani mengekspresikan diri, lebih percaya diri tampil di depan banyak orang, dan belajar memahami peran apa yang bisa kulakukan dalam sebuah tim. Aku juga pernah melakukan banyak hal gila di masa muda yang mungkin tidak akan bisa kulakukan lagi sekarang.
Terima kasih untuk anak-anak teater yang telah mengajarkanku bahwa tidak ada yang namanya keajaiban panggung. Semua yang terlihat indah di atas panggung lahir dari kerja keras dan latihan yang dilakukan berulang kali.
Pelajaran itu ternyata sangat terpakai dalam kehidupan. Bahwa semua hal yang ingin kita capai membutuhkan proses, latihan, dan keberanian untuk terus mencoba hingga akhirnya mendapatkan hasil yang terbaik.




0 komentar:
Posting Komentar