image1 image2 image3

HELLO WORLD I'IAM ULFAH CHOIRUN NISSA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|I'M PROFESSIONAL WEB DEVELOPER

Kenangan yang Tak Pernah Pergi

Kursi yang biasa Bapak gunakan untuk menonton acara televisi kesayangannya masih berada di tempat yang sama. Tak ada yang berubah. Hanya sosok yang dahulu selalu mengisinya kini telah lama tiada.

Hampir setiap malam, setelah seharian bekerja, Bapak mengakhiri harinya di sana. Duduk di kursi favorit yang menghadap televisi, menikmati berbagai acara yang silih berganti di layar. Kadang berita, kadang acara komedi yang selalu berhasil mengundang tawanya. Melihatnya tertawa menghadirkan rasa tenang yang sulit kujelaskan. Seolah segala lelah dan beban yang dipikulnya sepanjang hari menghilang, meski hanya untuk sesaat.

Dulu, pemandangan itu terasa begitu biasa karena hadir hampir setiap hari. Aku tak pernah membayangkan bahwa suatu saat nanti, justru momen-momen sederhana itulah yang akan menjadi kenangan yang paling kurindukan. Kini kursi itu masih tetap berada di tempatnya, tetapi kehangatan yang dulu memenuhi ruang keluarga telah ikut pergi bersamanya.

Sering kali aku memejamkan mata dan membiarkan ingatan membawaku kembali ke masa-masa ketika kami masih bersama.

Bapak...

Bapak...

Sebuah panggilan yang selama tujuh tahun terakhir hanya bisa kuucapkan dalam rindu.

Bagiku, Bapak adalah cinta pertamaku. Di balik sorot matanya yang tajam dan wajahnya yang tegas, tersimpan kasih sayang yang begitu besar. Sosoknya memang membuatku segan, tetapi tidak pernah membuatku takut. Justru di balik ketegasannya, selalu ada kelembutan yang menghadirkan rasa aman dan nyaman dalam setiap hari yang kami lalui bersama.

Kini aku semakin menyadari betapa besar perjuangan yang ia lakukan demi keluarganya. Mungkin ada begitu banyak keinginan yang harus ia relakan agar kami bisa tumbuh dengan layak dan bahagia. Saat masih kecil, aku tidak pernah memikirkannya. Baru setelah dewasa aku mengerti bahwa cinta seorang ayah sering kali hadir dalam bentuk pengorbanan yang tak pernah diceritakan.

Setiap hari hidupnya dipenuhi kesibukan. Pagi-pagi sekali ia mengantarkanku ke sekolah, lalu bekerja tanpa mengenal lelah. Bahkan setelah pulang ke rumah, pekerjaannya belum benar-benar selesai. Telepon terus berdering, tamu datang silih berganti, dan berbagai urusan masyarakat menunggunya untuk diselesaikan. Sebagai pegawai kantor desa, Bapak bukan hanya menjalankan pekerjaannya, tetapi juga menjadi tempat banyak orang meminta bantuan.

Di tengah semua kesibukan itu, ada satu hal yang tak pernah ia lewatkan: meluangkan waktu untukku.

Ia selalu menanyakan bagaimana hariku, mendengarkan cerita-ceritaku tentang sekolah, dan memperhatikan setiap hal yang sedang kusukai. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa, kini justru menjadi kenangan yang paling hangat.

Aku masih ingat saat tiba-tiba jatuh hati pada olahraga bulu tangkis. Tanpa banyak bertanya, ia membelikanku sebuah raket agar aku bisa mulai berlatih. Ketika aku ingin belajar bersepeda, ia kembali memenuhi keinginanku dengan menghadiahkan sebuah sepeda. Bahkan saat aku mulai mengidolakan Persib, ia membelikanku jersey beserta berbagai atributnya.

Entah mengapa, apa pun yang kusukai seolah selalu mendapat dukungannya.

Kegemaranku menonton film dan drama Asia pun tak luput dari perhatiannya. Sepulang bekerja, ia sering duduk menemaniku menonton televisi. Sesekali ia bertanya tentang jalan cerita yang sedang kutonton. Kini aku sadar, mungkin sebenarnya ia bukan ingin mengetahui alur filmnya, melainkan hanya ingin memiliki lebih banyak waktu untuk mengobrol denganku.

Tak jarang ia juga membelikanku kaset-kaset film untuk menambah koleksiku. Bahkan ketika aku mulai menyukai action figure, ia pernah menghadiahkanku sebuah action figure Naruto yang hingga hari ini masih kuingat dengan jelas.

Bapak tidak pernah menuntutku menjadi anak yang harus selalu juara kelas atau memenuhi harapan-harapan yang tinggi. Nasihat yang paling sering ia ucapkan justru sangat sederhana.

"Yang penting sekolahnya sungguh-sungguh. Nanti kalau sudah selesai sekolah atau kuliah, lanjut kerja."

Kalimat itu masih teringat jelas sampai sekarang. Selain itu, ia tidak pernah memaksaku menjadi seseorang yang ia inginkan. Ia membiarkanku memilih jalanku sendiri dan mempercayai setiap keputusan yang kuambil.

Salah satu hal yang paling kusyukuri hingga hari ini adalah keputusan Bapak mengenalkanku pada komputer sejak kecil. Sebelum kami memiliki komputer sendiri di rumah, ia sering mengajakku ke kantor saat hari libur. Di sana aku bebas bermain game, belajar mengetik, dan mengenal sesuatu yang saat itu masih terasa begitu asing bagiku.

Pada awal tahun 2000-an, komputer bukanlah barang yang mudah ditemui. Tidak semua orang memilikinya. Namun Bapak memberiku kesempatan untuk mengenalnya lebih dulu.

Tak lama kemudian, sebuah komputer akhirnya hadir di rumah kami. Dari sanalah semuanya bermula. Aku mulai mencoba banyak hal, belajar sendiri, rasa penasaranku terus bertambah, hingga akhirnya mantap memilih jurusan komputer. Tanpa kusadari, keputusan besar dalam hidupku itu berawal dari langkah kecil yang diberikan Bapak sejak aku masih anak-anak.

Ia selalu bangga melihat setiap proses yang kulalui. Meski tidak begitu memahami dunia yang kupelajari, ia selalu berusaha mengikuti ceritaku.

"Oh... jadi bikin website seperti itu."

"Oh... jadi semuanya dibuat pakai kode-kode, ya."

Kalimat-kalimat sederhana itu masih teringat jelas di kepalaku. Walaupun tidak benar-benar mengerti, ia selalu mendengarkan dengan penuh perhatian. Dari masa sekolah hingga kuliah, Bapak adalah pendengar yang paling setia bagi setiap cerita yang kubawa pulang.

Sebaliknya, aku pun senang bisa melakukan sesuatu untuknya. Sedikit demi sedikit aku mulai lebih mahir menggunakan komputer. Aku sering membantu menyelesaikan pekerjaan yang belum bisa ia kerjakan sendiri. Rasanya membahagiakan bisa meringankan bebannya, meski hanya melalui hal-hal sederhana.

Bapak juga selalu menjadi orang pertama yang siap hadir setiap kali kubutuhkan. Ketika aku harus dijemput di tengah malam, ia datang tanpa banyak bertanya. Saat aku harus berangkat pagi-pagi sekali, ia sudah siap mengantarku. Entah sejauh apa jaraknya atau selelah apa tubuhnya, ia selalu berusaha ada.

Namun, ada satu kenangan yang hingga hari ini masih menyisakan penyesalan di dalam hatiku.

Saat itu aku sudah merantau dan berjanji akan pulang pada hari tertentu. Ternyata ada banyak kegiatan yang membuat jadwal kepulanganku berubah. Aku terlalu sibuk hingga lupa mengabarinya.

Yang terjadi setelah itu selalu membuat dadaku sesak setiap kali mengingatnya.

Bapak tetap datang ke terminal.

Ia menungguku di sana.

Mungkin karena begitu rindunya, ia benar-benar percaya aku akan pulang hari itu. Ia menunggu cukup lama, hingga akhirnya telepon dariku berdering. Dengan perasaan bersalah aku mengatakan bahwa kepulanganku harus ditunda.

Ia tidak marah. Tidak pula mengeluh.

Namun setiap kali mengingatnya, aku selalu membayangkan bagaimana ia pulang hari itu dengan membawa rasa kecewa yang tak pernah ia ucapkan.

Terminal itu memang menyimpan begitu banyak kenangan kami.

Setiap kali aku kembali ke perantauan, Bapak selalu mengantarku sampai ke sana. Ia tidak pernah langsung pulang setelah bus berangkat. Ia akan tetap berdiri di persimpangan, menunggu hingga bus yang kutumpangi benar-benar menghilang dari pandangannya. Dari kejauhan, ia selalu melambaikan tangan sebagai ucapan selamat jalan.

Baru sekarang aku mengerti, lambaian tangan itu bukan sekadar perpisahan. Di dalamnya tersimpan doa, kekhawatiran, dan harapan agar anaknya selalu baik-baik saja di tempat yang jauh.

Begitu banyak cinta yang kuterima darinya.

Mungkin karena itulah, jauh di dalam hatiku selalu ada harapan bahwa sosok yang kelak mendampingiku harus memiliki kebaikan yang sama seperti Bapak. Seseorang yang mampu melindungi, memberikan rasa aman, membahagiakan, dan menjadi tempat pulang untuk bercerita.

Hingga akhirnya, pada tahun 2018, tepat setahun sebelum kepergiannya, aku mulai mengenalkan seseorang yang kucintai kepada Bapak.

Pertemuan mereka hanya terjadi dua kali. Ia tidak banyak bertanya, juga tidak banyak berkomentar. Seolah ia percaya bahwa lelaki yang kupilih adalah seseorang yang kelak akan menjagaku menggantikan dirinya.

Saat ulang tahunku yang ke-24, aku mengundang keluarga dan teman-teman untuk merayakannya bersama. Saat itu kondisi kesehatan Bapak sebenarnya sudah mulai menurun.

Namun malam itu ia tetap tersenyum.

Ia melihatku dikelilingi orang-orang yang kusayangi, telah menyelesaikan kuliah, memiliki pekerjaan yang baik, dan menemukan seseorang yang akan menemaniku menjalani hidup.

Kini aku sering berpikir, mungkin malam itu ia merasa sedikit lebih tenang. Seolah tugasnya sebagai seorang ayah perlahan telah selesai. Ia telah mengantarku tumbuh hingga dewasa, menyaksikanku berdiri di jalanku sendiri, dan percaya bahwa setelah dirinya nanti, akan ada seseorang yang meneruskan tugasnya untuk menjagaku.

Kini, setiap kali melihat kursi itu, aku tidak lagi hanya melihat sebuah tempat duduk.

Aku melihat seluruh kenangan yang pernah tumbuh di sana.

Tentang tawa yang memenuhi rumah. Tentang cerita-cerita sederhana sepulang kerja. Tentang tangan yang selalu siap menggenggamku ketika aku membutuhkan pertolongan. Tentang seorang ayah yang mungkin tak pernah pandai mengucapkan rasa sayang melalui kata-kata, tetapi membuktikannya sepanjang hidup lewat setiap perhatian, pengorbanan, dan tindakan sederhana.

Baru setelah kehilangannya aku benar-benar memahami bahwa cinta seorang ayah sering kali tidak hadir dalam kalimat-kalimat indah. Cinta itu hadir dalam waktu yang ia luangkan, dalam lelah yang ia sembunyikan, dalam doa yang tak pernah ia ceritakan, dan dalam setiap langkah kecil yang tanpa kusadari telah mengantarkanku menjadi diri yang sekarang.

Dan setiap kali aku memandang kursi itu, aku tahu bahwa yang paling kurindukan bukanlah kursinya, melainkan sosok yang pernah mengisinya dengan begitu banyak cinta.

Hannah, maaf bila Apih  belum bisa menemani dan melihat tumbuh kembangmu. Semoga tulisan ini kelak bisa menjadi cerita indahmu, bahwa kau memiliki Apih yang dulu benar-benar menyayangi Mami

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar