Tik... tok... tik... tok...
Suara jam dinding menjadi teman Mami saat berjaga di sampingmu. Malam yang dulu selalu berlalu begitu cepat karena tertidur lelap, kini terasa lebih lama, sewaktu-waktu kamu bisa terbangun untuk minum susu, menangis, atau sekadar sulit tidur kembali. Sementara ketika akhirnya kamu terlelap, Mami masih harus melanjutkan pumping untuk menyiapkan stok ASI-mu.
Saat usiamu sekitar dua bulan, pernah ada satu masa ketika kamu terbangun sekitar pukul sebelas malam dan baru bisa tidur kembali menjelang pagi. Entah karena sedang mengalami growth spurt atau ada hal lain yang membuatmu tidak nyaman, malam itu kamu jauh lebih rewel dari biasanya. Mami menggendongmu berjam-jam sambil terus berdoa agar kamu sehat, bisa tidur nyenyak, dan Mami diberi kekuatan untuk terus menjagamu.
Ada juga malam ketika hanya ada Mami dan kamu di lantai atas rumah karena Papa sudah kembali bekerja di Jakarta. Nenek dan Abah berada di lantai bawah. Malam itu kamu muntah cukup banyak hingga kami harus berganti pakaian. Setelah semuanya selesai, Mami kembali menggendongmu sambil bernyanyi pelan, sesekali membuka ponsel agar tidak ikut tertidur, lalu tersenyum ketika akhirnya kamu kembali tenang.
Lucunya, kamu bukan bayi yang harus selalu diayun untuk bisa tidur. Asal lampu diredupkan dan musik dari gantungan box bayi mulai berbunyi, biasanya kamu akan terlelap. Namun, tempat favoritmu justru bukan box bayi, melainkan kursi car seat. Bahkan sampai usia hampir delapan bulan, kursi itu selalu berhasil membuatmu merasa paling nyaman.
Seiring waktu, semuanya perlahan berubah. Pola tidurmu mulai lebih teratur. Kamu memang masih beberapa kali terbangun untuk minum susu, tetapi tidak lagi sepanjang malam. Memasuki usia sembilan bulan, kamu bahkan sudah bisa tidur lebih lama hingga pagi dan sesekali minum dari botol yang sudah Mami siapkan sendiri.
Kalau Mami mengingat semua malam itu sekarang, rasanya justru di sanalah Mami belajar menjadi seorang ibu.
Mami belajar bertahan ketika tubuh sangat lelah, belajar menenangkan diri saat rasa cemas datang, dan belajar bahwa membesarkan anak bukan tentang menjadi ibu yang sempurna, melainkan tentang terus hadir, meski tenaga hampir habis.
Jujur, ada masa ketika Mami merasa sangat kelelahan. Perubahan hormon setelah melahirkan membuat suasana hati sering naik turun. Mami juga kerap dihantui kekhawatiran tentang tumbuh kembangmu. Namun semua itu terasa jauh lebih ringan karena Mami tidak pernah benar-benar sendiri. Ada Papa, Nenek, Abah, Aunty, Om Isan, keluarga, dan teman-teman yang selalu menguatkan.
Ketika masa cuti berakhir, Mami harus kembali bekerja di Jakarta. Sejak saat itu, banyak malam yang kamu lalui bersama Nenek dan Abah di Bandung. Kelak, Mami ingin kamu tahu bahwa mereka menyayangimu sepenuh hati. Mereka ikut menjagamu, menenangkanmu saat terbangun, dan merawatmu dengan kasih sayang yang tidak pernah kurang sedikit pun.
Terima kasih, Hannah.
Semua perjuangan ini bukan untuk meminta balasan. Mami, Papa, dan semua orang yang menyayangimu melakukannya dengan tulus karena cinta.
Suatu hari nanti, mungkin kamu tidak akan mengingat malam-malam panjang itu. Tetapi Mami akan selalu mengingatnya sebagai malam-malam yang mengajarkan arti perjuangan, kesabaran, dan cinta yang tumbuh bersamamu.


0 comments:
Posting Komentar