image1 image2 image3

HELLO WORLD I'IAM ULFAH CHOIRUN NISSA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|I'M PROFESSIONAL WEB DEVELOPER

Menghidupi Mimpi Lewat Tangan Mama

Ada pepatah yang mengatakan bahwa buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Kalimat itu terasa begitu nyata dalam hidupku. Banyak sifat, karakter, dan nilai hidup dari Mama dan Bapak yang melekat kuat dalam diriku. Aku tahu, semua pencapaianku hari ini bukan semata-mata karena usahaku sendiri. Di baliknya ada perjuangan panjang, doa yang tak pernah putus, serta ajaran hidup yang Mama dan Bapak tanamkan sejak aku kecil. Terutama Mama, sosok yang selalu membuatku kagum karena mampu meraih begitu banyak hal meski telah menjalani peran sebagai seorang ibu.

Mama adalah ibu rumah tangga, tetapi hidupnya tidak pernah berhenti di dalam rumah. Mama selalu memiliki cara untuk tetap bermanfaat bagi sesama, tanpa pernah menghitung untung rugi secara materi. Aku masih ingat masa kecilku, hari-hari Mama dipenuhi kegiatan sosial. Aktif di posyandu, PKK, Dharma Wanita, mengikuti berbagai lomba hingga meraih banyak juara, bahkan sering bepergian ke luar kota. Waktu itu aku hanya melihat hasilnya. Piala, sertifikat, dan cerita keberangkatan Mama ke berbagai acara. Aku belum memahami perjuangan di balik semua itu. Kini aku mengerti, bagi Mama semua itu bukan soal penghargaan, melainkan soal nilai hidup, tentang seberapa besar seseorang bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Semangat itu pula yang mendorong Mama membuka sekolah PAUD di lingkungan rumah. Bukan untuk mencari keuntungan, melainkan agar anak-anak di sekitar memiliki akses pendidikan yang terjangkau. Perjuangan itu sangat aku rasakan karena saat itu aku sudah duduk di bangku SMP dan ikut membantu banyak hal. Mulai dari membuat laporan, mengurus pengajuan dana, menyiapkan buku tabungan, hingga berbagai keperluan kecil lainnya. Bahkan Mama dan Bapak pernah mengorbankan uang pribadi demi pembangunan PAUD yang membutuhkan biaya tidak sedikit. Aku sering bertanya dalam hati, bagaimana Mama bisa tidak pernah menghitung semuanya secara materi. Jawaban Mama selalu sederhana, selama banyak anak bisa sekolah dan guru bisa digaji dengan layak, itu sudah cukup. Kini, hampir 16 tahun PAUD itu berdiri. Banyak generasi telah melewati masa kecilnya di sana. Dengan iuran yang sangat terjangkau dan fasilitas yang memadai, Mama telah menciptakan masa depan bangsa dengan caranya sendiri.

Di tengah idealismenya, Mama tetap berpijak pada realitas. Ia tahu keluarga juga membutuhkan penghasilan. Pada tahun yang sama, Mama mendapat kesempatan menjadi tenaga honorer di BKKBN. Sejak saat itu, hari-harinya diisi penuh sebagai ibu pekerja. Mama bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak pernah berhenti belajar. Walau sering meminta bantuan kami untuk urusan komputer, Mama tetap berusaha memahami dan menyesuaikan diri. Memang tidak secepat kami yang sejak kecil akrab dengan teknologi, tetapi semangat belajarnya tidak pernah padam.

Kesibukan Mama semakin bertambah. Aktivitas sosial yang sudah dijalani sejak lama tetap berjalan beriringan dengan pekerjaannya. Ada masa di mana obrolanku dengan Mama tidak sebanyak dengan Bapak, yang sering mengajakku berbincang di sore hari, menanyakan sekolah, teman-teman, dan hal-hal yang aku sukai. Namun aku tahu, tenaga dan pikiran Mama sudah terserap oleh begitu banyak peran. Mama punya ruang ceritanya sendiri bersama Bapak, keluarga, dan teman-temannya yang menjadi sumber kekuatannya.

Mama juga berhasil mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang sarjana. Dulu, Mama pernah bercerita bahwa ia sempat mendapat tawaran kuliah, tetapi keterbatasan biaya dan dorongan untuk menikah muda membuat impian itu tertunda. Setelah menikah, Mama sempat mengajar sebagai guru TK, lalu berhenti demi fokus mengurus anak. Aku juga pernah mendengar bahwa Mama mencoba berbagai pekerjaan dan usaha. Semua itu menunjukkan satu hal, Mama selalu ingin hidupnya bermakna.

Hari ini, hampir semua impian Mama telah tercapai. Mama sudah menjadi sarjana, memiliki PAUD sendiri, mempunyai pekerjaan tetap, dan tetap aktif di lingkungan masyarakat. Mama selalu hadir bagi keluarga, saudara, dan siapa pun yang membutuhkan bantuan. Tidak mudah menjadi Mama bagi anak yang kini tinggal di ibu kota dan melihat dunia dengan banyak ukuran materi. Namun justru dari Mama aku belajar bahwa hidup tidak sesederhana itu.

Banyak nilai yang aku pelajari darimu, Mah. Tentang keberanian mengejar mimpi, tentang konsistensi dalam berbuat baik, dan tentang keyakinan bahwa perempuan juga berhak berkembang dan memberi manfaat, tanpa meninggalkan perannya dalam keluarga. Cita-cita menjadi perempuan mandiri dan berdaya telah tertanam dalam diriku sejak kecil karena melihat sosok Mama. Aku tahu, perjuangan Mama tidak selalu mulus. Ada banyak air mata yang Mama simpan sendiri agar tetap terlihat kuat saat membesarkan kami.

Terima kasih, Mah, atas cinta dan kesabaranmu. Kini aku memahami nasihat Mama dulu bahwa perempuan harus rajin, mampu mengurus diri, rumah, suami, dan anak. Setelah menikah, semua itu terasa nyata. Kita belajar menempatkan keluarga sebagai prioritas, bahkan ketika lelah dan ingin berhenti sejenak.

Terima kasih juga karena Mama mengajarkanku cara bersikap terbuka dan mudah bergaul. Didikan Mama membuatku menjadi pribadi yang rendah hati, mudah beradaptasi, dan diterima dimanapun aku berada, sejak sekolah, kuliah, hingga dunia kerja. Dari Mama aku belajar membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, dalam pergaulan, memilih pasangan, dan menentukan jalan hidup.

Terima kasih, Mah, karena Mama tidak pernah membuatku takut bermimpi. Sejak kecil, mimpi-mimpi itu sudah kutuliskan dan kusimpan. Meski kini aku telah berkeluarga dan memiliki anak, aku akan terus berjuang mewujudkan visi hidupku, sebagaimana Mama yang tak pernah menyerah pada impiannya.

Maafkan aku, Mah, atas sikap dan kata-kata yang mungkin pernah melukaimu. Perbedaan pendapat dan cara pandang mungkin muncul karena perjalanan hidupku yang membawaku tinggal di banyak tempat dan menghadapi berbagai keadaan yang membentuk caraku berpikir.

Mah, di tengah semua perjuanganmu untuk keluarga, pekerjaan, dan PAUD, jangan lupa untuk tetap melakukan hal-hal yang Mama inginkan untuk dirimu sendiri. Tidak apa-apa jika sesekali Mama memilih bahagia dengan caramu sendiri. Aku tahu, kami sering berdebat karena Mama terbiasa mengatur dan memiliki pandangan sendiri. Semua itu lahir dari rasa sayang. Meski begitu, aku percaya bahwa di dalam hati Mama, kami akan selalu menjadi anak kecil yang membutuhkan pelukan dan kehangatanmu, seperti puluhan tahun yang lalu.



Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar