image1 image2 image3

HELLO WORLD I'IAM ULFAH CHOIRUN NISSA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|I'M PROFESSIONAL WEB DEVELOPER

Kehidupan Itu Perlu Diceritakan

"Kehidupan itu perlu diceritakan." Kalimat itu sebenarnya hanya slogan iseng yang dulu kubuat untuk diriku sendiri. Awalnya hanya dijadikan tulisan di timeline Facebook atau Twitter. Tidak pernah terpikir kalau kalimat sederhana itu justru akan menjadi bekal untuk hobi yang sampai hari ini tidak pernah benar-benar berhenti.

Semakin dewasa, aku baru menyadari bahwa menulis cerita keseharian ternyata baik untuk kesehatan mental. Tanpa sadar, kebiasaan itu bahkan sudah kulakukan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

Sampai sekarang aku masih ingat buku diary pertamaku. Warnanya merah muda, lengkap dengan gembok kecil yang membuatku merasa semua rahasia di dalamnya benar-benar aman. Aku membelinya saat kelas lima SD, lalu mulai rajin menulis apa saja. Mulai dari cerita di sekolah, kejadian di rumah, sampai kisah tentang crush—kalau sekarang mungkin begitu istilah anak-anak.

Lucu kalau diingat lagi. Waktu itu sedang banyak drama Taiwan dan drama Korea yang tayang di televisi. Rasanya suasana sekolah ikut terbawa seperti adegan-adegan di drama, padahal kenyataannya ya hanya kehidupan anak SD pada umumnya: sekolah, jajan, bermain, pulang, belajar, sekolah agama, lalu mengaji. Namun, di diary itu semua terasa begitu dramatis.

Semua diary yang pernah kutulis sampai sekarang masih tersimpan rapi di lemari rumah Mama. Diary pertamaku bahkan benar-benar kupakai sampai halaman terakhir. Kebiasaan menulis memang sempat berkurang saat SMP karena rasanya tidak banyak yang ingin kuceritakan. Namun, ketika memasuki masa SMA, diary itu kembali penuh.

Mungkin karena di usia itu banyak hal mulai terjadi. Ada gejolak emosi, kebingungan memikirkan masa depan, cerita tentang pertemanan, sampai cinta monyet yang waktu itu terasa begitu besar. Semuanya kutulis seolah-olah aku sedang menjadi tokoh utama dalam sebuah drama. Rasanya pasti lucu kalau kubaca ulang sekarang. Meski, jujur saja, saat ini aku belum cukup berani untuk membukanya lagi. Mungkin nanti, di suatu waktu, ketika aku sudah siap bernostalgia.

Menulis di diary selalu membuatku merasa menjadi diriku sendiri. Aku tahu hanya aku yang akan membacanya. Semua perasaan tumpah begitu saja tanpa harus disaring. Semua kegelisahan, ketakutan, kebahagiaan, dan rasa syukur terasa lengkap tersimpan di sana.

Selain diary, aku juga menulis di blog. Awalnya hanya karena hobi. Rasanya menyenangkan bisa membagikan hal-hal yang kusukai. Entah sudah berapa ratus tulisan yang pernah kubuat. Aku tidak pernah berharap banyak orang membacanya. Aku hanya senang meninggalkan jejak, merekam setiap fase kehidupan, dan berharap suatu hari nanti tulisan-tulisan itu bisa dibaca oleh orang-orang yang kusayangi, terutama Hannah ketika ia sudah cukup besar untuk memahaminya.

Sampai hari ini aku masih sangat menikmati menulis tentang keseharian. Hanya saja, kesibukan kuliah dan pekerjaan sering kali membuatku lupa melakukannya. Bahkan dari tahun 2020 sampai 2024, aku merasa cukup jarang menulis. Padahal, ada begitu banyak kegelisahan yang sebenarnya ingin kuceritakan.

Kadang aku terlalu sibuk memikirkan apakah tulisanku sudah cukup bagus atau cukup berkesan. Padahal, kalau mengingat kembali alasan kenapa aku mulai menulis sejak kecil, jawabannya sederhana: aku hanya ingin menuangkan isi hati dan pikiranku saat itu. Tidak lebih.

Menulis selalu menjadi salah satu kebahagiaan kecil yang terus kubawa sampai sekarang. Sesekali aku juga membagikan tulisanku kepada suami atau teman-teman dekat, terutama jika mereka menjadi bagian dari cerita yang kutulis. Melihat mereka membacanya saja sudah membuatku ikut bahagia.

Sekali lagi, aku ingin berterima kasih kepada diriku sendiri karena tidak pernah benar-benar meninggalkan kebiasaan ini. Sebab, lewat menulis, banyak perasaan yang perlahan menjadi lebih ringan. Tidak jarang, jawaban atas kegelisahan yang selama ini kucari justru kutemukan setelah menuangkannya dalam bentuk kata-kata.

Semoga aku bisa terus menulis, bukan karena ingin didengar banyak orang atau membuat tulisan yang sempurna, tetapi karena menulis selalu membuatku merasa pulang pada diriku sendiri.

Sebab, seperti yang selalu kuingatkan pada diri ini sejak dulu, kehidupan itu perlu diceritakan.


Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar