CERITA TENTANG DETECTIVE

Kalau kamu pernah dengar nama Conan, mungkin kamu akan langsung mengacu pada Conan Edogawa, detektif cilik yang sebenarnya sudah remaja itu dalam manga/anime Meitantei Conan. Oke, Metantei Conan adalah salah satu serial bertema detektif yang paling terkenal beik di Jepang maupun di luar Jepang. Padahal masih sangat banyak seriel bertema detektif yang lain. Rupanya tema detektif menjadi tema yang cukup popular dan digemari baik oleh kalangan tua dan muda.
Tema detektif sudah digunakan sejak dulu dalam buku, film, drama radio dan tentu aja anime dan manga. Kisah detektif klasik dunia mungkin akan mengingatkan kita pada Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle dari daratan Inggris. Juga pada tokoh-tokoh detektif rekaan Sang Ratu Misteri, Agatha Christie, seperti Hercule Poirot dan Miss Marple. Selain itu banyak sekali tokoh detektif lain yang kita kenal seperti Trio Detektif ciptaan Alfred Hitchcock, Detektif Colombo, bahkan tokoh dalam kisah Cina klasik, Judge Bao, Sang Hakim bijak yang sering memecahkan kasus-kasus pelik.
Kenapa tema detektif disukai dan mempunyai banyak penggemar fanatic? Pada dasarnya, manusia menyukai apa yang tidak dapat dipahami. Manusia akan selalu berusaha memahami dan mencari jawaban dari hal-hal yang menjadi misteri di sekelilingnya. Kita dikaruniai akal budi dan pemikiran yang selalu berkembang. Dengan mempertanyakan sesuatu hal,kita akan tertantang untuk mencari jawabannnya, dan bila sudah menemukan jawaban maka wawasan dan pandangan kita terhadap sesuatu akan diperbaharui. Kita berkembang, itulah manusia.
Dalam kisah-kisah detektif, sang detektif akan dihadapkan pada suatu misteri, yang akan membuatnya bertanya: mengapa? bagaimana? kapan? dsb. Lalu dengan mengunakan kemampuan berfikir dan logika, ia akan berusaha memperoleh jawaban tersebut. Sulitkah? Tentunya, kita bias lihat gaya Conan, semuanya terlihat mudah dipecahkan dan semuanya bias terpikirkan oleh Conan. Sebenarnya untuk mencari jawaban dari sebuah misteri, kita harus mengumpulkan semua informasi yang bias kita peroleh, baik berupa hard evidence (bukti nyata), motif, keterangan saksi, dll. Dari semua itu kita baru bias merangkai semuanya menjadi sesuatu yang logis. Kesemuanya itu dalam proses logika disebut deduksi. Deduksi adalah proses penyimpulan suatu masalah secara spesifik berdasarkan sejumlah hal yang bersifat umum. Ya seperti yang dilakukan Conan. Berdasarkan bukti-bukti yang ia kumpulkan, ia merekonstruksiseluruh kejadian di dalam otaknya sehingga bias tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seorang detektif yang baik perlu memiliki cara berfikir deduksi yang baik. Tentu saja bukan hanya itu. Menguasai pengetahuan umum, naluri yang bagus dan berfikir cepat akan membuat diri kamu menjadi detektif yang baik.

Sepertinya asik banget jika memperhatikan gaya Edogawa Conan menyelidiki kasus dan membeberkan semua jawabannya dengan benar. Bahkan Detektif Swasta Kogoro Mouri pun lebih sering ‘tidur’ dan hanya menjadi juru bicara saja. Detektif cilik ini sebenarnya bernama Shinichi Kudo, siswa SMU yang terkenal karena sering memecahkan kasus misteri bahkan sering dimintai bantuan oleh pihak kepolisian. Hanya karena ia menjad saksi kejahatan, ia diracun yang membuat tubuhnya menyusut menjadi seorang anak kecil kelas 1 SD. Sejak itu Shinichi harus membuat identitas palsu, mengambil nama Conan, pencipta Sherlock Holmes yang dikaguminya. Sebagai Conan ia tetap memecahkan berbagai kasus sambil terus memburu penjahat yang meracuninya. Conan terkenal dengan deduksinya yang khas, memikirkan hal yang tidak terbayangkan sebelumnya dan bertindak cepat. Dibantu Profesor Agasa yang memberinya barang-barang canggih, yang sangat membantu dalam berbagai kasus.
Seorang detektif biasanya memikili seorang partner, bahkan kadang sekelompok teman yang selalu membantu dalam memecahkan misteri. Yang menjadi partner Conan adalah Ran Mouri, gadis yang memang menjadi love interest Shinichi Kudo (ya Conan juga tentunya). Selain Ran, ada juga Shounen Tanteidan, yaitu teman-teman Conan di SD: Ayumi, Genta, Matsuhiko. Tak ketinggalan Hattori Heiji, si Detektif dari Timur. Dengan kemampuan analisa yang tak kalah dari Conan/Shinichi, Heiji banyak membantu Conan dalam memecahkan berbagai kasus. Meski bias dibilang rival, Heiji dan Conan bersahabat baik, juga karena Heiji tahu bahwa Conan sebetulnya Shinichi.
Dalam menghadapi kasus kejahatan, sang detektif akan berdiri berlawanan dengan sang pelaku kejahatan. Kadang ada pelaku kejahatan yang sangat sulit ditangkap, meski semua sudah tahu bahwa dialah pelakunya. Kisah detektif tak akan lengkap tanpa adanya ‘musuh abadi’. Seperti Profesor Moriarty yang tak pernah berhasil ditangkap oleh Sherlock Holmes. Dalam Meitantei Conan pun begitu, dalang kejahatan yang membuat tubuh Shinichi menciut Kuro no Shoshiki (Organisasi Hitam). Sepanjang seri Meitantei Conan kita akan dibawa menggikuti pengejaran Conan terhadap para penjahat yang telah mengubah hidupnya ini. Ada satu tokoh lagi yang tidak pernah tertangkap oleh Conan, tapi tidak bias disebut musuh abadi karena tokoh ini malah cukup sering membantu Conan disituasi yang tidak menguntungkan. Ia adalah Kaito Kid, si pencuri yang jago sulap dan menyamar. Conan sering diperdaya olehnya, tapi juga ditolong. Pencuri yang lihai ini diceritakan secara tersendiri dalam seri Majikku Kaito. Dalam seri Maitantei Conan memang ia tidak banyak tampil, tapi setiap kemunculan dan gayanya yang cool membuat Kaito Kid selalu bisa ‘mencuri’ perhatian siapa pun, sampai Conan pun dibuat kesal olehnya.
Dalam Meitantei Conan, yang menjadi ciri khasnya adalah betapa peliknya cara melakukan suatu kejahatan. Gaya misterinya agak mirip dengan kisah-kisah misteri Agatha Christie. Sebagaian besar kasus-kasus pembunuhan yang dihadapi Conan mengandalkan teknik dan rencana yang rapi. Semua sudah diperhitungkan dengan baik sehingga sulit untuk mengetahui siapa pelakunya. Dibutuhkan kecermatan dan logika yang tinggi untuk bisa mengetahui bagaimana suatu pembunuhan dilakukan dan bagaimana pelaku bisa menutupi jejaknya. Tetapi dengan pengamatan yang baik, Conan bisa melihat bagaimana cara kerja si pelaku dan akhirnya memecahkan misteri tersebut.
Suatu hal lagi yang penting adalah motif. Conan selalu mencari motif yang melatar belakangi suatu kejahatan. Tentunya tidak mungkin seseorang repot-repot melakukan kejahatan bila hanya untuk iseng belaka. Orang yang paling mungkin menjadi tersangka adalah orang yang mempunyai motif paling kuat untuk melakukannya.


Selain Conan, kita juga mengenal Kindaichi, remaja SMU yang juga sering memecahkan kasus-kasus misteri dalam serial Kindaichi Shounen no Jikenbo. Kindaichi Hajime adalah cucu seorang pesulap dan detektif kenamaan Kindaichi Kosuke. Berbeda dengan Shinichi, Kindaichi di sekolah terkenal sebagai anak yang malas belajar, tidak pandai berolahraga, nilainya jeblok, bahkan sering terlambat dan bolos sekolah. Padahal sebenarnya ia adalah anak yang pandai, mampu memperoleh nilai terbaik sepanjang sejarah SMU-nya dalam tes masuk SMU dan memiliki IQ 180, yang bias digolongkan sebagai jenius. Dalam memecahkan kasus, Kindaichi sering dibantu oleh kepandaiannya melakukan trik sulap yang dipelajari dari kakeknya.
Dibalik gayanya yang santai dan kadang konyol itu, Kindaichi sangat cermat dan mampu memecahkan berbagai misteri yang lewat di depan hidungnya. Hamper sama dengan Mentantei Conan, kasus-kasus yang dihadapi Kindaichi masih seputar pembunuhan. Kasus-kasusnya lebih pelik dan dibiarkan berlangsung cukup lama sehingga asik untuk diikuti dan kitapun bias tertantang untuk memecahkan misteri sebelum mengetahui siapa pelakunya diakhir cerita. Salah satu kekuatan serial Kindaichi adalah sisi psikologi yang lebih menampilkan latar belakang si pelaku dan alasannya melakukan kejahatan. Motif pelaku biasanya berhubungan dengan peristiwa pedih di masa lalu mereka, yang membuat mereka memutuskan untuk melakukan kejahatan. Hidup ini memang bukan hanya hitam dan putih kan? Ada grey area dimana semua bias ditentukan secara jelas baik atau buruk. Disitu, kita memerlukan kebijaksanaan, seperti Kindaichi yang sering merasa iba kepada mereka dan menyesalkan perbuatan mereka.
Partner Kindaichi adalah cewek cantik temannya sejak kecil, Nanase Miyuki. Cewek ini selalu mendampingi Kindaichi dan sering membantunya dalam mengungkap misteri. Miyuki bagi Kindaichi seperti Ran bagi Conan. Sebagai rival utama, Akechi Kengo yang bekerja sebagai inspektur kepala di kepolisian. Tokoh Akechi ini walau terkesan angkuh dan tidak mau kalau dari Kindaichi, sebenarnya adalah detektif handal dan berotak cemerlang. Tak jarang Akechi harus menerima bekerjasama dengan Kindaichi. Pada dasarnya kindaichi tidak mempunyai musuh abadi seperti Conan, tapi ada satu lawan Kindaichi yang sangat tangguh dan licin, yang selalu lolos dari tangkapan polisi. Takato Youichi adalah ahli sulap yang pandai bersandiwara sehingga dijuluki “Jigoku no Kugutsushi” Kindaichi berulang kali gagal menagkapnya walaupun bias memecahkan kasus yang didalangi Youichi.


Agak berbeda dari kisah detektif remaja yang tokohnya masih anak-anak atau remaja, Master Keaton juga memiliki keunikan cerita sendiri. Tokoh blasteran Inggris-Jepang ini sebenarnya bukan detektif, melainkan petugas penyidik ansuransi dari perusahaan ansuransi Rioz yang berpusat di Inggris.karena asuransi yang ditangani mereka nilainya sangat mahal, maka butuh penyelidikan terlebih dahulu sebelum tangguhan asuransi dibayarkan. Bernama lengkap Hiraga Keaton Taiichi, awalnya ia bekerja sebagai dosen arkeologi di Universitas Kotozawa sambil merengkap sebagai penyelidik swasta. Tapi karena sering meninggalkan kelasnya untuk berkeliling dunia melakukan penyelidikan, ia dipecat. Pembawaannya yang tenang dan sama sekali ttidak mencerminkan kemampuannya membuat banyak orang meremehkan Keaton. Padalah dibalik wajahnya yang kadang tampak polos itu, Keaton adalah mantan perwira SAS (pasukan elite Inggris) yang termasuk hebat, bahkan pernah menjalani pelatihan survival (teknik bertahan hidup). Keahliannya dibidang militer tersebut banyak membantu dalam membela diri, menolong orang lain dan membekuk pelaku kejahatan. Akalnya panjang dan selalu bisa membuat sesuatu dari benda-benda sederhana yang ada di sekelilingnya untuk membantunya.
Pekerjaan sebagi penyelidik membawanya ke berbagai tempat dan didukung oleh kecintaannya pada arkeologi, ia suka mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Pengetahuan lulusan Universitas Oxford ini juga sangat luas, apalagi berkenaan dengan arkeologi.
Keaton tidak punya partner, meski sepanjang kisahnya sering ditemani oleh putrinya, Yuriko; ayahnya, Daihira; serta banyak teman lama yang sesekali muncul lagi dalam berbagai kesempatan. Ia juga bias dibilang tidak mempunyai musuh abadi yang jelas, tapi masa lalunya sebagai perwira SAS membuatnya dikenal oleh orang-orang yang berseberangan dengan hukum.
Kekuatan dari seri Master Keaton ini adalah dasar kasus dibangun dari potongan fakta sejarah, tokoh dunia dan berbagai hal yang memang terjadi di dunia nyata pada masa lalu. Tapi kalau kalian mengharapkan kisah detektif seperti Meitantei Conan atau Kindaichi, kalian mungkin akan kecewa. Kasus yang dihadapi Keaton lebih daripada kehidupan orang –orang yang terlibat dalam kasus yang dihadapi Keaton. Walaupun disuguhi dengan serentetan fakta dan latar belakang kisah itu, kita akan tetap melihat sudut pandang orang yang terlibat dalam kasus itu, kadang dengan kata-kata bijak dan falsafah hidup yang bermakna. Kisah-kisah juga tidak menitik beratkan pada kejahatan seperti pembunuhan atau pencurian. Kadang hanya kisah pendek dimana kita bisa menengok masa lalu orang yang terlibat dan Keaton kebetulan ada di sana sehingga bisa membantu menyelesaikan masalahnya. Dengan gaya bertutur yang unik, kisah detektif Keaton menjadi menarik.
Kisah yang juga memakai latar belakang sejarah dunia dan ilmu pengetahuan adalah QED. Hanya berbeda dengan Master Keaton, QED lebih berfokud pada sains dan tokoh utamanya adalah remaja super jenius yang sudah lulus MIT di Amerika. Touma Sou kembali belajar sebagai siswa SMU di Jepang, tapi malah sering terlibat kasus pelik. Dibantu oleh teman sekelasnya, Mizuhara Kana, ia memecahkan banyak kasus dengan dasar sains dan perhitungan matematika.


Kisah detektif tidak harus dikemas dalam setting detektif modern dengan baju rapid an alat-alat canggih, ataupun latar belakang kota tua London di masa sang detektif memakai mantel panjang dan berpipa cangklong seperti Sherlock Holmes. Ada satu kisah detektif yang mengambil latar kehidupan seorang pemain boneka pangguang tradisional Jepang. Tokoh Tachibana Sakon dalam seri Karakurizoushi Ayatsuri Sakon adalah pemain boneka Bunraku, kesenian boneka panggung Jepang di mana boneka digerakkan oleh sang master dan juga disuarakan melalui suara perut (ventriloquism). Boneka Sakon bernama Ukon, yang dibuat tahun 1870. Boneka kuno ini ajaib, karena ditangan Sakon ia menjadi lebih hidup dengan karakternya sendiri yang suka kurang ajar, mali-maluin dan bandel. Sakon sendiri adalah pemuda yang kurang pede, pendiam dan pemalu. Ia lebih percaya diri bila menyuarakan dirinya lewat Ukon, dengan karekter yang bertolak belakang dengannya. Bersama Ukon, Sakon mengadakan pertunjukan boneka keliling Jepang. Di berbagai tempat yang dikunjungi ia banyak menjumpai misteri dan kasus untuk dipecahkan. Kebetulan bibi Sakon, Tachibana Kaoruko, adalah asisten detektif di kepolisian. Jadi Sakon dan Kaoruko sering saling membantu untuk memecahkan misteri. Kisah misterinya sendiri berkisar pada pembunuhan dan motif di balik kejahatan tersebut. Satu hal yang menjadi keunikan Kakakurizouzhi Ayatsuri Sakon sebagai cerita detektif selain profesi utamanya sebagai puppeteer, adalah nuansa horror dan tradisional Jepang yang menghiasi setiap kisahnya. Sennjata yang dipakai untuk melakukan pembunuhanpun bisa berupa pedang samurai kuno, bahkan boneka bunraku yang dilumuri racun. Kadang Sakon dan Ukon bertemu hantu-hantu yang ada kaitannya dengan misteri yang mereka hadapi. Meski hanya berupa boneka, Ukon sebenarnya punya isteri sendiri karena seringkali ia seperti mempunyai jiwa sendiri dan menjadi sahabat master-nya. Nama Sakon bisa berarti ‘kiri’ dan Ukon berarti ‘kanan’. Mereka berdua menjadi tim dan partner sejati dalam memecahkan misteri yang mereka hadapi.
Cerita detektif dengan nuansa horror juga dapat kita temui di manga-manga karya Yoko Matsumoto. Meski lebih tenar dengan cerita bernuansa horror misteri ketimbang cerita detektif, seri Scramble Doumei dan Strawberry Tanteidan berhasil menampilkan kolompok yang ingin menjadi detetif dengan kasus yang tidak terlalu rumit, lebig bernuansa shoujo, dan ditambah bumbu horror serta komedi.


Menyebut cerita detektif dengan unsur komedi, mungkin kalian akan teringat pada detektif playboy Ryo Saeba dalam City Hunter. Meski ia hanya menerima kasus yang berhubungan dengan perempuan, Ryo cukup handal dalam menyelesaikan berbagai tugas yang ditanganinya, meski dengan banyak nuansa konyol di man-mana. Kisahnya sendiri tidak seberat dan serumit Meitantei Conan dan Kindaichi. Dalam berbagai kasus, ia lebih mengandalkan action dan tidak dituntut untuk berpikir banyak dalam menyelesaikan suatu kasus. Ia mempunyai partner seorang cewek cantik yang juga jagoan, Kaori Makimura. Kaori adalah side-kick seimbang untuk Ryo, meski harus menahan emosi bila melihat sikap centil Ryo terhadap perempuan yang menjadi kliennya.
Selain City Hunter, pernah juga ada manga yang berjudul Empat Sekawan, yang pernah diterbitkan oleh Elex. Empat orang remaja yang membentuk kelompuk detektif Clover ini boleh dibilang kelompok detektif terkocak, bahkan lebih ‘ancur’ dari Scramble Doumei. Kasus-kasus yang mereka tangani pun ringan dan lebih banyak unsur komedinya.
Cerita detektif yang agak kocak juga menjadi tema Matantei Loki Ragnarog [Mythical Detective Loki], di mana sang detektif sebenarnya adalah dewa Loki dari mitologi Norse yang disegel dalam tubuh seorang anak kecil, yang kemudian membuka agensi detektif swasta Enjaku. Daidouji Mayura, gadis remaja yang menyukai misteri dating ke agensi tersebut untuk memakai jasanya. Kemudian Mayura malah sukarela menjadi asisten Loki agar ia juga dapat memecahkan misteri. Kisah misteri dalam Matantei Loki tidak terlalu berat dan penuh nuansa magic, apalagi cerita ini dimasukkan unsure mitologi Norse secara komikal. Musuh bebuyutan Loki adalah Heimdall, juga adalah dewa tapi dating dengan wujud remaja tanggung.


Menambah daftar panjang cerita detektif, pasti kalian juga masih ingat Clamp Gakuen Tanteidan, kelompok detektif sekolah yag dimotori oleh 3 murid berbakat Nokoru Imonoyama, Suoh Takamura, dan Akira Ijyuin. Kasus yang mereka hadapi terjadi di seputar lingkungan sekolah . kelompok detektif yang beranggotakan anak-anak bukan hanya mereka, ada juga kelompok anak-anak SD berbakat yang juga menjadi pasukan polisi rahasia dalam Himitsu Keisatsu Holmes. Nashikagi Kenichi atau yang lebih akrab dipanggil Holmes, bersama dua temannya, Kitahara Mako dan Akashiko Kogorou, adalah detektif resmi kepolisian. Kasus-kasus yang mereka tangani ada yang ringan, ada pula yang berat. Musuh terberat mereka adalah organisasi rahasia DARK. Karakter Holmes adalah anak kecil yang ceria dan suka memakai mantel panjang seperti Sherlock Holmes.


Ada juga cerita bertema sekolah khusus untuk detektif, seperti Tantei Gakuen Q, karya pengarang Kindaichi Shounen no Jikenbo, Amaki Seimaru dan Satou Fumiya. Tantei Gakuen adalah sebuah sekolah khusus bagi orang yang ingin menjadi detektif. Mereka yang menonjol dan berkemampuan di atas rata-rata akan masuk dalam kelas Q, di antaranya Kyuu, Minami Megumi, Amakusa Ryuu, Touyama Kintarou, dan Meitaku Kazuma. Bersama-sama mereka memadukan kelebihan diri masing-masing untuk memecahkan misteri yang mereka hadapi.
Satu lagi cerita detektif dengan setting sekolah adalah Spiral ~Suiri no Kizuna~. Narumi Ayumu harus berhadapan dengan para Blade Children serta misteri yang melingkupi keberadaan mereka yang berkaitan erat dengan hilangnya sang kakak satu-satunya, Narumi Kiyotaka. Sebagai partner Ayumu, dating seorang gadis manis namun cerewet, Hiyono Yuizaki. Gadis yang nemjadi wartawan mejalah sekolah itu punya kemampuan mengumpulkan data, yang sangat membantu Ayumu yang lebih menonjol dalam kemampuan analisisnya. Mereka berdua dihadapkan dalam berbagai misteri, peristiwa dan pembunuhan yang semuanya membentuk rangkaian misteri yang lebih besar. Jadi kisah dalam Spiral tidak terpisah-pisah sebagai kasus lepas, tapi lebih merupakan babak demi babak misteri yang menjadi inti dalam kisah Spiral.


Salah satu hal yang mengagumkan dari sekian banyak cerita detektif adalah justru kemampuan si pengarang yang ada di belakang kisah tersebut. Tak hanya menjadi detektif yang mencari jawaban, ia juga harus kreatif membuat misteri untuk dipecahkan oleh sang detektif. Dibutuhkan imajinasi yang tinggi dan daya piker analisis yang kuat untuk menciptakan kasus-kasus seperti dalam Meitantei Conan atau Kindaichi. Menurut Aki Morino dalam manga Kanbayashi & Kirika Series mengatakan bahwa ia terlebih dulu menciptakan karakter yang terlibat, baru memikirkan trik misterinya. Kebalikkan dari kebanyakan orang yang sering membuat misteri dan pemecahannya lebih dulu. Seri manga misteri ini mengisahkan seorang pengarang novel misteri, Kanbayashi Toshihiko, yang terlibat dalam berbagai kasus tanpa disengaja. Denganlatar belakang dunia show biz yang gemerlap, Kanbayashi selalu bekerja sama dengan Kawamoto Kirika, artis penyanyi, bintang film dan model yang masih muda. Tak beda dengan Meitantei Conan atau Kindaichi, kasus-kasus dalam Kanbayashi & Kirika Series ini juga berkisar pada pembunuhan dan balas dendam, hanya saja selalu berhubungan dengan dunia hiburan. Meski bernuansa shoujo tapi kisah misterinya cukup menarik untuk diikuti.

0 komentar: