Gakkou / sekolah jepang

Banyak sekali anime dan manga yang mengambil sekolah sebagai latar belakang cerita. Tentu saja karena hampir semua tokoh-tokohnya berysia belasan tahun. Sekarang saya ajak kamu untuk mengetahui seperti apa sekolah di Jepang. Pendidikan telah berhasil menjadikan Jepang sebagai Negara paling maju di Asia, padahal dulu mereka adalah Negara yang kalah dalam Perang Dunia. Dengan menitik beratkan pada wajib belajar 9 tahun, lebih dari 95% penduduk Jepang lulus sekolah menengah. Behkan menurut penelitian, lulusan SMA di Jepang punya tingkat pendidikan yang setara dengan mahasiswa tingkat 2 di Amerika. System sekolah di Jepang tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia, terdiri dari SD, SMP, SMA dan pendidikan tinggi seperti universitas dan akademi. Kurikulum dan sistem pendidikan menjadi kuasa Monbukagakusho (Departemen Pendidikan, Kebudayaan, olahraga, Sains dan Teknologi). Lebih dari 90% murid di Jepang bersekolah di sekolah negeri hingga SMP, tapi 25%-nya memilih lanjut ke SMA swasta.
Pendidikan Jepang banyak mengadaptasi pendidikan barat sejak tahun 1870an. Tapi sebelum abad ke 15 sudah ada kuil Buddha yang member pelajaran bagi anak-anak bangsawan. Ketika perdagangan berkembang pesat di abad ke 16, banyak pengusaha yang ingin anak-anaknya belajar menulis dan aritmatika. Mulailah terbentuk sekolah yang disebut teranai-juku atau terakoya. Pada abad ke 17 juga muncul sekolah yang disebut hanko. Dengan adanya restorasi Meiji, system pendidikan diperbarui dan sekolah diperbanyak, sampai mencapai kemajuan yang bisa dilihat sekarang ini. Sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah yang dibantu oleh kepala guru. Tahun ajaran dimulai setiap bulan April, yang dimulai dengan Nyugaku-shiki, upacara hari pertama masuk sekolah, dimana seluruh siswa berkumpul di aula untuk mendengar sambutan dari kepsek. Pelajaran dimulai pada jam 8.30 pagi dan berakhir jam 14.30 dari hari Senin sampai Jumat. Istirahat makan siang sekitar jam 12, dimana siswa dapat memakan bekal bento yang mereka bawa dari rumah atau membeli di kantin sekolah. Setelah jam pelajaran berakhir siswa wajib membersihkan kelas (o shoji) seperti menyapu, mengepel dan membersihkan papan tulis. Selesai o shoji mereka bolah pulang atau mengikuti kegiatan ekstrakulikuler di klub masing-masing, yang disebut bukatsu.
Bukatsu di Jepang terbagi 2: klub olahraga (sepakbola, judo, atletik, dll) dan klub kebudayaan (sains, music, kaligrafi, dll). Kegiatan klub dilaksanakan seusai sekolah dan bisa diteruskan pada saat liburan sekolah. Bukatsu menjadi tempat tumbuh kembangnya hubungan senpai-kohai (kakak-adik kelas). Para senpai wajib menjadi panutan bagi para kohai dan kohai wajib menghormati senpai-nya. Dari sinilah terjalin hubungan persahabatan dan saling menghormati yang cukup erat, yang bisa terus berlanjut hingga mereka dewasa. Selain menjadi tempat bersosialisasi, bukatsu juga mengembangkan bakat dan minat siswa.
Disamping belajar akademik, siswa di Jepang mengadakan festival olah raga dan budaya (bunkasai). Pada festival olahraga diadakan pertandingan dan perlombaan, baik yang serius maupun yang bersifat main-main seperti yang sering kita lakukan saat 17 Agustus-an. Festival ditutup dengan api unggun atau dansa bersama. Bunkasai biasanya diramaikan dengan acara seni dan kreasi masing-masing kelas seperti membuka kafe, bazaar, pameran atau pertunjukan seni. Selain festival mereka juga mengadakan study tour dan piknik ke luar kota.



Umumnya pelajar Jepang memakai seragam sekolah (seifuku),hanya sebagian sekolah dasar mengizinkan siswanya berpakaian bebas. Seragam tiap-tiap sekolah berbedakarena menjadi cirri khas dan identitas sekolah tersebut. Selain seifuku, siswa di Jepang harus memakai sepatu rumah yang disebut uwabaki, di dalam sekolah. Sepatu luar ditaruh di loker yang disebut getabako, yang bertuliskan nama masing-masing siswa. Uwabaki dipakai selama kegiatan di dalam kompleks sekolah, tapi untuk di ruang olahraga, ada sepatu khusus yang disebut taikukan shuzu. Jepang meniru system ini dari sekolah-sekolah kuno di Inggris yang melarang sepatu luar dipakai di dalam sekolah.


Yang menjadi kelemahan system pendidikan Jepang adalah ujian akhir yang super berat, sampai-sampai disebut shiken jigoku (neraka ujian). Banyak siswa yang stress hingga melakukan hal-hal negative atau nekat bunuh diri. Nilai ujian sangat penting supaya bisa melanjutkan ke sekolah yang bagus. Untuk tingkat universitas, yang dinilai adalah hasil ujian masuknya. Untuk mendapatkan nilai yang bagus, sebagian besar siswa mengambil les tambahan di juku atau yobiko. Juku adalah tempat les yang mengajarkan pelajaran sekolah serta non-akademik seperti music atau seni. Yobiko mengkhususkan persiapan ujian masuk ke universitas, bahkan ada yubiko yang khusus bagi calon mahasiswa tertentu saja, seperti Universitas Tokyo. Banyak siswa yang gagal dalam ujian masuk, tapi masih ingin mencoba lagi tahun depannya. Mereka disebut ronin (sebutan untuk samurai tak bertuan) karena sudah lulus SMA, tapi terus belajar di yobiko sampai lulus ujian masuk universitas atau sampai mereka menyerah.
Biaya sekolah di Jepang cukup mahal, ditambah lagi dengan kursus di juku atau yobiko. Tapi kebanyakan orang Jepang rela mengeluarkan uang demi mendapat pendidikan yang baik, yang juga berarti akan mendapat pekerjaan yang baik dimasa depan.
Belajar adalah perjuangan. Ganbatte ne!

0 komentar: