Gunung Manglayang 1818 Mpdl Itu ?


            UlfahLawliet.Blogspot.com “Sebuah perjalanan tak berencana”, minggu pagi di H-7 sebelum UAS aku mendaki puncak gunung mangyalang dengan keempat orang tangguh yaitu Reza, Taufik, Nanda dan juga Nia. (06/12/15).

            Tepat dihari ulang tahun mama yang ke 43,  aku pergi dengan menggunakan style-lan maen seadanya, sepatu gaya, dan tanpa membawa uang se-peserpun, apa yang kualami disana ?, owwooo sebuah perjalanan yang paling menegangkan saat naik ke puncak ataupun saat turun dari puncak.

            Kita semua berangkat jam 07.30 ke perkemahan Batu Kuda, dengan semangat tinggi, kita berlajan menelusuri jalan menuju puncak, seperempat jalan, kita sudah dilantarkan dengan hujan yang menguyur kita semua, kita istirahat sebentar dan memulai kembali perjalan, tak hanya itu setelah melewati setengah perjalan ada tantangan yang lebih menyeramkan.



            Secara panjat tebing dibebatuan licin itulah yang kurasakan, aku hanya bergantung pada sebuah akar pohon dan bantuan teman – teman ku.untung nya disana kita bertemu Permata (Orda Purwakarta), yang membantu kita semua jalanan yang sungguh terjal, tak banyak hal yang kupikirkan saat itu, aku hanya ingin selamat dan mencapai puncak gunung bersama – sama.

            Dengan segala susah payah nya kita berlima sampai di puncak setelah 3,5 jam kita berjalan, aku merasakan bahwa semua perjuangan yang aku lewati  terasa begitu berarti sampai aku bisa ada dipuncak dan beristirahat.  Apa yang kita lakukan di puncak, sebenarnya yang dilakukan itu tak berarti dengan perjuangan kita memanjat, karena rapat, foto-foto dan bikin video sebenarnya bisa dilakukan diama saja. Tapi kenagan perjalanan itulah yang menjadi cerita yang selalu diingat..

            Apakah ceita perjalanan itu sudah selesai ?  salah perjalan naik ke puncak yang aku sebutkan tadi tak berarti untuk perjalan saat turun yang aku lalui. Ko gitu ? iyaa karena , desember merupakan bulan penhujan dan kita maksa ingin ke puncak di bulan ini.

            Apa yang terjadi ? saat kita berniat untuk turun, hujan deras sudah mengujur kita semua, disaat itu kita semua sedang menginjak kemiringan 65 derajat, disana kaki ku gemetar aku takut salah langkah, aku memilih untuk  jalan jongkok saking takutnya aku untuk terjatuh, bukan hanya aku yang merasakan dingin, kaki gemetar, dan ketakutan, tetapi Nia, reza, nanda , taufik juga pasti merasakannya.

            Disana aku mulai berfikir untuk apa sih berangkat ke puncak, untuk apa sih kita merasakan kesengsaran ini, dan untuk apa kita membahayakan diri sendiri, tapi sekarang aku mulai mengerti semua itu hanya untuk kenangan, pembelajaran menghadapi tantangan, dan melatih kebersamaan. Karena apa , pada saat kita melakukan perjalan ke gunung, kita akan mengetahui watak sesunguhnya dari semua teman – teman kita.

            Aku akui mereka berempat mempunyai solidaritas yang tinggi, mereka begitu peduli dengan ku, karena dalam perjalanan itu aku yang sangat menghabat, tapi mereka begitu sabar dan membantu melewati semua tantangan ini. Tanpa ada adanya reza, opik, nanda dan nia sepertinya aku takan mampu turun dengan selamat, aku yang begitu ketakutan karena jalan yang licin, dan medan yang sunguh – sunguh extrime.
           
 Terakhir aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian semua yang memberikan ku kenangan yang pasti aku ingat sampai kapan pun, walau celana levis ku harus sobek, sepatu ku juga rusak, baju ku semua dipenuhi tanah, dan badan ini seakan remuk, tapi ak sangat senang kalian mengingat kan ku kembali untuk terus berexplorasi alam indonesia.

Terima kasih Langit Teknologi : “ Aku harap aku bisa mewujudkan cita – cita langit, banyak memberikan kontribusi , memiliki kepekaan sosial yang tinggi, dan banyak berpetualang bersama kalian semua”.
           




0 komentar: