Ini adalah kisah perantauan yang tumbuh pelan-pelan, dari tahun ke tahun. Dari 2013 hingga 2024, lebih dari satu dekade hidupku berpindah dari satu kosan ke kosan lain. Setiap tempat membawa suasana, pelajaran, dan cerita yang berbeda. Anehnya, hidup berpindah-pindah itu tidak pernah terasa berat. Justru di sanalah aku belajar memahami hidup, orang-orang, dan diriku sendiri.
Perjalanan ini dimulai dari tempat tinggalku yang pertama. Sebuah rumah sewaan sederhana yang kutempati saat praktik kerja lapangan di masa SMK. Kamarnya kecil, dan harus berbagi ruang dengan teman. Lingkungannya padat, penuh keluarga yang hidup berdesakan di lahan terbatas. Ada banyak hal yang diam-diam membuatku merenung. Aku belajar bahwa merantau bukan hanya soal berani pergi jauh dari rumah, tapi juga tentang bertahan, beradaptasi, dan memahami realita hidup orang lain yang mungkin jauh berbeda dari duniaku sendiri.
Sebulan kemudian, aku pindah ke kosan lain yang lebih ramai dan penuh energi. Di sanalah aku dan teman-teman seperjuangan PKL menghabiskan hari-hari dengan tawa, begadang, dan cerita receh yang kini terasa mahal harganya. Pernah suatu waktu, kamar kami harus dikosongkan mendadak, hanya seminggu sebelum masa tinggal berakhir. Akhirnya kami tidur di kamar darurat yang disiapkan ibu kos. Keadaannya serba tanggung, agak memaksa, tapi justru itulah yang membuatnya lucu ketika dikenang. Kosan ini dipenuhi mahasiswa dengan semangat yang meledak-ledak, dan rasanya hidup selalu ramai.
Tahun berikutnya, aku kembali merantau untuk kuliah. Aku tinggal di sebuah kosan bernuansa religius, lokasinya strategis, dekat ke mana-mana. Penghuninya beragam, meski sebagian besar adalah wajah-wajah baru dari daerah yang sama denganku. Kami sering berkumpul di ruang tengah, berbagi cerita, menonton televisi, atau mengerjakan tugas bersama. Di depan kosan ada sebuah warnet kecil yang jadi saksi banyak malam panjang dan tugas yang selesai berkat bantuan orang-orang tak terduga. Hidup bersama banyak kepala tidak selalu mudah—kadang berisik, kadang ribut—tapi hangat dan penuh rasa kebersamaan.
Lalu ada satu kosan yang ceritanya paling panjang, paling melekat. Aku tinggal bersama dua sahabat yang kemudian menjadi keluarga pilihan. Tanpa rencana besar, kami dipertemukan dan tumbuh bersama. Kosan ini dipenuhi anak-anak kampus dengan segala ambisi, mimpi, dan dramanya masing-masing. Banyak hal terjadi di sana: persahabatan yang diuji, cinta yang datang dan pergi, serta benturan dengan realita hidup yang perlahan membuka mata. Pengelola kosan punya sisi gelap dalam keluarganya, tapi selalu ada satu sosok yang menenangkan—yang memastikan kami tidak pernah benar-benar kelaparan, baik secara fisik maupun batin. Tempatnya sederhana, bahkan kadang terasa berat, tapi karena dijalani bersama orang-orang yang tepat, semuanya terasa layak dikenang.
Tahun 2019, perantauan membawaku ke fase baru. Awalnya hanya menumpang sementara untuk urusan pekerjaan, lalu menetap. Kosan ini cukup ketat aturannya, dan sejak awal sudah diwarnai drama. Ada kejadian penggerebekan yang membuat satu penghuni harus pergi keesokan harinya. Kehidupan di sana terasa kaku: air sering bermasalah, penjaga kos kurang ramah, dan jarak ke tempat kerja melelahkan. Aku hanya bertahan sebentar. Dari sana aku belajar, tidak semua tempat tinggal bisa kita sebut rumah.
Tak lama kemudian, aku menemukan kosan lain yang jauh lebih hangat. Tempat itu terasa seperti pulang. Aku dan teman-teman bukan sekadar penghuni, tapi diperlakukan seperti anak sendiri. Ada teguran, perhatian, dan rutinitas kecil yang membuat hidup terasa normal. Meski kadang harus berhadapan dengan dinamika keluarga besar pemilik kos, dua tahun di sana penuh rasa aman. Perpisahan dengan sosok ibu di tempat itu menjadi salah satu momen yang cukup mengharukan dalam hidupku.
Beberapa waktu setelahnya, aku pindah ke kosan baru yang letaknya tak jauh. Kali ini benar-benar hidup sebagai anak kos yang mandiri. Tinggal di lantai atas, lebih sepi, lebih dewasa. Masa tinggalnya singkat karena pikiranku sudah dipenuhi persiapan menuju fase hidup berikutnya. Meski tak banyak cerita, tempat ini tetap menjadi bagian dari perjalanan.
Kosan terakhir menjadi saksi langkah awal kami sebagai pasangan suami istri. Di sana, aku belajar hidup berdampingan, menyesuaikan diri, dan mulai membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar diri sendiri. Penghuninya beragam, dengan karakter yang kadang aneh, kadang menyenangkan. Beberapa di antaranya bahkan menjadi sahabat sejati. Di sinilah aku benar-benar merasakan peralihan peran: dari anak kos, menjadi pasangan, lalu perlahan bersiap membangun rumah tangga.
Kini, aku telah berpindah lagi, memulai kehidupan baru bersama suami di tempat yang sering kami sebut dengan bercanda sebagai “planet baru”. Dan dari seluruh perjalanan itu, aku semakin yakin pada satu hal: rumah bukan tentang bangunan atau alamat. Rumah adalah tentang rasa. Tentang siapa yang kita temui, bagaimana kita bertumbuh, dan bagaimana kita membuat sebuah tempat—sekecil apa pun—menjadi nyaman untuk pulang.


0 komentar:
Posting Komentar