Sudah sepuluh tahun berlalu. Kini, di tahun 2026, aku menoleh ke belakang dan menyadari bahwa 2016 adalah tahun yang penuh kejutan. Tahun yang diisi tantangan, kebahagiaan, dan air mata yang datang silih berganti. Awal tahun itu ditemani lagu-lagu Ed Sheeran yang sangat aku sukai, Photograph dan One. Saat itu aku punya ambisi besar untuk fokus belajar di semester empat dan berusaha menjadi pengurus yang bijak di berbagai organisasi. Namun ternyata, 2016 menyimpan cerita yang jauh lebih besar dari rencana-rencana yang disusun.
Tahun itu menjadi awal dari kisah cinta pertamaku, yang tak pernah kusangka akan menjadi cinta seumur hidup. Cinta yang datang tanpa direncanakan, tumbuh perlahan dari sebuah persahabatan kecil, lalu berubah menjadi perasaan yang tulus. Menjalani tahun pertama dalam sebuah hubungan bukanlah hal yang mudah. Kami diuji oleh banyak hal, mulai dari pertemanan, usaha saling memahami perasaan, belajar percaya, menerima masa lalu, hingga bertahan untuk tetap mencintai. Namun dibalik semua ujian itu, ada kebahagiaan yang begitu nyata. Kencan pertama menonton bersama, makan berdua, pergi ke tempat wisata, foto studio, obrolan panjang hingga larut, merayakan ulang tahun bersama, belajar bareng, sampai sekedar mampir ke Annaba. Semua kenangan kecil itu kini terasa hangat dan penuh makna.
Jika diingat sekarang, rasanya lucu. Namun pada masanya, persahabatan kami di Annaba sempat terasa sangat berat. Hubungan kami membuat suasana menjadi goyah karena perasaan yang belum sepenuhnya bisa diterima oleh semua orang. Bukan karena tidak ingin jujur, melainkan karena kami sama-sama bingung bagaimana menjelaskannya. Rasa cemburu yang sering muncul dan waktu yang tidak selalu bisa dihabiskan bersama menjadi sumber konflik. Perlahan, semua itu dapat dipahami dan diterima. Mungkin inilah cara Tuhan menempa persahabatan kami agar menjadi lebih kuat. Nyatanya, kisah inilah yang justru membuat perjalanan hidup kami semakin berwarna.
Selain urusan perasaan, 2016 juga menjadi tahun di mana sebagian besar energiku tercurah untuk Suaka. Tahun paling produktif yang pernah aku jalani. Delapan tabloid, dua majalah, satu Mini Fresh sebagai terobosan baru, dan satu majalah utama berhasil kami terbitkan. Hidupku saat itu seolah hanya berputar antara kuliah, Annaba, Suaka, tugas, dan cinta. Hampir setiap malam selalu ada agenda di sekretariat. Pulang jam sepuluh atau sebelas malam sudah menjadi hal biasa. Rapat, pembahasan, dan evaluasi bidang menjadi rutinitas sehari-hari.
Namun lelah itu tidak berhenti ketika pulang. Malam-malam di sekretariat bukan berarti pekerjaan selesai. Masih ada penulisan tabloid, penyuntingan artikel daring, dan persiapan tulisan mingguan yang selalu menunggu. Belum lagi berbagai acara besar yang harus dilalui. PJMTD dan reformasi yang datang setiap enam bulan menjadi agenda rutin yang menguras tenaga. Meski begitu, aku benar-benar menikmati masa itu. Aku mencintai lelah yang lahir dari proses berkarya dan persahabatan yang tumbuh di dalamnya.
Di tahun yang sama, aku juga memutuskan untuk tetap aktif di himpunan. Kadang aku bertanya pada diri sendiri mengapa tetap mengambil tanggung jawab itu, padahal di HIMATIF aku tidak sepenuhnya menikmati dinamika organisasinya. Namun ada satu hal yang membuatku bertahan, kebersamaan membangun buletin kecil untuk mading Informatika. Di tengah segala hiruk pikuk organisasi, aku belajar menghargai diriku sendiri. IP 4 di semester genap dan 3,8 di semester ganjil menjadi bukti bahwa aku mampu menjaga prioritas. Tentu ada peran besar dari si cinta, yang selalu menjadi teman belajar paling setia. Sesibuk apa pun aku berorganisasi, kuliah tetap menjadi nomor satu.
Aku tahu betul apa yang harus dikorbankan. Waktu tidur sering terpangkas, manajemen waktu dipaksa bekerja ekstra, dan kemampuan berpikir dimaksimalkan sepenuhnya. Aku masih ingat bagaimana belajar sungguh-sungguh untuk UTS dan UAS hingga larut malam. Setelah ujian selesai, tubuh terasa benar-benar habis, lalu tertidur nyenyak tanpa beban. Kini, aku rindu masa-masa itu.
Namun perjuangan tersebut juga penuh air mata. Menjadi redaktur utama Mini Fresh bukanlah hal yang instan. Tekanan tenggat waktu datang bertubi-tubi. Pernah juga ponselku rusak hingga komunikasi menjadi sulit. Semua itu menjadi bagian dari 2016. Tangisan hadir karena konflik perasaan, masalah persahabatan, dan persoalan keluarga. Saat papa tiba-tiba sakit di pertengahan masa kuliah, aku benar-benar merasa bahwa tahun itu penuh kejutan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Kini, di tahun 2026, tidak ada satu pun keputusan yang kusesali. Semua yang kulakukan lahir dari keinginan dan keyakinanku sendiri. Hingga hari ini, manisnya cinta pertama bersama si cinta tetap menjadi bagian indah dalam hidupku. Dan semua perjuangan yang pernah kulalui, lelah, tawa, dan air mata, akan selalu tinggal dalam ingatan sebagai bukti bahwa aku pernah menjalani hidup dengan sepenuh hati.


0 komentar:
Posting Komentar