image1 image2 image3

HELLO WORLD I'IAM ULFAH CHOIRUN NISSA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|I'M PROFESSIONAL WEB DEVELOPER

Hidup yang Mengajarkanku Arti Cukup

Ada pepatah yang mengatakan bahwa uang memang bukan segalanya, tetapi hampir segala sesuatu membutuhkan uang. Aku semakin memahami makna kalimat itu seiring bertambahnya usia. Kebahagiaan ternyata tidak selalu tentang memiliki uang dalam jumlah besar, melainkan tentang bagaimana uang tersebut membawa keberkahan dalam hidup. Memasuki usia kepala tiga, aku telah melewati banyak fase kehidupan: ada masa manis, ada asam, dan tidak sedikit pahitnya. Dari perjalanan itu, aku belajar bahwa uang bisa menjadi anugerah bagi mereka yang bijak mengelolanya, tetapi bisa pula menjadi bumerang jika digunakan tanpa pertimbangan.

Sejak kecil, Alhamdulillah aku tumbuh dalam keluarga yang berkecukupan. Hidup di desa bersama bapak dan ibu yang bekerja di lingkungan pemerintahan mungkin tidak menjanjikan penghasilan besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami. Jauh dari hiruk pikuk ibu kota, kehidupan terasa sederhana dan nyaman. Kami bisa sekolah dengan baik, makan dengan layak, dan memiliki rumah yang menjadi tempat pulang. Liburan keluarga bukanlah sesuatu yang sering terjadi, paling hanya sesekali ke pantai dengan biaya seadanya. Bagi orang tuaku, pendidikan dan kebutuhan hidup sehari-hari adalah prioritas utama.

Pada masa sekolah, aku belum benar-benar memahami arti mengelola uang. Uang saku yang kuterima biasanya habis dalam sehari untuk jajan atau ongkos angkot. Kesadaranku mulai tumbuh ketika menjalani masa magang di Bandung. Untuk pertama kalinya, aku memegang uang dalam jangka waktu mingguan hingga bulanan. Dari situ aku belajar membagi pengeluaran untuk makan, kebutuhan pribadi, sedikit hiburan, dan menabung. Aku mulai mencatat pengeluaran dan merasakan bagaimana hidup lebih hemat, sebuah pelajaran kecil yang kelak sangat berarti.

Memasuki masa kuliah selama empat tahun di Bandung, perjalanan keuanganku tidak selalu berjalan mulus. Jika dipikir kembali, kuliah di luar kota sebenarnya bukanlah rencana besar orang tuaku sejak awal. Pada masa itu, mereka lebih memprioritaskan memiliki rumah yang nyaman, perabot dan elektronik yang layak, serta memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Menabung untuk pendidikan tinggi atau menyiapkan dana darurat belum menjadi fokus. Hal ini bisa dimaklumi, karena generasi mereka lebih akrab dengan aset nyata seperti rumah, tanah, dan emas.

Masa kuliah menjadi ujian terbesar dalam hidupku terkait keuangan. Di awal perkuliahan, kiriman bulanan masih cukup lancar hingga aku sempat menabung selama dua semester pertama. Namun memasuki semester tiga, kondisi mulai berubah. Ada masa ketika kiriman hanya cukup untuk makan. Aku pun sering menahan diri untuk tidak meminta tambahan karena tidak ingin membebani orang tua.

Aku masih ingat betul pernah menjalani hari-hari di kampus tanpa sepeser pun uang di saku. Untuk kebutuhan sehari-hari, aku membeli sabun batang, sampo sachet, pasta gigi, dan sabun cuci di warung karena harganya lebih terjangkau. Yang paling penting saat itu adalah beras. Aku tinggal bertiga di kosan, dan kami memiliki iuran beras agar tetap bisa makan meski lauk seadanya. Kami juga memiliki sosok penolong bernama Teh Nani, penjaga kos yang berjualan makanan. Kami sering memesan makan harian dan membayarnya di akhir minggu. Meski terasa membantu, kebiasaan itu justru membuat keuangan semakin tidak terkontrol, sesuatu yang kini sangat kuhindari.

Empat tahun hidup dalam berbagai keterbatasan mengajarkanku banyak hal berharga. Aku belajar bersyukur atas rezeki sekecil apa pun yang Allah berikan. Makan ayam atau daging terasa seperti kemewahan. Aku belajar sabar, belajar menahan diri, dan belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Lebih dari itu, aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari uang. Sahabat-sahabat yang setia menemani, kesibukan organisasi yang membuat lupa sejenak pada kesulitan, serta momen-momen sederhana itulah yang mengajarkanku arti bahagia yang sesungguhnya. Bahagia lahir dari rasa syukur, bukan dari jumlah uang di dompet.

Kini, ketika mengingat masa-masa itu, aku sering bertanya dalam hati, bagaimana dulu aku bisa melewatinya. Dengan segala kenyamanan dan keberkahan rezeki yang Allah beri sekarang, semua yang dulu terasa berat justru menjadi bekal paling berharga. Saat mulai bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, pikiranku bukan tentang membalas masa sulit dengan berlebihan memanjakan diri, melainkan bagaimana menjadikan penghasilan itu sebagai pondasi untuk masa depan. Aku mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran dan menahan diri dari membeli hal-hal yang tidak benar-benar dibutuhkan.

Di tahun pertama bekerja, Alhamdulillah aku cukup konsisten menabung. Saat itu, pikiranku sudah tertuju pada masa depan: biaya hidup, kebutuhan keluarga, rencana menikah yang tentu membutuhkan kesiapan finansial, serta impian sederhana untuk suatu hari bisa berlibur ke luar negeri dan merasakan suasana negeri orang.

Aku bersyukur kini memiliki suami yang sejalan dalam visi dan misi keuangan. Ia banyak mengajarkanku tentang pentingnya investasi, dana darurat, dan cara mengalokasikan pendapatan dengan bijak untuk kebutuhan rumah tangga. Meski begitu, aku tetap memberi ruang untuk membahagiakan diri, membeli sepatu yang kusuka, baju yang membuatku percaya diri, atau sesekali jalan-jalan. Semuanya dilakukan dengan perhitungan dan kesadaran. Ketika Allah menganugerahi kami seorang putri cantik di tahun 2024, kami kembali menata ulang prioritas keuangan. Alhamdulillah, kali ini kami merasa jauh lebih siap.

Pada akhirnya, uang bisa menjadi sahabat, tetapi juga bisa menjadi ancaman. Di era digital seperti sekarang, banyak anak muda terjebak dalam janji kemudahan tanpa memikirkan risikonya. Paylater, bagiku, adalah salah satu godaan terbesar. Ia menciptakan ilusi bahwa segala sesuatu bisa dimiliki dengan mudah dan cepat. Aku pernah berada di fase hidup di mana paylater menjadi penyambung untuk makan sehari-hari di kosan. Dari pengalaman itu, aku belajar satu hal penting: jika kita menginginkan sesuatu dan memang mampu membelinya, lebih baik bayar secara langsung. Jangan memaksakan diri memiliki sesuatu di luar kemampuan, karena kesulitannya sering kali baru terasa bertahun-tahun kemudian.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar