image1 image2 image3

HELLO WORLD I'IAM ULFAH CHOIRUN NISSA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|I'M PROFESSIONAL WEB DEVELOPER

Ketulusan yang Menguatkan Keluarga

Banyak di luar sana yang bilang hubungan menantu dan ibu mertua jarang benar-benar akur. Tapi aku ingin membantah itu. Alhamdulillah, aku justru dipertemukan dengan seorang ibu mertua yang begitu baik, yang Allah titipkan dalam hidupku.

Di tahun kelima pernikahan, aku mulai merasa semakin dekat dengan ibu. Dari situ aku semakin paham, menjadi seorang ibu bukan hal yang sederhana. Ada banyak hal yang diperjuangkan dengan diam, dengan tulus, tanpa banyak kata.

Ibu bukan tipe yang suka memerintah. Ibu juga jarang sekali menasihati atau mengomel saat melihat kekuranganku. Justru dari sikap itulah aku banyak belajar. Belajar memperbaiki diri, bukan karena disuruh, tapi karena tersentuh oleh keteladanan.

Dari ibu, aku belajar tentang ketulusan. Tentang bagaimana menjalani peran sebagai ibu dengan sepenuh hati. Ibu mengerjakan pekerjaan rumah tanpa keluhan, merawat anak-anak dengan penuh kasih, dan selalu menyelipkan doa terbaik dalam setiap langkah mereka. Bagiku, ibu adalah role model terbaik. Sosok yang menjalani semuanya dengan ikhlas dan mampu mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang baik, pintar, dan membanggakan. Aku percaya, semua itu tidak lepas dari doa-doa ibu yang tulus.

Sehari-hari ibu dimulai bahkan sebelum adzan berkumandang. Ibu sudah bangun, mencuci, menyiapkan keperluan dapur, memasak, hingga membuka warung yang kini beliau jalani. Harinya penuh dengan aktivitas, dengan target-target kecil yang selalu diselesaikan dengan penuh tanggung jawab. Namun di balik itu semua, senyum ibu selalu hangat. Panggilan sederhana seperti “ayo makan” menjadi momen yang menyatukan kami dalam kebersamaan.

Setiap hari, ibu memasak untuk makan siang dan malam tanpa rasa lelah. Ibu juga menjadi pendengar yang baik, selalu ada untuk mendengarkan cerita dan keluh kesah anak-anaknya. Obrolan ringan bersama ibu selalu terasa hangat dan menyenangkan.

Aku belajar banyak dari ibu, bukan dari nasihat, tapi dari contoh nyata. Dulu aku mungkin masih sering berantakan, menunda pekerjaan, dan belum terbiasa rapi. Tapi sejak tinggal bersama ibu, aku mulai belajar bahwa kerapihan dan kebersihan rumah adalah bagian dari kebahagiaan keluarga. Aku pun mulai mencoba mengatur waktu dengan lebih baik dan membantu ibu merapikan rumah.

Didikan ibu juga luar biasa. Ketiga anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, tidak neko-neko, rajin beribadah, dan berprestasi. Mereka tumbuh dalam lingkungan penuh kasih, disiplin, dan doa. Bahkan saat merantau, mereka tetap mandiri dan mampu menjaga diri dengan baik.

Walaupun aku bukan anak yang ibu lahirkan, tapi kasih sayangnya terasa begitu cukup. Aku merasa disayangi, diterima, dan dihargai. Kami sering berbagi cerita, tentang masa lalu ibu, tentang perjuangannya saat mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak-anaknya. Ibu juga pernah bercerita bahwa beliau sempat bekerja, lalu memilih berhenti demi fokus merawat keluarga.

Yang paling aku syukuri, ibu tidak pernah menghakimi. Ibu selalu mendukung pilihanku, termasuk saat aku tetap bekerja. Ibu memahami, menghargai, dan selalu ada dengan caranya yang tenang.

Terima kasih ya Allah, telah memberiku ibu mertua yang begitu baik. Semoga ibu selalu diberikan kesehatan, keberkahan usia, dan kebahagiaan. Semoga kami semua bisa terus memberikan yang terbaik dan membahagiakan ibu.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar