"Ternyata semua bertumbuh pada akhirnya." Penggalan lirik dari Sheila On 7 itu selalu terasa hangat setiap kali kudengar. Rasanya seperti membuka lagi album kenangan yang sudah lama kusimpan. Ada begitu banyak orang yang pernah datang, mengisi hari-hariku, lalu pergi membawa jalannya masing-masing. Meski sekarang sudah jarang bertemu, mereka tetap meninggalkan satu hal yang tidak pernah hilang: memori baik.
Kalau dipikir-pikir, pertemanan memang sesederhana itu. Dulu kita bisa bertemu hampir setiap hari. Main bareng, bercanda sampai lupa waktu, berantem karena hal sepele, lalu beberapa menit kemudian sudah akur lagi. Rasanya waktu itu kita tidak pernah kepikiran kalau suatu hari nanti semuanya akan berubah.
Ternyata memang benar, bukan orangnya yang berubah, tetapi kehidupanlah yang membawa kita ke arah yang berbeda. Kesibukan datang satu per satu, sekolah berganti, teman bertambah, dan tanpa sadar jarak mulai tercipta.
Tulisan ini adalah caraku pulang sebentar ke masa itu. Masa ketika pulang sekolah artinya bukan langsung masuk kamar, tetapi keluar rumah mencari teman. Masa ketika sore terasa panjang dan setiap hari selalu ada cerita baru.
Ada satu kalimat yang dulu sering kudengar, tetapi baru benar-benar kupahami sekarang.
"Setiap masa ada temannya, dan setiap teman ada masanya."
Sekarang kami mungkin hanya saling melihat kabar lewat Instagram Story. Kadang cuma saling kasih tanda suka, kadang cuma lewat begitu saja. Tapi anehnya, setiap melihat mereka, rasanya semua kenangan itu masih utuh.
Waktu kecil, rumah rasanya cuma tempat mandi dan tidur. Selebihnya, kami lebih sering ada di luar. Lari-larian, main permainan tradisional, keliling lapangan naik sepeda, lalu sore harinya main bola plastik atau badminton. Kalau soal badminton, jangan dibayangkan kami jago. Shuttlecock-nya sering kalah sama angin, dan kami menganggap itu hal yang wajar. Yang penting bisa ketawa bareng.
Kalau badan sudah capek, tujuan kami selalu sama: bakso Mas Eno. Hampir setiap sore rasanya kami mampir ke sana. Mungkin yang bikin enak bukan cuma baksonya, tapi karena dimakan rame-rame setelah seharian bermain.
Menjelang magrib selalu ada dilema yang sama.
Mengaji... atau menyelamatkan Naruto.
Dan, ya... sering kali Naruto yang menang.
Entah kenapa Naruto dulu begitu spesial buat kami. Mungkin karena kami tumbuh mengikuti perjalanannya. Setiap minggu rasanya tidak sabar menunggu episode berikutnya. Kami bahkan pernah mencetak lirik semua soundtrack Naruto, lalu menyanyikannya hampir setiap hari. Walaupun suaranya fals dan nadanya ke mana-mana, tetap saja kami merasa keren.
Memasuki masa remaja, permainan kami mulai berubah. Entah sejak kapan rasanya malu kalau masih lari-larian seperti anak kecil. Akhirnya kami lebih sering kumpul di rumah, mengerubungi satu komputer yang jadi rebutan semua orang.
Setiap hari ada saja yang mengantre menunggu giliran main. Sekarang kalau diingat, game seperti GameHouse, game Flash, The Sims, Crazy Taxi, sampai Naruto Nugen memang sederhana. Tapi waktu itu, rasanya sudah cukup membuat satu sore terasa menyenangkan.
Kalau bosan menunggu komputer, kami pindah ke permainan kartu. Remi, gapleh, pokoknya apa saja yang bisa dimainkan ramai-ramai. Mama pernah beberapa kali kesal karena kami masih asyik main sampai malam. Belum lagi hukuman bagi yang kalah, mulai dari muka dibedakin sampai disuruh pakai helm. Aneh memang, tapi lucunya justru di situ.
Malam-malam tertentu kami juga punya agenda wajib: nonton film horor. Film Indonesia yang kadang lebih banyak lucunya daripada seramnya, horor Thailand yang bikin kaget, sampai Ju-On yang menurutku tetap paling menyeramkan. Horornya pelan, tapi justru bikin kepikiran berhari-hari. Sampai sekarang aku masih ingat adegan bola basket yang tiba-tiba berubah jadi kepala.
Selain horor, tontonan wajib lainnya tentu sepak bola. Entah Tim Garuda atau Persib Bandung yang main, kami pasti ikut heboh. Walaupun sebenarnya banyak yang cuma ikut-ikutan jadi suporter.
Kalau lagi kumpul, hampir pasti kami memasak seblak. Makanan yang gizinya mungkin biasa saja, tapi entah kenapa selalu jadi pilihan. Bahannya murah, masaknya cepat, pedasnya pas, dan paling enak dimakan sambil ngobrol. Aku juga masih ingat wajah Bapak setiap kali kami mulai masak seblak. Beliau selalu protes soal aromanya, tapi tetap membiarkan kami menikmati momen itu.
Satu lagi yang selalu membuat rumah terasa hidup adalah kucing-kucing kami.
Semuanya dimulai dari Messi, lalu Pussy yang meninggal tertabrak saat aku masih TK. Ada Jablay dan Igun yang tiba-tiba datang dan betah di rumah. Lalu Ucil yang kurawat sejak kecil, Ruben si bapaknya yang usil, Lulu si kucing gangster yang berani melawan Ruben, Kiwil yang menemani kami hampir tujuh tahun, Minong dan Boy yang sempat dibawa maling karena Anggora, sampai akhirnya ada Kimi dan Pawpaw.
Kalau diingat-ingat, masa kecil kami memang penuh drama perkucingan. Hampir setiap hari selalu ada cerita baru tentang mereka. Rumah jadi terasa lebih ramai, lebih hidup, dan entah kenapa selalu ada alasan untuk tertawa.
Lalu, tanpa terasa semuanya mulai berubah.
Kami sibuk dengan sekolah masing-masing. Punya teman baru, kegiatan baru, dan mulai jarang berkumpul. Rumah yang dulu selalu ramai perlahan jadi sepi. Kami semua berjalan ke arah yang berbeda, mengejar mimpi, pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan yang kami pilih.
Sekarang, sesekali saat melihat kabar mereka di media sosial, aku sadar kalau kami memang sudah bertumbuh. Tidak lagi bermain bersama setiap sore, tapi kenangan itu tetap tinggal di tempatnya.
Mungkin memang seperti itu arti sebuah pertemanan. Tidak semua harus bertahan sampai tua. Ada yang hanya hadir di satu fase kehidupan, lalu selesai. Tapi bukan berarti perannya jadi tidak berarti. Justru karena pernah hadir, masa-masa itu terasa begitu indah untuk dikenang.
Terima kasih untuk teman-teman rumah yang pernah menemani setiap fase dalam hidupku. Terima kasih untuk semua tawa, permainan, cerita, bahkan hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja. Baru sekarang kusadari, ternyata semua itu pelan-pelan membentuk siapa diriku hari ini.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar tersisa bukan seberapa sering kita bertemu, tetapi kenangan baik yang kita tinggalkan satu sama lain.


0 komentar:
Posting Komentar