image1 image2 image3

HELLO WORLD I'IAM ULFAH CHOIRUN NISSA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|I'M PROFESSIONAL WEB DEVELOPER

Melahirkan Mini Fresh: Generasi Layar

Ada satu momen yang sampai sekarang masih aku ingat ketika akhirnya memegang sebuah majalah yang selama berbulan-bulan hanya hidup dalam bentuk ide, rapat, catatan, dan tumpukan naskah. Saat halaman demi halaman itu sudah tercetak rapi, rasanya sulit dipercaya bahwa karya tersebut benar-benar lahir dari ruang redaksi kecil bernama Suaka.

Majalah itu bernama Mini Fresh: Generasi Layar.

Bagiku, majalah ini bukan hanya sebuah produk organisasi. Ia adalah bukti dari perjalanan panjang, kerja keras banyak orang, dan salah satu pencapaian terbesar yang pernah aku rasakan selama berada di Suaka.

Semuanya bermula ketika kepengurusan kami memasuki setengah periode. Setelah sebelumnya sibuk dengan berbagai produksi tabloid, kami mulai menghadapi tantangan baru: membuat dua majalah besar yang menjadi target kepengurusan. Salah satunya adalah majalah tahunan Suaka, dan satu lagi sebuah terobosan baru bernama Majalah Mini Fresh.

Saat itu aku ditunjuk menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab sebagai redaktur utama bersama teman-teman redaksi lainnya.

Sebuah kepercayaan yang tentu saja membuatku bangga, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tanggung jawab besar.

Menjadi redaktur utama bukan hanya tentang memastikan tulisan selesai. Aku harus memikirkan konsep besar majalah, menentukan rubrik apa saja yang akan hadir, memastikan setiap tulisan memiliki kualitas yang baik, hingga mengawal seluruh proses agar dapat selesai sesuai target.

Saat itu kami sudah memiliki regenerasi baru dari anggota magang yang menjadi energi tambahan bagi tim redaksi. Kehadiran mereka menjadi amunisi baru dalam proses pengerjaan majalah. Kami mulai membagi tugas, menentukan tema, menyusun daftar tulisan, dan perlahan membangun sebuah majalah yang sebelumnya hanya berupa rencana.

Konsep yang kami angkat adalah Generasi Layar.

Sebuah tema yang menggambarkan bagaimana teknologi telah mengubah cara manusia menjalani kehidupan. Di era ketika hampir semua aktivitas tidak lepas dari layar, banyak orang mampu memanfaatkan teknologi menjadi sesuatu yang lebih besar, bahkan menjadi peluang dan ladang penghasilan.

Namun Mini Fresh tidak hanya berbicara tentang teknologi. Kami ingin menghadirkan majalah yang ringan, dekat dengan pembaca muda, tetapi tetap memiliki wawasan.

Di dalamnya terdapat berbagai rubrik menarik, mulai dari pembahasan Generasi Layar, DIY, Kindly Reminder, musik, sejarah komedi, fashion, destinasi menarik, rekomendasi kafe, hingga berbagai topik lain yang dekat dengan kehidupan anak muda.

Sebagai redaktur utama, aku tidak hanya mengatur alur tulisan, tetapi juga tetap turun langsung dalam proses produksi. Aku masih harus menulis beberapa artikel, salah satunya untuk rubrik Teknofresh. Aku melakukan wawancara eksklusif dengan tokoh di bidang teknologi, membuat tulisan tentang perkembangan teknologi dari generasi ke generasi, hingga dipercaya membuat tulisan pembuka dari redaksi di majalah tersebut.

Bagian "Dari Redaksi" menjadi salah satu bagian yang paling berkesan bagiku. Karena melalui tulisan itu aku bisa menyampaikan perjalanan dan semangat di balik lahirnya majalah ini. Aku tidak hanya menulis sebagai seorang redaktur, tetapi juga sebagai seseorang yang berada langsung di balik proses kelahirannya.

Namun perjalanan membuat Mini Fresh tidak semudah membalikkan halaman majalah.

Di balik setiap tulisan yang terlihat rapi, ada proses panjang yang penuh tekanan. Aku harus membaca, menyunting, dan memperbaiki banyak tulisan dari berbagai penulis. Terkadang sebuah tulisan sudah terasa selesai, tetapi ketika kubaca kembali selalu ada bagian yang harus diperbaiki. Ada kalimat yang kurang kuat, ada alur yang belum mengalir, atau ada informasi yang perlu diperdalam.

Di masa itu, aku benar-benar belajar bahwa pekerjaan editor bukan hanya memperbaiki kesalahan tulisan. Editor harus mampu melihat sebuah tulisan dari sudut pandang pembaca. Harus tahu bagian mana yang membuat orang ingin terus membaca, bagian mana yang membingungkan, dan bagaimana menyusun potongan-potongan tulisan menjadi sebuah cerita yang utuh.

Jujur, proses itu tidak selalu berjalan mudah.

Ada banyak tekanan deadline yang membuatku merasa lelah. Tanggung jawab terhadap banyak tulisan yang harus diedit sering kali membuat pikiranku penuh. Di saat yang sama, ada masalah pribadi yang datang bersamaan.

Ponselku tiba-tiba rusak sehingga komunikasi menjadi lebih sulit. Tidak lama setelah proses awal pengerjaan majalah dimulai, ayahku juga harus masuk rumah sakit. Saat itu aku sempat berada dalam dilema. Di satu sisi, ada keluarga yang membutuhkan kehadiranku. Di sisi lain, ada tanggung jawab organisasi yang sudah menunggu dan tidak bisa begitu saja ditinggalkan.

Namun Alhamdulillah, kondisi ayah kemudian membaik. Setelah itu aku kembali ke Suaka dengan tekad untuk menyelesaikan tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepadaku.

Aku kembali duduk di ruang redaksi, kembali membuka dokumen tulisan, kembali mengejar deadline, dan kembali berjuang bersama teman-teman untuk menyelesaikan Mini Fresh.

Selain tantangan dari sisi redaksi, ada perjuangan lain yang tidak kalah besar, yaitu memastikan majalah ini benar-benar bisa dicetak.

Majalah Mini Fresh dibuat dengan konsep yang berbeda. Kami ingin menghadirkan majalah yang menarik secara visual, sehingga membutuhkan desain penuh warna dengan ilustrasi dan tata letak yang matang. Tim desain harus memutar otak untuk menciptakan tampilan yang sesuai dengan konsep Generasi Layar. Mereka harus memikirkan ilustrasi, pemilihan warna, hingga penempatan setiap elemen agar majalah terlihat menarik.

Tetapi desain yang bagus tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Di sinilah aku melihat perjuangan besar dari tim pemasaran. Mereka bekerja keras mencari sponsor dan pengiklan agar biaya produksi dapat terpenuhi. Mereka berusaha mendapatkan pemasukan dari berbagai sumber, mulai dari penjualan tabloid, iklan portal berita, iklan di majalah, hingga kerja sama dengan berbagai pihak.

Sering kali pembaca hanya melihat hasil akhirnya, sebuah majalah yang sudah tercetak dan bisa dibaca. Namun di balik itu ada perjuangan panjang dari banyak divisi yang bekerja agar karya tersebut bisa hadir.

Ketika akhirnya dana cukup dan proses pencetakan berhasil dilakukan, perjuangan belum selesai. Kami masih harus memikirkan bagaimana majalah tersebut dapat sampai kepada pembaca. Kami kembali melakukan pemasaran, menjual majalah, dan memastikan karya yang sudah dibuat selama berbulan-bulan tidak berhenti hanya di ruang redaksi.

Sungguh, siklus kerja di Suaka saat itu benar-benar memenuhi hari-hari kami.

Kuliah tetap berjalan, tetapi sebagian besar waktu kami dihabiskan untuk berdiskusi, menulis, mengedit, rapat, mencari ide, hingga menyelesaikan berbagai target organisasi.

Jika sekarang aku mengingat masa itu, rasanya ada rasa lelah yang bercampur dengan rasa bahagia.

Karena melalui Mini Fresh: Generasi Layar, aku merasa salah satu cita-citaku akhirnya tercapai.

Sejak dulu aku memiliki ketertarikan terhadap dunia tulisan dan ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang editor majalah. Saat berada di Suaka, mimpi itu perlahan menjadi nyata. Aku tidak hanya menjadi orang yang menulis, tetapi juga seseorang yang mengawal sebuah karya dari ide hingga menjadi produk yang bisa dinikmati banyak orang.

Mini Fresh menjadi bukti bahwa aku pernah berada dalam proses kreatif yang sesungguhnya.

Ada tekanan, ada air mata, ada rasa ingin menyerah, tetapi semuanya terbayarkan ketika melihat hasil akhirnya. Sebuah majalah penuh warna yang lahir dari kerja keras banyak orang.

Dan sampai hari ini, ketika melihat kembali perjalanan itu, aku selalu bersyukur pernah menjadi bagian dari lahirnya Mini Fresh: Generasi Layar.

Karena ternyata, terkadang sebuah mimpi tidak datang dalam bentuk yang kita bayangkan. Mimpiku untuk menjadi editor majalah tidak terwujud di sebuah perusahaan besar atau ruang redaksi profesional.

Mimpi itu hadir dari sebuah organisasi mahasiswa bernama Suaka.

Di sanalah aku belajar, bertumbuh, dan untuk pertama kalinya merasakan bagaimana rasanya melahirkan sebuah karya.

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar