Perubahan akan selalu datang. Setelah melewati berbagai fase di Suaka, sampailah aku di tahun ketiga kepengurusan, tahun terakhirku sebagai pengurus.
Jujur, di tahun ketiga ini ada beberapa hal yang membuatku tidak bisa memberikan kontribusi seoptimal sebelumnya. Entah kenapa, semangat dan prioritas hidupku mulai bergeser. Mungkin karena seluruh energi selama dua tahun sebelumnya benar-benar sudah terkuras. Bahkan saat evaluasi kepengurusan, banyak yang mengatakan bahwa periode sebelumnya adalah masa yang penuh dengan produksi dan kegiatan. Rasanya seperti menjadi kuda yang terus berlari tanpa sempat berhenti.
Di akhir kepengurusan aku dipercaya menjadi Sekretaris Redaksi, mendampingi Pimpinan Redaksi untuk memastikan portal berita, tabloid, dan majalah tetap berjalan. Namun memasuki semester akhir perkuliahan, ternyata tanggung jawabku tidak hanya ada di Suaka. Ada banyak hal lain yang juga harus aku pikirkan dan selesaikan.
Meski begitu, aku tetap ingin aktif sampai akhir. Aku ingin benar-benar menjadi alumni yang sesungguhnya, menutup perjalanan ini dengan baik. Tentu rasanya berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setiap pergantian kepengurusan berarti kami harus kembali beradaptasi dengan pengurus baru, sementara teman-teman seperjuangan perlahan mulai menjadi alumni. Ada juga beberapa teman yang memilih memperpanjang masa kuliahnya agar tetap bisa menjabat dan berkarya bersama Suaka selama satu tahun lagi.
Sebagai Sekretaris Redaksi, pekerjaanku lebih banyak berkaitan dengan administrasi. Aku mengarsipkan dokumen, memantau kehadiran, dan memastikan kebutuhan redaksi berjalan dengan baik. Saat itu kami dipimpin oleh seorang perempuan yang sebelumnya pernah menjadi Pimpinan Redaksi. Bagiku, beliau adalah sosok yang sangat mengagumkan. Tidak banyak perempuan yang mau mengambil tanggung jawab sebesar itu dan mampu memimpin dengan baik.
Di sisi lain, semester akhir menjadi masa yang sangat sibuk. Untuk menunjang cita-citaku sebagai pengembang aplikasi, aku mulai mencari berbagai kesempatan magang. Aku juga membantu dosen mengerjakan beberapa proyek kecil untuk menambah pemasukan. Akibatnya, waktu yang bisa kuberikan untuk Suaka sudah tidak sebanyak dulu.
Bukan hanya soal kesibukan, suasana yang berubah juga membuatku sedikit merasa berbeda. Jujur saja, karena waktuku terbagi antara kuliah, HIMA IF, ANNABA, pekerjaan, dan juga kekasihku saat itu, aku tidak punya banyak kesempatan untuk benar-benar menjadi sahabat dekat bagi teman-teman angkatan baru. Aku mulai merasa hanya datang, mengerjakan tugas, lalu pulang. Aku tetap dekat dengan semua orang, tetapi rasanya ada jarak yang tidak pernah benar-benar hilang.
Tahun itu juga dipenuhi berbagai kisah. Ada banyak cerita asmara yang tumbuh di antara pengurus. Begitu dekatnya kami hingga banyak yang akhirnya terlibat cinta lokasi, bahkan beberapa di antaranya kini menjadi pasangan hidup.
Namun perjalanan kami tidak selalu berjalan mulus. Ada beberapa konflik, baik internal maupun eksternal, yang membuat sebagian teman memutuskan untuk mengundurkan diri sebelum masa kepengurusan berakhir. Di masa itu aku sempat merasa sedih, tetapi satu hal yang selalu kupegang adalah aku ingin mengakhiri semuanya dengan baik. Aku tidak ingin pergi di tengah jalan.
Syukurlah, aku berhasil melewati semua itu. Dengan segala drama, tantangan, dan perjuangan, akhirnya aku bisa menuntaskan masa jabatanku dan resmi menjadi alumni Suaka.
Meski begitu, tidak semua teman memilih berhenti. Hampir setengah dari angkatanku memutuskan untuk melanjutkan kepengurusan di periode berikutnya. Mereka masih ingin berkarya, masih ingin memiliki rumah yang bisa menjadi tempat bertumbuh bersama. Menurutku keputusan mereka sangat berani, dan tentu saja itu adalah pilihan hidup yang patut dihargai.
Sementara itu, pikiranku saat memasuki akhir semester lebih banyak tertuju pada satu tujuan: menyelesaikan kuliah. Ada begitu banyak sidang yang harus kulalui dan berbagai tahapan yang harus kuselesaikan agar bisa mengejar cita-citaku menjadi seorang pengembang aplikasi sesuai jurusan yang kupilih.
Persahabatan di Suaka adalah salah satu hal yang paling membekas. Aku melihat begitu banyak orang yang benar-benar menjadi sahabat, bukan sekadar teman satu organisasi. Meski aku merasa belum sepenuhnya menjadi bagian dari lingkaran persahabatan itu karena waktuku yang terbagi ke banyak hal, aku tetap senang mengikuti perjalanan mereka.
Sampai sekarang aku masih melihat kabar mereka melalui media sosial. Aku menyaksikan karier mereka bertumbuh, melihat mereka membangun keluarga, merawat anak-anak mereka, hingga menekuni profesi yang mereka pilih. Rasanya hangat melihat semua itu.
Yang paling membanggakan, Suaka ternyata juga membuka banyak peluang karier. Tidak sedikit dari kami yang akhirnya bekerja di bidang yang berbeda dari jurusan kuliah. Profesi yang kami jalani justru lahir dari keterampilan yang dibentuk selama berorganisasi. Menurutku, itu adalah salah satu bukti bahwa pengalaman di organisasi bisa menjadi bekal yang sangat berharga.
Sampai hari ini aku masih bangga pernah menjadi bagian dari Suaka. Aku bersyukur pernah berproses, belajar, dan tumbuh menjadi lebih dewasa di sana. Semua pengalaman yang kulewati benar-benar menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan yang sesungguhnya.
Di Suaka aku belajar bekerja bersama orang-orang dari berbagai jurusan, dengan cara berpikir dan latar belakang yang berbeda. Tanpa kusadari, itulah gambaran dunia kerja yang akhirnya kuhadapi setelah lulus. Mungkin karena itulah, Suaka bukan hanya mengajarkanku cara menulis berita, tetapi juga mengajarkanku cara memahami manusia, bekerja sama, dan bertumbuh.
"Suaka bukan sekadar organisasi tempatku belajar menulis. Ia adalah rumah yang mengajarkanku tentang tanggung jawab, kebersamaan, dan keberanian untuk terus bertumbuh. Mungkin masa kepengurusanku telah usai, tetapi semua pelajaran yang kutemukan di sana akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku."


0 comments:
Posting Komentar