Semalam aku bermimpi. Mimpi yang sederhana, tetapi rasanya begitu nyata hingga beberapa saat setelah terbangun aku masih merasa berada di sana. Di dalam mimpi itu aku kembali ke kamar masa kecilku. Kasur tempatku tidur masih berada di sudut yang sama. Lemari, meja belajar, pajangan-pajangan kecil, sampai tempelan di dinding pun masih seperti yang kuingat. Rasanya seolah waktu berputar mundur dan membawaku kembali ke tahun 2010.
Tidak terasa, ternyata sudah enam belas tahun berlalu. Yang paling membuatku bahagia bukanlah melihat kamarnya, melainkan bisa merasakan kembali hangatnya rumah pada masa itu. Aku bertemu lagi dengan orang-orang yang begitu kusayangi, seolah kami tidak pernah dipisahkan oleh waktu.
Lalu perlahan terdengar suara yang membuyarkan semuanya. "Ayo bangun, salat Subuh."Suamiku menggoyangkan tanganku pelan.
Aku membuka mata sambil tersenyum kecil. Mimpi itu memang sudah berakhir, tetapi kehangatannya masih tertinggal. Rasanya seperti baru saja pulang dari sebuah perjalanan yang membawa banyak kenangan.
Sepanjang pagi, mimpi itu terus terlintas di kepalaku. Bukan karena aku ingin kembali ke masa lalu, tetapi karena mimpi itu membuatku bertanya-tanya tentang sesuatu yang belakangan sering kurasakan. Kenapa ya, suasana rumah sekarang terasa berbeda?
Awalnya aku mencoba mencari jawabannya ke mana-mana. Apa karena Bapak sudah tidak ada? Apa karena waktu yang terus berjalan? Atau memang rumah yang sekarang sudah tidak sama seperti yang dulu?
Kurasa pertanyaan seperti ini bukan hanya aku yang pernah merasakannya. Banyak orang yang setelah bertahun-tahun merantau, lalu pulang hanya sesekali, pernah merasa ada sesuatu yang berubah. Rumah yang dulu begitu dirindukan terasa sedikit asing. Kehangatannya masih ada, tetapi rasanya tidak lagi persis seperti yang tersimpan di dalam ingatan.
Semakin kupikirkan, semakin kusadari bahwa mungkin yang berubah bukanlah rumah itu. Rumah tetap berdiri di tempat yang sama. Orang-orang di dalamnya pun tetap menjalani hari-hari seperti biasanya. Mama masih menyiapkan makanan dengan caranya. Keluarga tetap berkumpul, mengobrol, dan menjalani rutinitas yang hampir tidak pernah berubah.
Sejak pertama kali meninggalkan rumah untuk kuliah, hidup membawaku belajar banyak hal. Aku mulai terbiasa hidup mandiri, mengatur semuanya sendiri, memahami arti memiliki ruang pribadi, dan perlahan membentuk cara pandang yang berbeda terhadap banyak hal.
Aku dibesarkan di keluarga yang sangat dekat. Bukan hanya tinggal bersama Mama, Papa, dan kakak, tetapi juga dikelilingi kakek, nenek, bibi, paman, om, dan tante yang rumahnya hanya dipisahkan oleh tembok.
Masa kecilku selalu ramai. Rasanya hampir tidak pernah ada hari yang sepi. Kami makan bersama, saling berkunjung tanpa perlu memberi kabar lebih dulu, mengobrol sampai malam, lalu kembali ke rumah masing-masing saat waktunya beristirahat.
Dulu aku mengira semua keluarga hidup seperti itu. Baru setelah dewasa aku menyadari bahwa setiap bentuk kebersamaan selalu memiliki sisi lain. Hangatnya keluarga besar memang tidak tergantikan, tetapi kedekatan itu juga membuat batas-batas pribadi menjadi begitu tipis. Barang sering berpindah tangan karena semua merasa itu milik bersama. Urusan seseorang kadang ikut menjadi urusan semua orang.
Lucunya, dulu semua itu terasa biasa saja. Sampai akhirnya aku mengambil cuti hamil yang cukup panjang dan kembali tinggal di rumah. Saat itulah aku mulai merasakan ada banyak hal yang harus kubiasakan lagi. Wajar juga, pikirku. Bagaimanapun, sudah dua belas tahun aku hidup jauh dari rumah.
Hal-hal yang dulu tidak pernah kupersoalkan, kini sesekali membuatku kurang nyaman. Cara menata barang, kebiasaan menjaga kebersihan, sampai hal-hal kecil yang berkaitan dengan kesehatan terasa berbeda dengan kehidupan yang selama ini kujalani di perantauan.
Beberapa kali aku sempat bertanya dalam hati, kenapa sekarang jadi begini? Namun semakin lama aku menyadari bahwa jawabannya bukan karena rumahku berubah. Akulah yang berubah. Pengalaman hidup di tempat lain, bertemu banyak orang, dan menjalani kehidupan yang berbeda tanpa sadar membentuk cara berpikirku menjadi seperti sekarang. Hal-hal yang dulu terasa biasa, kini kulihat dengan sudut pandang yang berbeda.
Meski begitu, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Rumah itu masih menjadi tempat yang selalu menungguku pulang. Masih ada Mama yang menyambut kedatanganku. Masih ada keluarga yang ingin mendengar cerita-ceritaku. Masih ada obrolan sederhana yang mungkin dulu terasa biasa, tetapi kini justru paling kurindukan.
Dari situlah aku belajar bahwa tidak semua hal harus tetap sama agar kita bisa merasa bahagia. Kadang, yang perlu berubah bukan rumahnya, bukan keluarganya, melainkan cara kita melihat semuanya.
Karena rumah bukan hanya tentang bangunan yang kita tinggalkan bertahun-tahun. Rumah adalah tempat di mana masih ada orang-orang yang selalu menerima kepulangan kita, apa pun versi diri kita hari ini. Maka kalau suatu hari nanti kamu merasa suasana rumahmu sudah berbeda, jangan buru-buru merasa kehilangan. Melainkan dirimu yang telah bertumbuh melalui begitu banyak perjalanan.
Saat pulang nanti, cobalah menikmati setiap momennya. Duduklah lebih lama bersama keluargamu. Nikmati masakan ibumu tanpa tergesa-gesa. Dengarkan cerita-cerita yang mungkin sudah sering diulang, karena suatu hari nanti justru cerita-cerita itulah yang akan paling kamu rindukan.
Namun selama masih ada rumah yang bisa kita tuju, masih ada keluarga yang menyambut dengan senyum, dan masih diberi kesempatan untuk berkumpul dalam keadaan sehat, mungkin itulah suasana yang sebenarnya selama ini kita rindukan.


0 comments:
Posting Komentar