image1 image2 image3

HELLO WORLD I'IAM ULFAH CHOIRUN NISSA|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|I LOVE TO DO CREATIVE THINGS|I'M PROFESSIONAL WEB DEVELOPER

Cerita Putih Abu

Kalau ada yang bertanya, masa apa yang paling sering membuatku tersenyum ketika dikenang, mungkin jawabanku adalah masa putih abu-abu. Bukan karena semua hari saat itu indah. Justru karena di sanalah aku pertama kali benar-benar belajar tentang kehidupan.

Sampai sekarang aku masih bisa membayangkan suasana setiap paginya. Langit yang cerah, pepohonan rindang yang mengelilingi sekolah, dan langkah kaki yang berlari tergesa-gesa mengejar bel masuk. Selalu ada rasa panik ketika gerbang hampir ditutup. Siapa yang terlambat harus siap menerima hukuman.

Lucunya, hukuman yang dulu terasa menyebalkan kini justru menjadi kenangan yang paling kurindukan. Berdiri di bawah terik matahari, mendengarkan nasihat guru, menyapu halaman sekolah bersama teman-teman. Saat menjalaninya rasanya ingin cepat selesai. Namun setelah dewasa, aku sadar bahwa semua itu adalah bagian kecil dari cerita yang membuat masa sekolah terasa begitu hidup.

Awalnya aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan bersekolah di SMK. Yang ada di pikiranku saat itu adalah mengikuti jejak keluarga dengan bersekolah di SMA yang sama seperti kakak dan papaku. Namun keputusan yang datang begitu cepat itu ternyata menjadi salah satu keputusan yang paling mengubah hidupku.

Tanpa kusadari, sekolah itu mempertemukanku dengan orang-orang yang nantinya menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupku. Bahkan profesi yang kujalani hari ini berawal dari keputusan sederhana yang dulu kupikir hanyalah memilih sekolah.

Mungkin karena terlalu sering menonton drama Korea dan Jepang, aku selalu percaya bahwa masa putih abu-abu tidak boleh dilewati begitu saja. Aku ingin memiliki cerita yang suatu hari bisa kukenang dengan senyuman. Karena itulah aku mulai memberanikan diri mencoba banyak hal.

Aku bergabung dengan organisasi, menjadi pengurus kelas, mengikuti berbagai kegiatan, hingga mencoba menjadi anggota Paskibra. Tidak semua pengalaman itu berjalan sesuai harapan. Ada tempat yang  sangat menyenangkan tapi ada juga tempat yang membuatku merasa tidak cocok karena aturan yang terasa terlalu mengekang bagi diriku yang lebih menyukai kebebasan.

Namun justru di situlah pelajarannya. Aku belajar bahwa menjadi dewasa bukan tentang selalu berada di tempat yang kita sukai. Terkadang kita perlu bertahan di situasi yang tidak nyaman agar mengenal kemampuan diri sendiri. Tidak semua pengalaman harus berakhir dengan rasa suka. Ada pengalaman yang hadir hanya untuk mengajarkan sesuatu, lalu selesai.

Kesibukan itu membuat hari-hariku terasa penuh. Pagi belajar, sore organisasi, malam baru pulang ke rumah. Ada waktu bersama keluarga yang tanpa sadar mulai berkurang. Ada rasa lelah yang sering datang, tetapi saat itu aku menikmatinya karena merasa sedang menjalani hidup yang benar-benar baru.

Kalau ada satu hal yang ingin kuulang, mungkin adalah caraku belajar. Saat itu aku terlalu mencintai dunia teknologi informasi hingga mengabaikan pelajaran lainnya. Aku berpikir, selama pelajaran itu bukan bidang yang kusukai, tidak masalah jika nilainya biasa saja. Baru ketika kuliah aku menyadari bahwa semua ilmu ternyata saling berkaitan. Tidak ada pelajaran yang benar-benar sia-sia.

Kini aku mengerti, masalahnya bukan karena aku tidak mampu belajar. Aku hanya terlalu cepat mengatakan, "Aku tidak suka pelajaran itu."

Padahal bisa jadi aku tidak pernah benar-benar mencoba memahaminya. Aku bahkan baru benar-benar serius belajar beberapa bulan sebelum Ujian Nasional. Saat melihat teman-teman yang berhasil masuk sekolah dan kampus impian mereka, aku sadar bahwa hasil besar lahir dari usaha yang juga besar. Tidak ada jalan pintas untuk itu.

Meski begitu, aku tidak pernah menyesali masa SMAku.

Karena ternyata tiga tahun itu mengajariku hal-hal yang jauh lebih luas daripada sekadar isi buku pelajaran. Aku belajar mengatur waktu,  bertanggung jawab, menerima perbedaan, bekerja sama dengan orang yang memiliki sifat berbeda, dan Belajar meminta maaf dan mengalah. Tapi yang paling penting adalah belajar untuk mengenal diriku sendiri.

Aku menemukan bahwa ternyata aku menyukai tantangan. Aku senang bertemu banyak orang. Aku menikmati proses mencoba sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Semua itu perlahan membentuk keberanian yang sampai hari ini masih kubawa.

Dan dari semua proses itu, ruang kelas menjadi tempat yang paling banyak menyimpan cerita. Di ruangan yang selalu ramai itu, kami bukan hanya datang untuk belajar, tetapi juga tumbuh bersama. Kami pernah bosan menunggu pergantian pelajaran, tertawa tanpa alasan, saling membantu mengerjakan tugas, berdebat karena jadwal piket, hingga bekerja keras menyukseskan berbagai acara kelas. Saat itu mungkin semua terasa biasa saja. Namun kini aku sadar, momen-momen sederhana itulah yang diam-diam menjadi kenangan paling berharga.

Nyatanya tidak semua teman akan berjalan bersama sampai akhir. Tidak semua pertemanan bertahan selamanya. Namun selalu ada beberapa orang yang tetap tinggal, bahkan setelah lima belas tahun berlalu. Dan bagiku, itu adalah salah satu hadiah terindah dari masa putih abu-abu.

Kini aku percaya, pelajaran terbesar yang kudapat selama tiga tahun itu bukanlah rumus, teori, atau nilai di rapor. Melainkan keberanian untuk mencoba. Karena sejak masa putih abu-abu itulah aku belajar bahwa hidup akan selalu dipenuhi pilihan, tantangan, dan ketidakpastian. Tidak semuanya akan berjalan sesuai rencana, tetapi setiap langkah yang berani diambil akan selalu meninggalkan pelajaran.

Mungkin itulah alasan mengapa masa putih abu-abu begitu sulit dilupakan. Bukan karena sekolahnya. Bukan karena seragamnya. Melainkan karena di sanalah, untuk pertama kalinya, aku mulai bertumbuh menjadi diriku sendiri.

Share this:

CONVERSATION

0 comments:

Posting Komentar