Egrang di Alun Alun Ujung Berung


UlfahLawliet – Sore hari yang dirindukan oleh anak – anak yang lahir ditahun 96/95. Begitu banyak anak kecil yang bermain dengan gembira, mereka semua lupa akan modrenisasi yang sedang merajalela.
Aku dengan kelima teman kampus ku, menghabiskan sore hari disana, ada begitu banyak permainan tradisional yang disewakan, seperti engrang,bakiak,kuda lumping, dengan hanya membayar dua ribu rupiah kita sudah bisa menikmati suasana masa lalu . Gelak tawa dan kebahagian terpancar dalam raut wajah kita semua. Semua seakan hayut kedalam masa kecil yang kita rindukan. Salma dan Sam yang terus – terusan mencoba maen Engrang, aku reza resi dan tika yang balapan bakiak bareng anak – anak SD.


Aku sempat mengobrol dengan beberapa anak yang sering maen di alun alun, mereka mengaku bahwa sepulang harinya selalu berlatih bermain egrang disini, selain itu juga  mereka berlatih bermain kuda lumping dan bakiak. Semua itu dikelola oleh Pa Sudarman, atau lebih akrab disapa Pa Joyo, setiap sore ia mulai menglatih anak – anak disana untuk bisa menaiki dan menjalankan egrang, selain itu dia juga merupakan pelatih egrang nasional.


Ternyata tidak mudah untuk bisa menggunakan egrang, aku sudah mencoba tetapi masih sajah tidak bisa, aku kalah dengan anak anak SD yang menaiki Egrang yang tingginya hampir setengah meter. Disana aku juga menemukan anak yang unik bernama Rizal dia adalah anak kelas enam SD yang setiap sore pasti bermain disini. Ia sering bermain dengan teman – temannya, kita banyak mengobrol dengan nya, dia juga memberi tahu kita bahwa dia bisa bernyanyi dangdut dengan sangat baik.




0 komentar: